RSS: Rasa Sayang-Sayange

by Deddy Andaka on January 7, 2008

Sekapur Sirih tentang RSS :

  1. RSS: Pedang Bermata Dua
  2. RSS: Sebuah Media Promosi
  3. RSS: Rasa Sayang-Sayange

Akhirnya usulan Sonny untuk menjadikan artikel tentang RSS ini sebagai Trilogi menjadi kenyataan. Hehe… Awalnya aku tak ada niat untuk menjadikannya Trilogi, namun berhubung di-BUZZ beberapa hari yang lalu di blognya Cosa dan bergulir pro dan kontra, maka kuputuskan untuk membuat sekuel terakhirnya. Mungkin tulisan ini bukan melengkapi, namun lebih ke sebuah perenungan.

Ok, untuk yang belum mengikuti, begini kronologinya. Pada postingan pertamaku tentang RSS aku menyebutkan :

Namun di sisi lain, RSS juga memberikan dampak yang kurang menyenangkan bagi publisher bila RSS tidak dikelola dengan baik. Bayangkan jika orang cenderung untuk hanya melihat barang dagangan di etalase tanpa pernah masuk ke sebuah toko, tentunya transaksi tidak akan pernah terjadi kan? Begitu pula RSS. RSS dapat menurunkan jumlah pengunjung karena orang dapat melihat isi tanpa harus mampir ke weblog tersebut, otomatis jumlah pengunjung yang tercatat akan menurun.

Dari kalimat itu aku menawarkan solusi pada artikel berkutnya yaitu dengan membatasi tampilan feed RSS dengan harapan agar pengunjung tetap mampir ke blog kita setelah melihat penggalan artikel pada feed RSS (Sebagai media promosi). Hal inilah kemudian yang ditanggapi Cosa pada artikelnya yang berjudul “RSS – Pedang Atau Benang?”, di sana Cosa berpendapat :

Oleh karena itu, alih-alih membatasi informasi yang didapat oleh pelanggan feed kita, justru sebaiknya kita berikan seluruhnya ke mereka. Berikan full feed kepada mereka (pengguna WordPress versi 2.1 ke atas harus menginstall plugin Full Text Feed terlebih dahulu), dan biarkan mereka yang memutuskan, apakah situs atau blog Anda layak dikunjungi, layak dikomentari, dan layak dipromosikan.

Aku sepakat kalau keputusan memang kembali kepada pembaca, hal itu pun sudah aku ungkapkan pada tulisan keduaku tentang RSS :

Dalam hal ini customer adalah pembaca dan tentunya mereka sama seperti kita, memiliki pertimbangan-pertimbangan tersendiri didalam memutuskan apakah subscribe ke RSS, membaca summary, lalu akhirnya memutuskan untuk membaca secara utuh tulisan kita.

Dualisme tentang full post atau summary post tak kan habis dibahas. Sempat aku memberi komentar di blognya Cosa tentang konsep “Negara maju” dan “Negara berkembang“. Untuk sebuah blog yang sudah mapan dan dikenal banyak orang yang dalam hal ini kuanggap sebagai negara maju, memberikan RSS secara full memang bukan masalah. Karena loyalitas pembaca sudah terbentuk. Sedangkan blog yang sedang berkembang, loyalitas pembaca belumlah terbentuk. Jika memberikan RSS secara full, bisa saja… sekali lagi… bisa saja (bukan PASTI – ini hanya sebuah kemungkinan) pembaca hanya akan melihat RSS-nya saja tanpa mampir ke blog.

Daniy sempat berkomentar begini :

RSS memang memermudah pengunjung untuk melihat dan menelusuri apa yang telah di-update ke dalam blog kita. Namun jika menuduh RSS mengurangi jumlah hits pada blog yang sesungguhnya [ketimbang halaman RSS] maka saya tidak sepenuhnya setuju.

Maaf, aku sama sekali tidak ada maksud untuk menuduh atau mengkambing-hitamkan RSS *secara RSS juga bukan kambing*. Namun kejadian ini benar-benar bisa terjadi lho… paling tidak itu yang dirasakan idiotprogramme pada forum WordPress, SEO: Why do RSS feeds rank higher than articles? Lalu coba dijawab oleh Adam Brown :

Google rankings are always a mystery. Maybe your RSS feeds have lots of subscribers, and those subscribers link back to your site’s feed (but not to your site itself)–that would do iot.

Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah, “Kenapa orang memilih memberi backlink ke site feed ketimbang blog aslinya?” Kita tanyakan kepada rumput yang bergoyang 😉 Kembali ke quote tulisanku paling atas, terutama yang aku garis bawahi : bila RSS tidak dikelola dengan baik, dan aku juga sempat menulis pada kalimat terakhir : bijaksanalah menggunakannya.

Seperti apa sih mengelola dan menggunakan RSS dengan bijaksana?

Aku sepakat dengan Daniy kalau content is the king. Itulah yang aku maksud dengan pengelolaan RSS. Bayangkan saja jika content amburadul namun ngarepin banyak yang nge-feed. Mau dibikin full atau summary ngga akan ada bedanya kan? Dan bila content sudah semakin terasah, loyalitas pembaca bisa semakin dipupuk *emangnya pohon?* Namun jika dibahas lebih lanjut tentu saja content yang bagus belumlah cukup. Bayangkan kalau websitemu menjual produk game, di sana kita menulis ulasan tentang game yang ciamik banget sampai memberi tips-tips yang jitu. Namun kita menyebarkan info tersebut ke komunitas pujangga. Ya ga nyambung… Tapi aku percaya kita semua sudah mengetahui tentang hal tersebut, sehingga tanpa perlu ditulis pun kita sudah mengerti *semoga* Ya kan?

Lalu bijaksana? Mungkin kali ini bukan masalah teknis, tapi sebuah perenungan. Setelah aku menawarkan konsep “Negara Maju” dan “Negara Berkembang” aku semakin banyak menemukan hal yang dapat diperdebatkan. Makin kucoba mencari pembenaran untuk memuaskan egoku semakin aku menemukan celah kesalahan. Lalu sampailah aku pada satu titik : Blog is art! Blog adalah sebuah seni. Dan tentu saja RSS termasuk di dalamnya. Tidak ada yang benar dan salah, indah dan jelek, jahat dan baik, dan seni tidak selalu hitam dan putih. Saat kita memasuki daerah abu-abu, lakukanlah apa yang kita yakini benar dan lakukan yang terbaik! Jika kita memandang sempit, 1+1 kita akan selalu menjawab 2. Namun jika kita mau lebih terbuka… bukankah 1+1=3-1? 0+2? 2×1? 8:4?

Lalu apa hubungannya dengan Rasa Sayang-Sayange?

Secara blog itu seni, dan RSS adalah bagian dari blog dan kebetulan Rasa Sayang-Sayange sebagai satu kesenian asli Indonesia cocok disingkat menjadi RSS, maka… sebagai ending dari trilogi kali ini, marilah kita bersama-sama menyanyikan lagu RSS (Rasa Sayang-Sayange) 😆

Rasa sayange rasa sayang sayange…
Hey lihat dari jauh rasa sayang sayange…

Kalau ada sumur di ldang boleh kita menumpang mandi…
Kalau ada umurku panjang boleh kita berjumpa lagi…

Rasa sayange rasa sayang sayange…
Hey lihat dari jauh rasa sayang sayange…

-TAMAT-

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)

{ 24 comments… read them below or add one }

cosa January 7, 2008 at 11:07 pm

ati2 ntar rss jg diklaim negara sebelah loh, hihihi

Reply

Deddy January 8, 2008 at 5:03 pm

Biarin aja Cos, toh bukan Indo yang meng-hak paten-kan RSS. Hehe…

Reply

ayahshiva January 8, 2008 at 8:18 am

memang jadi dilema ya

Reply

Deddy January 8, 2008 at 5:08 pm

sekarang saya sudah tidak dilema lagi 😛

Reply

snydez January 8, 2008 at 9:12 am

yah.. apapun pendapat orang, kalo kita merasa nyaman dengan pendapat sendiri, ya tinggal jalanin aja, biar waktu yang menghajar menjawab L:P

Reply

Deddy January 8, 2008 at 5:05 pm

Yoi Son. Semua kembali ke diri sendiri… Setelah dipikir2, mau full feed atau summary feed yang penting ngeblog! :mrgreen:

Reply

shenita January 8, 2008 at 1:27 pm

thanks triloginya ya. sekarang ga bingung lagi dech berkat bagian renungannya itu

Reply

Deddy January 8, 2008 at 5:07 pm

Kalau bingung inget pegangan biar ga jatoh 😆
Tapi Trilogi ini hanya sekapur sirih tentang RSS kok. Masih banyak info di luar sena tentang RSS.

Reply

ario dipoyono January 8, 2008 at 7:24 pm

ternyata ga pilm aja ya… trilogi juga ada di artikel

Reply

Deddy January 12, 2008 at 4:14 pm

Trend baru di dunia blog 😉

Reply

Praditya January 9, 2008 at 3:50 am

RSS saya gunakan hanya untuk tahu apa seseorang ngapdet atau tidak, klo apdet, ya pasti saya brkunjung ke blognya lewat browser…

Reply

huda January 10, 2008 at 6:23 pm

Saya idem sama praditya 😀 bukan seorang publisher adsense siy.. 😀

Reply

imsuryawan January 10, 2008 at 8:29 pm

Hahaha… Memang paling aman memandang sesuatu sebagai sebuah seni! 😀 Kalo sudah seni ya emang ga ada benar salah bro! Blog sebagai suatu karya seni? Hmm.. saya setuju aja dah! 😀

Reply

Deddy January 13, 2008 at 10:10 am

Biasa bli… orang Bali suka yang seni seni 😉

Reply

dodot January 13, 2008 at 8:48 am

wah ada yang baru nih…

lagi seger-segernya ntar dijimplak ama tetangga

Reply

daniy! January 14, 2008 at 1:27 am

Jika kita memandang sempit, 1+1 kita akan selalu menjawab 2. Namun jika kita mau lebih terbuka… bukankah 1+1=3-1? 0+2? 2×1? 8:4?

Hey, I like this quote.. !
💡

Reply

poer January 15, 2008 at 10:15 am

Bagaimana kalau pilihan tadi dikembalikan pada pengunjung itu sendiri, sedangkan kita, pemilik blog, cukup menyediakan pilihannya: Full, Summary, Email, terus via Google Reader, Blogline dll :mrgreen:

Reply

Deddy January 21, 2008 at 5:07 pm

Boleh aja, asal ya itu tadi… sebagai publisher musti siap dengan konsekuensi yang mungkin terjadi 😉

Reply

landy January 15, 2008 at 11:12 am

Diriku selalu kagum padamu mas, setujuuuuuuuuuuu pokoknya aku padamu 🙂

Reply

Rozy January 15, 2008 at 3:53 pm

Saya cuma bisa senyum dengan mengaitkan RSS dengan lagu itu :mrgreen: dan siapa tahu tema ini akan mas Deddy angkat dalam sebuah buku ❓ 😉

Reply

Deddy January 21, 2008 at 5:13 pm

Haha… mas Rozy bisa saja. Masih tidak terpikir untuk menulis menjadi buku…

Reply

modaro January 17, 2008 at 12:36 pm

Hmmm…
Fungsi RSS memang sungguh memerlukan kebijaksanaan /*wuisss..*/
Tapi kayaknya aku lebih cenderung setuju kesini:

“Sedangkan blog yang sedang berkembang, loyalitas pembaca belumlah terbentuk. Jika memberikan RSS secara full, bisa saja… sekali lagi… bisa saja (bukan PASTI – ini hanya sebuah kemungkinan) pembaca hanya akan melihat RSS-nya saja tanpa mampir ke blog.”

😕 😕 😕

Reply

Deddy January 21, 2008 at 5:17 pm

Teng kyu trackbacknya 🙂

Reply

foredi bandung July 13, 2011 at 10:15 am

Amazing artikel…. Semoga saya bisa praktekan tipsnya dan berhasil

Reply

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post:

Next post: