Karena di rumah sedang mati lampu, saya pun memutuskan untuk ke tempat favorite saya untuk mencari inspirasi, Gramedia. Saya tertarik pada sebuah buku kecil tentang Manajemen Waktu. Sampai saya baca di resume di belakang buku ada kalimat “Hukum Parkinson dalam Manajemen Waktu“. Hmm… sepertinya tidak asing… maka saya pun mengintip isi buku tersebut. Dan ternyata… *jreeeng!* isinya serupa… tapi sama dengan postingan saya di sini. Coba saja bandingkan (click pada gambar untuk memperbesar tampilan).
Di buku tersebut memang nama orang yang ada di sampul buku ditulis sebagai “Penyusun”, bukan “Penulis”. Dan memang, setelah saya coba seach di Google, ternyata buku itu isinya hasil copy & paste dari tulisan-tulisan yang ada di internet. Tapi tetap saja… tulisan blog juga hasil karya cipta. Mencantumkan tulisan orang lain tanpa izin dan tanpa credit penulisnya apalagi menjadi sebuah buku (yang notabene dijual) jelas tidak benar. Apalagi di daftar pustaka yang tercantum sebagai sumber rujukan adalah situs seperti kapanlagi.com atau google.com. Oh my God…!
Saya coba mencari kontak email atau telepon penulis maupun penerbit, namun tidak ada pada buku. Begitu juga ketika saya cari di Google maupun Facebook. Nihil! Bukannya mau nuntut, sekedar mengingatkan… apa susahnya sih minta izin dan mencantumkan nama penulis maupun sumbernya dengan benar?
Hal seperti ini jelas bukan yang pertama. Sutradara Iman Brotoseno juga pernah mengalami hal serupa (baca: Tulisan saya dijiplak dan dibuat Buku!). Begitu juga Cosa Aranda, Didi Suprapta dan entah siapa lagi.
Muncul sebuah pertanyaan, apakah UU ITE juga melindungi tulisan-tulisan pada blog yang dijiplak dan diterbitkan tanpa izin menjadi sebuah buku yang hak ciptanya dilindungi oleh undang-undang?



43 Comments
Duhhh… sakitnya Ded. Bagaimana ya rasanya milik kita dirampas orang… I am very concerned and feel your pain..!
ngga terlalu sakit sih dok. gregetan aja… hehe…
padahal apa susahnya yach. kasih credit toh sebagai sumber kita ga nuntut banyak-banyak cuma sebuah penghargaan dengan di cantumkan nama. mungkin takut loyalitynya berkurang kali. apa penerbitnya asal kerja tayang.
itu dia… padahal saya juga ga minta royalti. minta izin dan mencantumkan nama penulis saya pikir sudah merupakan suatu apresiasi terhadap hasil karya seseorang…
yeah kasus ini bukan 1 atau 2 kasus yang ada di negeri ini, atau di dunia ini… seperti halnya pencurian foto yang kemudian dimuat di surat kabar, ataupun majalah.
walau mencantumkan kredit title, tapi kalau tidak meminta ijin lebih dulu sama aja bo’ong.
pernah suatu kali ada pernyataan menarik dari Arbain Rambey, seorang fotografer senior harian Kompas, di suatu workshop beliau mengatakan, ‘kalau Anda menaruh foto di Internet, itu berarti anda siap bila foto anda dicolong orang lain’. Nah lho!
ada juga kasus pencurian foto seperti itu ya, Ndre? Klo foto masih mending karena bisa “dilapisi” pake watermark. Atau resolusinya yang dikecilin sehingga tidak layak cetak.
Lha… kalau tulisan?
Luar biasa, plagiator yang sukses… Kayaknya berhak banget kalo mengajukan tuntutan plagiat lho dok, buktinya dari tanggal aja, kalo yang belakangan berarti dia yang njiplak. Ini tidak cuma UU ITE, tapi juga HAKI. Gimana dok?
Kalau tanggal sih nga bisa dipakai bukti karena bisa aja tanggal pada blog diubah. Lucunya ada kalimat yang ikut ter-copy tanpa diedit terlebih dahulu:
“Mungkin sebuah contoh untuk Hukum Parkinson ini adalah kejadian yang saya alami akhir Juli lalu.”
Nah, kejadian akhir Juli itu ada link-nya lhoo…
Trus ada juga yang bahas tentang “review berbayar”. Kok tiba2 ngomongin review berbayar? Jadi aneh kan?
memang keterlaluan ya! ini termasuk resiko jadi penulis yang baik, diplagiat! dan anehnya itu buku koq ga ada info penerbitnya ya dok..
info penerbitnya ada. tapi sepertinya ga lengkap gitu karena ga ada nama jalan atau nomornya. Atau memang begitu ya? penerbitnya dari Yogyakarta.
Tuntut Ded. Kamu pasti punya kan koneksi jaksa atau media >)
Walau gak ada nama penerbitnya, pasti bisa dilacak. Gramedia nya di minta usut, distributed dari mana itu buku dll dll.
Begitu ketemu langsung gebukin muka ‘penyusun’ nya pake pinggiran buku tersebut
Wew… ga pake tuntut2anlah. Buang-buang waktu. Mending energi positivi dipake buat nulis. Lagian ngapain pake koneksi jaksa atau media segala? Emang mau makelar kasus, Ka? hehe…
Nama penerbitnya ada, alamatnya juga ada. Tapi sepertinya ga lengkap, atau memang begitu ya…
Artikel blog saya juga pernah dicopas (oleh seorang blogger sih).
Setuju banget kalo undang-undang ITE harusnya juga melindungi upaya pembajakan karya cipta di dunia online. Jangan cuma ngurusin curhat orang yang dianggap mencemarkan nama baik
dijadiin buku juga? Blogger makan blogger? Hmm…
klo tulisan dicopas di blog, tulisan blog ini juga uda cukup banyak yang dicopas. Tapi jadi buku tumben2an nih
Kalo kasusnya Mas Imam kan penulis n penerbitnya akhirnya minta maaf kan ya? Kalo saya nggak lupa baca diblognya.
Dokter bisa juga tuh minta penyusun n penerbitnya mengakui…
sudah ketemu kepala penerbitnya. sudah dikontak tapi belum ada respon…
astaga, google dijadikan rujukan?
udah coba nanya via gramedia nya dok? siapa tau mereka berbaik hati ngasi info
masih berusaha menghubungi penerbitnya son. ketemu nih di fb, tapi ya itu… belum direspon…
Waduh…kayaknya aku harus lebih hati2 ini…siapa tahu ntar kelupaan nyantumin penulisnya mah…repot jadinya….makasih infonya
loh… penulis buku? yah… musti dibiasakan mencantumkan sumbernya. tapi yang benar ya…. jangan google.com
wah… satu korban lagi.. berikutnya siapa ya?
jangan2 berikutnya bli Wira. apalagi blognya berisi tips2 wordpress gitu, kan buku-buku wp lagi ngetrend
ngeri banget ya dok….ketika kita sudah peras otak, keluarin keringat untuk menghasilkan karya, eh……begitu mudahnya orang menjiplak.
tapi ngomong2 saya pernah nulis artikel di blog tentang alexa dan itu termotivasi dari tulisan dokter, tapi say sdh kasih trackbacknya koq. g pa2 kan?
kalau untuk blog sih gpp, saya juga terinspirasi dari tulisan-tulisan orang kok… tapi kemudian saya resume-kan.
Ciu Deddy sih tulisannya bagus bagus, jadi dicontek orang deh ; ) … moga orang itu nyadar diri yaaa
ebat ni Kevin uda bisa baca tulis…
yang nerbitin juga mesti disalahkan nih…
kayanya gampang banget nerbitkan buku tanpa dicek asal usulnya..
kalau sumbernya asal copas dari internet..adik saya yg masih sd juga bisa buat buku…
urggghhhhhh…kesel!!
iya, tergantung penerbit juga. mungkin kalau penerbit besar tulisan itu ga nembus kali ya…
masih ada yah pembajakan hak cipta
kita sudah terbiasa dengan pembajakan. pake operating sistem bajakan, nyari crack di internet, download mp3, movie… ect… welcome to Indonesia!
sungguh ironis sekali bos
kadang itu yang membuat kita males nulis dengan memeras otak, mending kopas aja terus seo in
kalau buku di kopi paste cape juga yah mas
Parah tuh !! Mungkin di kira ga bakal ada yang tahu atau ga ada merhatiin,makannya seenak udelnya aja.
Memang plagiat semacam itu harusnya tahu diri,jangan asal main comot saja
klo mirip2 seh masih mending … dan sekedar referensi juga gpp, tp klo sampai sama dan tidak dicantumkan, bener2 karya cipta yang dibajak neh
ada ada aja ya kasus pencuriannya
waduh,gimana ni klw dh kyk gini… ko bisa yh
saya tuh juga pernah ngejiplak dok, cuman saya tulis ulang dan nyantumin sumbernya, untuk bahan blog saya. pernah saya copas mentah2 dari LA Times walaupun sumber saya cantomkan, gak lama editornya langsung ngimel saya dan marah2 haha. kapok saya. emang sakit rasanya dicopas, apalagi untuk dikomersilkan. saya pernah juga ngerasain RSS Feed blog saya ditembak. jadi ya semua postingan saya keposting diblognya dia. ancur deh. UU ITE prasaan selalu bikin pelaku internet terpojok, gak pernah ada positifnya
Turut prihatin, Mas Andika. Urusan jiplak menjiplak memang membuat kita jadi tidak nyaman menulis. Apalagi kalau dijiplak dan dikomersialkan, tentu tidak akan rela. Saya turut prihatin. Kejadian seperti ini sama-sama kita alami. Saya juga pernah artikel saya yang membahas tentang PLN, saya tulis berdasarkan pengalaman saya sebagai engineer (profesi saya) selama belasan tahun, dicopas oleh belasan blogger. Dipakai nyari duit di internet.
Semoga kreatifitas tidak menjadi mati dengan maraknya jiplak menjiplak seperti ini.
Maaf, Mas Deddy Andaka. Saya kok jadi salah sebut nama anda.
Wah banyak korban nih…, apa karena semakin banyak tulisan di internet yang bagus orang menjadi malas berkreasi menulis idenya sendiri ya. Berarti tulisan ini bagus.
Atau mungkin karena tidak semua orang menyetujui adanya Blog dan Hak yang diakui?
One Trackback
[...] Kopi-Paste tulisan blog orang itu juga suatu hal yang bodoh, seperti yang dialami si Deddy dengan tulisannya yang dicuri. (Tetaplah berkarya Ded! [...]