Hari ini dokter muda di RS Sanglah dihebohkan dengan insiden sandal jepit. Banyak teman-teman yang tidak lagi mengikuti perkembangan RS Sanglah menanyakan insiden ini di Twitter dan Facebook. Agar tidak menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, maka saya putuskan untuk menuliskannya di blog.

Semua bermula dari sebuah berita berjudul, “Bila Warga Mulai Gerah Lihat Ulah Dokter Muda Bekerja dengan Sandal Jepit. Aturan Internal Lemah, Ikuti Jejak Senior“, yang dimuat di salah satu surat kabar di Bali. Setelah membaca berita tersebut, saya merasa perlu sedikit berkomentar karena merasa ada beberapa hal yang kurang pas dengan kenyataan yang ada. Untuk mempermudah, komentar saya akan saya cantumkan dalam quote box langsung di bawah artikel yang ingin saya komentari. Sebagai catatan, segala komentar adalah bersifat pribadi, bukan dari institusi terkait. Ok, begini artikelnya:
Bila Warga Mulai Gerah Lihat Ulah Dokter Muda Bekerja dengan Sandal Jepit. Aturan Internal Lemah, Ikuti Jejak Senior
Tak banyak yang memperhatikan, bagaimana dokter-dokter muda di sejumlah rumah sakit milik pemerintah bekerja. Hampir setiap hari, para dokter yang bertugas menangani pasien ini bekerja hanya mengenakan sandal. Meski jarang yang protes, ternyata perilaku tidak sedap dipandang mata ini membuat gerah beberapa warga pengunjung rumah sakit.
Percayalah, saat bekerja dokter dan dokter muda tidak hanya mengenakan sandal. Mereka juga mengenakan baju dan celana kok. Hehe… *santai dulu donk biar ga terlalu serius dot com*. Sandal (jepit) digunakan saat tugas jaga (biasanya setelah jam 1 siang), itu pun dengan baju jaga. Jadi jangan pikir di poliklinik atau UGD kami menggunakan jas putih, celana panjang, dan sandal jepit *ga matching dunk!*
IDEALNYA, instansi pelayanan masyarakat berbasis jasa harus mengedepankan profesionalisme dalam memberi pelayanan. Profesionalisme sendiri diyakini tidak hanya didasarkan pada kualitas pekerjaan yang dijalani, termasuk semua aspek pendukung. Salah satunya penampilan. Sayangnya, standarisasi ini tidak dipegang sepenuhnya oleh kalangan dokter di hampir semua rumah sakit milik pemerintah.
Tidak hanya di instansi pelayanan masyarakat, semua pekerjaan harus mengedepankan profesionalisme. Dokter, Polisi, Guru, Artis, Pelukis, juga Wartawan. Memang penampilan penting, tapi bukan segalanya. Polisi adalah salah satu pelayan masyarakat. Tugas mereka berat dan mereka tidak selalu harus menggunakan baju kebesaran dalam setiap tugas-tugas mereka. Ada kalanya mereka menggunakan baju santai dalam tugasnya. Haruskah semua Polisi berpenampilan menarik seperti Briptu Norman atau Briptu Eka Frestya?
Tengok saja perilaku puluhan dokter dan dokter co-ass (dokter magang) yang bertugas di RS Sanglah. Bila diperhatikan, setiap bertugas, para dokter di rumah sakit terbesar di Bali ini melayani pasien alakadarnya. Mau bukti? Perhatikan saja penampilan mereka, terutama dari alas kaki. Saat berada di ruang perawatan, IRD misalnya, sulit dibedakan antara ruang perawatan dengan toilet umum.
Ya Tuhan… Karena kami bersandal jepit dijadikan bukti bahwa kami melayani pasien alakadarnya? Hubungan dengan toilet ini apa pula? Apakah orang bersandal jepit hanya ke toilet?
Lalu… sulit membedakan IRD dan toilet umum? Yang benar saja!!! Pernah lihat toilet yang ada selang oksigennya?
Lho, kok bisa? Seperti sudah diajarkan turun-temurun, para dokter yang bertugas, termasuk dokter magang yang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter berpenampilan ala pengunjung toilet. Hampir semua dari mereka hanya mengenakan sandal selama di areal rumah sakit, baik di saat jam istirahat makan, ke toilet, maupun di ruang perawatan saat menangani pasien. Parahnya, tidak sedikit diantaranya yang mengenakan sandal jepit murahan yang biasa ditemukan di toilet-toilet umum.
Izinkan saya menghela nafas sejenak…
Saya bingung, “berpenampilan ala pengunjung toilet?”. Adakah penampilan khusus untuk ke toilet?!! Kalau saya sih, misalnya lagi di mall dan kebelet kencing, ya saya tinggal cari toilet umum untuk kencing. Saya tidak perlu repot-repot ganti kostum dan sandal jepit untuk ke toilet!
Lalu… dokter magang hanya berperan sebagai “tukang suruh” dokter? Kata siapa? Dokter muda itu punya andil besar. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya tanpa mereka. Mereka mendorong pasien ke ruang radiologi itu bukan hanya sekedar “tukang dorong”. Dengan melihat, mereka belajar alat penunjang diagnosis itu seperti apa, bagaimana mengerjakannya, bagaimana menilai hasilnya…
Mereka memasang infus, memasang kateter, memasang NGT, semua itu adalah bekal mereka jika nanti mereka harus bertugas di tempat-tempat terpencil. Dan catat: mereka tidak serta merta mengerjakan semua itu begitu saja. Sebelum menjalani sebagai dokter muda, mereka telah melewati masa praklinis 4 tahun! Bukan waktu yang singkat untuk sekedar menjadi “tukang suruh” dokter.
Lalu sandal jepit murahan? Hey… Meski saya memakai sandal Crocs yang mahal *uhuk!*, apa salahnya kalau saya memakai sandal jepit murahan? Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dokter yang menggunakan sandal jepit mahal lebih baik pelayanannya dibanding dokter yang menggunakan sandal jepit murahan. Brand minded ni yeeee…
“Ngga tahu dengan yang lain, saya pribadi melihat itu (dokter bersandal, Red) sebagai bentuk penghinaan, karena saya dilayani dengan hanya pakai sandal jepit,” tukas salah seorang pengunjung yang tengah menunggui keluarganya dirawat, kemarin (24/4). Menurutnya, para dokter sama sekali tidak menghargai pasien dan keluarga pasien dengan hanya bersandal jepit. “Tentu saja itu bentuk peremehan buat pengunjung, mentang-mentang rumah sakit negeri, bayarnya murah. Jadi dokternya cuma pakai sandal,” keluhnya, yang mengaku berasal dari Gianyar.
Hanya pendapat pribadi dari satu orang. Sudah sempat tanya 10 orang ga? Mengapa pemberitaan ini sangat tidak berimbang?
Saat koran ini mencari tahu alasan para dokter mengenakan sandal saat bertugas, ada kesan perilaku itu hanya gaya-gayaan para dokter yang merasa profesinya bergengsi. Beberapa dokter dan dokter co-ass sendiri pun mengaku tidak ada aturan atau anjuran mengenakan sandal saat bertugas.
Dari pada bergaya dengan sandal jepit lebih baik saya bergaya dengan menenteng iPad 2. Itu baru gaya, bung! Saya pribadi sih tidak merasa dokter itu profesi yang bergengsi. Jujur aja, tanggung jawab sebagai dokter itu berat… risiko pekerjaannya besar… dan memang benar, tidak ada aturan atau anjuran mengenakan sandal saat tugas, so?
“Ngga ada pertimbangan lain, apalagi pertimbangan medis, karena memang sudah jadi kebiasaan,” aku salah seorang dokter co-ass yang minta namanya tidak dikorankan. Celakanya, mahasiswa FK Unud angkatan 2006 ini mengaku kebiasaan itu sudah menjadi standar para dokter saat bertugas. “Supaya lebih simpel dan bebas bergerak saja waktu bertugas,” tukasnya enteng. Dan kebiasaan ini menurutnya sudah dilakukan oleh dokter-dokter terdahulu, kemudian diteruskan oleh para dokter muda.
“Selama ini belum pernah ada orang komplain,” sahut dokter co-ass lainnya.
Standar sih ngga, tapi kebiasanya bisa jadi. Coba bayangkan, kami itu tugas dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang pakai sepatu. Yang tugas jaga… akan lanjut di rumah sakit dari jam 1 siang sampai jam 7 pagi. Setelah itu sambung lagi tugas pagi sampai jam 1 siang. Kebayang kalau harus 30 jam non stop pakai sepatu? Jadi apa salahnya kalau saat jaga itu menggunakan sandal jepit?
Lebih simpel dan bebas bergerak juga benar. Kebayang kalau jaga pake high heels dan harus lari-lari karena ada pasien gawat darurat?
Setahu saya memang benar belum pernah ada yang komplain. Selamat, Anda yang pertama!
Sebagian warga mulai gerah dengan pemandangan ini mengharapkan rumah sakit melakukan pembenahan terhadap standarisasi pelayanana di RS Sanglah. Tak hanya kualitas pelayanan, penampilan para dokter juga diminta agar diperhatikan, agar tidak seenaknya saat melayani pasien. “Terhadap pasien masyarakat bawah pun seharusnya merekan menunjukkan rasa empati, bukan seenaknya begitu, gimana kalau pas ketemu pasien dari kalangan keluarga terpadang, terus mereka merasa disepelekan karena dokternya pakai sandal,” lanjut pria asal Gianyar tadi yang juga minta agar identitiasnya tidak disebut (yog/rdr).
Mungkin perlu sedikit ralat, bukan sebagian warga, tapi sebagian kecil warga. Dan semoga bukan karena bersandal jepit ini kami dianggap seenaknya saat melayani pasien. Kami tidak memilih-milih pasien. Dari masyarakat bawah sampai keluarga terpandang, bahkan ada pejabat. Syukurnya ga ada yang komplain tentang sandal jepit.
Rasanya RS Sanglah cukup welcome kok dengan kritik. Makanya ada kotak saran di beberapa tempat.
-oOo-
Nah, mari sekarang mengambil sisi positifnya… Tulisan di atas adalah “teguran” bagi dokter dan dokter muda, bahwa meski kita juga manusia, sama seperti mereka… namun ternyata tuntutan masyarakat sangat tinggi. Seperti halnya selebritis, dokter dan dokter muda harus tetap tampil sempurna.
Bagaimana menurut Anda tentang insiden sandal jepit ini? Komentar, saran, kritik dipersilakan. Yang penting kepala tetep adem ya…





{ 228 comments… read them below or add one }
← Previous Comments
kalo emg harus berdiri lama sih wajar klo pake sandal jepit. tp emg kesannya lbh rapi kalo pake sepatu/sepatu sandal
sebenarnya masalah seperti itu ga usah terlalu di perdebatkan,yang penting adalah para dokter tetap bersikap profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien,terlepas itu pasien berduit ataupun tidak
wah bagus juga itu!!! negara kita akan bisa maju dg produksi yang banyak
berarti dokternya tidak menghargai pasien, jangan mentang2 pasiennya rakyat kecil. coba di rumah sakit sekelas RSPP, pasti ga ada dokter yang berani pake sendal jepit
Sebenarnya tergantung keadaan.
Sandal jepit punya beberapa keunggulan dibanding sepatu (yang bisa nandingi cuma crocs):
1. Sandal jepit lebih praktis, mudah pake dan lepas.
2. sandal jepit lebih mudah dibersihkan (tinggal siram aja pake air)
3. di beberapa tempat, disediakan sendal jepit untuk ganti sepatu dokter, (co: ICU, Ruang operasi, PBRT) sehingga alas kaki yang dipakai lebih bersih n kecenderungan menyebarkan bakteri lebih kecil.
4. Sandal jepit menjerat lebih sedikit debu dibanding sepatu dan sandal lain dari kain.
pengalaman saya
http://jalalcahsangar.blogspot.com/2011/06/di-keluarkan-dari-ruangan-gara2-sandal.html
pass SNMPTN
kesannya lebih rapi kalo tidak pake sendal jepit. Tapi yang paling penting kalopun pake sandal jepit tidak mengurangi kwalitas pelayanan kepada pasien…
jangan liat orang dari penampilan, cobalah liat dari kemampual dan skill nya
emz bner bgt jgn melihat seseorang dari penampilan/luar’y z.
gx msalah khn wlpn seorang dokter memakai sendal jepit jg…
jgn melihat penampilan luar nya saja…tpi lihat lah kinerja dy gmn?
GTU AJA REPOT…jgn bertengkar yg tak pasti…
itu baru sandal, ga bisa bayangin saya kalau para pak dokter itu pakai baju santai seperti di pantai
Jadi inget waktu pertukaran pelajar pelajar ke Jerman. Ko as sana pada follow up pagi pake kaos oblong, celana kolor 3/4, rambuta acak2 an abis bangun tidur ga mandi ( ini versi paling parah ) . tetep pake sepatu sih. wkwkwk. Standar kita ternyata tinggi ya!
mungkin kalo pk sendal lbh leluasa. . .
tp ini mengenai etika. . .
ke sekolah saja mesti pake sepatu.
info yang bagus. . .
mungkin kalo pake sendal lebih praktis dan ringan jadi deh pake SANDAL JEPIT
saya dulu juga sempet praktek kerja lapangan di RS, sempet juga sih berinteraksi dgn para coAss ini
kesimpulannya, sy lebih suka klo liat coAss yg pake sendal jepit tapi punya otak. dbandingkan liat coAss yg pake sepatu/high heels plus bedak tebel/gel rambut kbanyakan, necis, tapi gak punya otak.
Saya pribadi sih tidak merasa dokter itu profesi yang bergengsi. Jujur aja, tanggung jawab sebagai dokter itu berat… risiko pekerjaannya besar…
Hi-5 bro.. Menurut saya terlalu banyak orang yang menganggap profesi dokter itu pekerjaan bergengsi..
udah “anak mula keto” dari sononya
tapi kembali bahwa profesi dokter sebenarnya harus dipandang dari perspektif berbeda, seorang pelayan kesehatan, gengsi hanya akan membebani sang dokter dan tidak akan membuat sang dokter menjadi lebih baik dalam mengerjakan tugasnya. saya percaya siapapun yang menjalani profesi kemanusiaan seperti: dokter, perawat, bidan, dan dukun sekalipun pastilah memiliki suatu rasa empati yang lebih didalam dirinya dan akan mengesampingkan apa yang disebut dengan gengsi semata.
dilain pihak, sebagai bentuk Universal Self Precaution hendaknyalah para sejawat dokter, dokter muda dan tenaga medis lainnya memikirkan juga keselamatan dirinya, bagaimana bila saat anda bekerja, sebuat jarum suntik terjatuh dan menancap di kaki anda yang notabene tidak terlindungi itu ? kasian baget donk.. hehe.. ingat RS adalah tempat yang penuh marabahaya
Safety First donkk!”
Haha, lama ga denger kabarnya Bro. Apa kabar “anak mula keto”?
Oiiitt.. ded..
hmm.. as a human i’m fine, still struggling to live
padahal sebagai warga bali kalimat “anak mula keto” masih melekat erat hehehe…
but as a “anak mula keto’s” nu bingung mo diapain
Pada akhirnya kalo ditanya kenapa webnya mati… ya cuma bisa bilang anak mula keto hahaha…
emz gx jdi msalah jg klw seorang dokter memakai sendal jempit,,
jangan melihat orang dari penampilan’y z dunx,,,
Pantesan kalah dari Malaysia, pikiran masih kolot kayak codot.
Ya jelas koasnya yang ngawuurrr…. Emang gak pernah dijelaskan oleh senior2nya? Bahwa memang saat jam jaga, dokter wajib memakai sandal (kecuali di OK memakai boot) karena kompresi sepatu akan mengakibatkan stress yg tidak baik bagi kaki. (dokter dan koas jaga di RS nonstop kerja seblum dan sesudah jam jaga –minimal nonstop 30jam–, berbeda dg perawat yg punya shift kerja per 8 jam)
Seharusnya ini sudah sangat sewajarnya diketahui sehingga berita aneh ini tidak perlu muncul….
Di RS non pendidikan, dokter jaga tidak nerus pagi-malam-pagi, berbeda dengan dokter sekolah (residen dan koas). Jadi ya memang pakai sepatu karena shift nya pendek.
Ini artikel aneh, gak sekalian diprotes kenapa dokternya pakai piyama? -_-
Alah Booos, santai aja…. namanya juga wartawan. Lagi kejar setoran.
Ane dulu kerja di bank berangkat pake sepatu sampe kantor sepatu di lepas ganti sendal jepit. Isis (sejuk) gitu… rasanya otak ane buntu kalo kerja pake sepatu. Dan bukan cuma ane, rata2 juga begitu. Malah teler2 yg cakep jg sering begitu, cuma ketutup meja aja jadi nggak keliatan sendalnya.
Semangat dokter2 muda!
emang itu sandal yang di bahas di rumah sakit , atau yg sakit seh!
emang ada aja org yg usil u/ publishing .
semoga dokter2 disana engga kena imbansnya saja
Wah lama banget gak buka blogmu Ded.
IMHO I don’t mind jika dokter/perawat/koas-nya pakai beyond formal shoes as long as pelayanan dan kesigapan tetap jadi prioritas.
Kamu di Sanglah sekarang Ded?
Iya, di Sanglah nih, lagi ngambil spesialisasi. Apa kabar?
boleh juga tuch jaga pake sepatu ASAL tiap dokter muda diksi sepatu gratis…yaaahh minimal 2 pasanglahh…itung2 nambah koleksi sepatu d rumah..hahahaha

….kira2 ada yg mau mendanai ga ya sepatu gratisss..tis..tis
wah, baru baca..
*telat banget*
ngeselin banget ya bahwa profesionalitas kerja dinilai dari seujung kuku penampilan kayak gitu.
sabar ya kalian para dokter… ^^
*pukpuk*
Refly :
berarti dokternya tidak menghargai pasien, jangan mentang2 pasiennya rakyat kecil. coba di rumah sakit sekelas RSPP, pasti ga ada dokter yang berani pake sendal jepit.
Waaahhh…jgn salah..malahan dengan Dokternya make sendal jepit berarti dokternya sangat menghargai pasiennya dan bisa berbaur sama keadaan pasiennya, dalam kondisi yang sederhana tp dokternya bisa berbaur sama kondisi juga(merendahkan diri)..Anggaplah pada saat pasiennya lewat di depan si dokter dan si dokter berkata “Mangga??”, dengan kesantunannya merendahkan diri dan ikut berbaur bersama kondisi pasiennya…
Berfikirlah secara positif agar umur kita makin panjang, jgn cari kslhan orang lain tp lbh baik perbaiki diri kita sendiri…
Untuk d rmh skit berkelas khan beda…Kita harus berbaur pada kondisinya jg,krna orang yg msuknya elit dan sombong gaya abieess ya wajar para dokte jg psang gaya guna meminimalisir pkiran2 negatif manusia2 yg rese seperti pada permasalahan sekarang ini…..hahahahaha….
So…klo memang g’ ada aturan yg mengaturnya jg terserah az mau make apa n klo memang d perbolehkan pake kaos kaki jg g’ mslah khn g’ ada aturan jg yg mlrangnya…
d luar negeri az pelajar sekolahnya pake baju bebas tp otaknya siiippp dech, jd apa mslnya kstum?yg kita cari khn kualiasnya…
Heran dech d Indonesia nich banyak macam aturannya yg g’ mncerminkan kualitasnya..
Percuma ngmong “etika” klo arti dari “etika” itu az g’ ngerti, sama az percumanya klo anak sekolahan d paksa pake seragam tp mereka g’ ngerti apa arti pke seragam tu..g’mna mrka ngrti arti seragam yg otaknya kosong dan yg mrka tau cuman pake seragam az tiap kali k sekolah……hhhuuuuuhhh…capeee..deccchhh….
← Previous Comments
{ 1 trackback }