Sandal Jepit dan Profesionalisme Dokter

by Deddy Andaka on May 1, 2011

Hari ini dokter muda di RS Sanglah dihebohkan dengan insiden sandal jepit. Banyak teman-teman yang tidak lagi mengikuti perkembangan RS Sanglah menanyakan insiden ini di Twitter dan Facebook. Agar tidak menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, maka saya putuskan untuk menuliskannya di blog.

Semua bermula dari sebuah berita berjudul, “Bila Warga Mulai Gerah Lihat Ulah Dokter Muda Bekerja dengan Sandal Jepit. Aturan Internal Lemah, Ikuti Jejak Senior“, yang dimuat di salah satu surat kabar di Bali. Setelah membaca berita tersebut, saya merasa perlu sedikit berkomentar karena merasa ada beberapa hal yang kurang pas dengan kenyataan yang ada. Untuk mempermudah, komentar saya akan saya cantumkan dalam quote box langsung di bawah artikel yang ingin saya komentari. Sebagai catatan, segala komentar adalah bersifat pribadi, bukan dari institusi terkait. Ok, begini artikelnya:

Bila Warga Mulai Gerah Lihat Ulah Dokter Muda Bekerja dengan Sandal Jepit. Aturan Internal Lemah, Ikuti Jejak Senior

Tak banyak yang memperhatikan, bagaimana dokter-dokter muda di sejumlah rumah sakit milik pemerintah bekerja. Hampir setiap hari, para dokter yang bertugas menangani pasien ini bekerja hanya mengenakan sandal. Meski jarang yang protes, ternyata perilaku tidak sedap dipandang mata ini membuat gerah beberapa warga pengunjung rumah sakit.

Percayalah, saat bekerja dokter dan dokter muda tidak hanya mengenakan sandal. Mereka juga mengenakan baju dan celana kok. Hehe… *santai dulu donk biar ga terlalu serius dot com*. Sandal (jepit) digunakan saat tugas jaga (biasanya setelah jam 1 siang), itu pun dengan baju jaga. Jadi jangan pikir di poliklinik atau UGD kami menggunakan jas putih, celana panjang, dan sandal jepit *ga matching dunk!*

IDEALNYA, instansi pelayanan masyarakat berbasis jasa harus mengedepankan profesionalisme dalam memberi pelayanan.  Profesionalisme sendiri diyakini tidak hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan yang dijalani, termasuk semua aspek pendukung. Salah satunya penampilan. Sayangnya, standarisasi ini tidak dipegang sepenuhnya oleh kalangan dokter di hampir semua rumah sakit milik pemerintah.

Tidak hanya di instansi pelayanan masyarakat, semua pekerjaan harus mengedepankan profesionalisme. Dokter, Polisi, Guru, Artis, Pelukis, juga Wartawan. Memang penampilan penting, tapi bukan segalanya. Polisi adalah salah satu pelayan masyarakat. Tugas mereka berat dan mereka tidak selalu harus menggunakan baju kebesaran dalam setiap tugas-tugas mereka. Ada kalanya mereka menggunakan baju santai dalam tugasnya. Haruskah semua Polisi berpenampilan menarik seperti Briptu Norman atau Briptu Eka Frestya?

Tengok saja perilaku puluhan dokter dan dokter co-ass (dokter magang) yang bertugas di RS Sanglah. Bila diperhatikan, setiap bertugas, para dokter di rumah sakit terbesar di Bali ini melayani pasien alakadarnya. Mau bukti? Perhatikan saja penampilan mereka, terutama dari alas kaki. Saat berada di ruang perawatan, IRD misalnya, sulit dibedakan antara ruang perawatan dengan toilet umum.

Ya Tuhan… Karena kami bersandal jepit dijadikan bukti bahwa kami melayani pasien alakadarnya? Hubungan dengan toilet ini apa pula? Apakah orang bersandal jepit hanya ke toilet?

Lalu… sulit membedakan IRD dan toilet umum? Yang benar saja!!! Pernah lihat toilet yang ada selang oksigennya?

Lho, kok bisa? Seperti sudah diajarkan turun-temurun, para dokter yang bertugas, termasuk dokter magang yang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter berpenampilan ala pengunjung toilet. Hampir semua dari mereka hanya mengenakan sandal selama di areal rumah sakit, baik di saat jam istirahat makan, ke toilet, maupun di ruang perawatan saat menangani pasien. Parahnya, tidak sedikit diantaranya yang mengenakan sandal jepit murahan yang biasa ditemukan di toilet-toilet umum.

Izinkan saya menghela nafas sejenak…

Saya bingung, “berpenampilan ala pengunjung toilet?”. Adakah penampilan khusus untuk ke toilet?!! Kalau saya sih, misalnya lagi di mall dan kebelet kencing, ya saya tinggal cari toilet umum untuk kencing. Saya tidak perlu repot-repot ganti kostum dan sandal jepit untuk ke toilet!

Lalu… dokter magang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter? Kata siapa? Dokter muda itu punya andil besar. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya tanpa mereka. Mereka mendorong pasien ke ruang radiologi itu bukan hanya sekedar “tukang dorong”. Dengan melihat, mereka belajar alat penunjang diagnosis itu seperti apa, bagaimana mengerjakannya, bagaimana menilai hasilnya…

Mereka memasang infus, memasang kateter, memasang NGT, semua itu adalah bekal mereka jika nanti mereka harus bertugas di tempat-tempat terpencil. Dan catat: mereka tidak serta merta mengerjakan semua itu begitu saja. Sebelum menjalani sebagai dokter muda, mereka telah melewati masa praklinis 4 tahun! Bukan waktu yang singkat untuk sekedar menjadi “tukang suruh” dokter.

Lalu sandal jepit murahan? Hey… Meski saya memakai sandal Crocs yang mahal *uhuk!*, apa salahnya kalau saya memakai sandal jepit murahan? Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter yang menggunakan sandal jepit mahal lebih baik pelayanannya dibanding dokter yang menggunakan sandal jepit murahan. Brand minded ni yeeee…

“Ngga tahu dengan yang lain, saya pribadi melihat itu (dokter bersandal, Red) sebagai bentuk penghinaan, karena saya dilayani dengan hanya pakai sandal jepit,” tukas salah seorang pengunjung yang tengah menunggui keluarganya dirawat, kemarin (24/4). Menurutnya, para dokter sama sekali tidak menghargai pasien dan keluarga pasien dengan hanya bersandal jepit. “Tentu saja itu bentuk peremehan buat pengunjung, mentang-mentang rumah sakit negeri, bayarnya murah. Jadi dokternya cuma pakai sandal,” keluhnya, yang mengaku berasal dari Gianyar.

Hanya pendapat pribadi dari satu orang. Sudah sempat tanya 10 orang ga? Mengapa pemberitaan ini sangat tidak berimbang?

Saat koran ini mencari tahu alasan para dokter mengenakan sandal saat bertugas, ada kesan perilaku itu hanya gaya-gayaan para dokter yang merasa profesinya bergengsi. Beberapa dokter dan dokter co-ass sendiri pun mengaku tidak ada aturan atau anjuran mengenakan sandal saat bertugas.

Dari pada bergaya dengan sandal jepit lebih baik saya bergaya dengan menenteng iPad 2. Itu baru gaya, bung! Saya pribadi sih tidak merasa dokter itu profesi yang bergengsi. Jujur aja, tanggung jawab sebagai dokter itu berat… risiko pekerjaannya besar… dan memang benar, tidak ada aturan atau anjuran mengenakan sandal saat tugas, so?

“Ngga ada pertimbangan lain, apalagi pertimbangan medis, karena memang sudah jadi kebiasaan,” aku salah seorang dokter co-ass yang minta namanya tidak dikorankan. Celakanya, mahasiswa FK Unud angkatan 2006 ini mengaku kebiasaan itu sudah menjadi standar para dokter saat bertugas. “Supaya lebih simpel dan bebas bergerak saja waktu bertugas,” tukasnya enteng. Dan kebiasaan ini menurutnya sudah dilakukan oleh dokter-dokter terdahulu, kemudian diteruskan oleh para dokter muda.

“Selama ini belum pernah ada orang komplain,” sahut dokter co-ass lainnya.

Standar sih ngga, tapi kebiasanya bisa jadi. Coba bayangkan, kami itu tugas dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang pakai sepatu. Yang tugas jaga… akan lanjut di rumah sakit dari jam 1 siang sampai jam 7 pagi. Setelah itu sambung lagi tugas pagi sampai jam 1 siang. Kebayang kalau harus 30 jam non stop pakai sepatu? Jadi apa salahnya kalau saat jaga itu menggunakan sandal jepit?

Lebih simpel dan bebas bergerak juga benar. Kebayang kalau jaga pake high heels dan harus lari-lari karena ada pasien gawat darurat?

Setahu saya memang benar belum pernah ada yang komplain. Selamat, Anda yang pertama!

Sebagian warga mulai gerah dengan pemandangan ini  mengharapkan rumah sakit melakukan pembenahan terhadap standarisasi pelayanana  di RS Sanglah. Tak hanya kualitas pelayanan, penampilan para dokter juga diminta agar diperhatikan, agar tidak seenaknya saat melayani pasien. “Terhadap pasien masyarakat bawah pun seharusnya merekan menunjukkan rasa empati, bukan seenaknya begitu, gimana kalau pas ketemu pasien dari kalangan keluarga terpadang, terus mereka merasa disepelekan karena dokternya pakai sandal,” lanjut pria asal Gianyar tadi yang juga minta agar identitiasnya tidak disebut (yog/rdr).

Mungkin perlu sedikit ralat, bukan sebagian warga, tapi sebagian kecil warga. Dan semoga bukan karena bersandal jepit ini kami dianggap seenaknya saat melayani pasien. Kami tidak memilih-milih pasien. Dari masyarakat bawah sampai keluarga terpandang, bahkan ada pejabat. Syukurnya ga ada yang komplain tentang sandal jepit.

Rasanya RS Sanglah cukup welcome kok dengan kritik. Makanya ada kotak saran di beberapa tempat.

-oOo-

Nah, mari sekarang mengambil sisi positifnya… Tulisan di atas adalah “teguran” bagi dokter dan dokter muda, bahwa meski kita juga manusia, sama seperti mereka… namun ternyata tuntutan masyarakat sangat tinggi. Seperti halnya selebritis, dokter dan dokter muda harus tetap tampil sempurna.

Bagaimana menurut Anda tentang insiden sandal jepit ini? Komentar, saran, kritik dipersilakan. Yang penting kepala tetep adem ya…

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.0/10 (26 votes cast)
Sandal Jepit dan Profesionalisme Dokter, 9.0 out of 10 based on 26 ratings

{ 233 comments… read them below or add one }