Pilar Konsultasi Dokter Online (3)

by Deddy Andaka on March 4, 2008

Seri Pilar Konsultasi Dokter Online :

  1. Pilar Konsultasi Dokter Online (1)
  2. Pilar Konsultasi Dokter Online (2)
  3. Pilar Konsultasi Dokter Online (3)
  4. Pilar Konsultasi Dokter Online (4)

Setelah tulisan pertama tentang Pilar Konsultasi Dokter Online dipublish, beberapa komentar menyatakan cukup bingung dengan tulisan tersebut. Karena itu, sebelum tulisan kedua dipublish aku meminta tolong pada beberapa orang, baik dari kalangan dokter maupun luar dokter, untuk mereview secara offline kemudian memberi masukan. Cukup banyak yang direvisi, namun nyatanya masih saja ada yang bingung setelah tulisan kedua dipublish. Hehe… Sebenarnya konsep dasar konsultasi dokter online sederhana, pasien menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan dokter tanpa melalui proses tanya jawab. Untuk itu, (tentu saja) pasien hendaknya mengetahui informasi apa yang dibutuhkan oleh seorang dokter. Nah, Pilar Konsultasi Online ingin menjawab hal tersebut melalui 3 pilarnya: Identitas, Sacred Seven dan Fundamental Four. Identitas sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, pada tulisan kali ini akan dibahas tentang Sacred Seven.

Sacred 7

SACRED SEVEN

Pilar kedua dari Konsultasi Dokter Online adalah Sacred Seven. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penyakit pasien, seorang dokter akan melakukan analisa keluhan melalui tujuh warna pelangi pertanyaan sakral seorang dokter yang akan menggali hal-hal berikut:

  1. Lokasi (Location)
    Organ atau sistem mana yang mengalami keluhan. Apabila keluhan berupa batuk atau mencret, maka lokasi keluhan otomatis kita ketahui lokasinya pada saluran pernafasan atau saluran cerna. Apabila keluhan berupa nyeri perut, perlu dijelasan nyeri perut daerah mana (mis: perut kanan bawah, perut daerah ulu hati). Karena dengan mengetahui lokasi yang jelas, dokter akan dapat memperkirakan organ perut mana yang kira-kira sakit.
  2. Onset (Onset)
    Sejak kapan keluhan mulai dirasakan? Apakah keluhan terjadi secara mendadak atau perlahan-lahan? Apakah keluhan didahului kejadian atau keadaan tertentu. Misalnya nyeri dada timbul secara mendadak setelah olah raga berat.
  3. Kualitas (Quality)
    Misalnya nyeri pada dada, apakah seperti tertusuk-tusuk atau mungkin seperti tertimpa beban berat. Gambaran yang diceritakan dalam surat konsultasi hendaknya bisa menjawab pertanyaan “Seperti apakah rasa nyeri itu?”
  4. Kuantitas (Severity)
    Apakah beratnya keluhan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari atau mengganggu tidur? Misalnya sesak sampai tidak bisa aktivitas ringan (mis: tidak bisa mandi, berjalan ke kamar mandi), atau tidur terlentang saja sudah sesak, ini mencerminkan beratnya sesak.
  5. Kronologis (Chronology)
    Hal yang musti dijabarkan pasien hendaknya dapat menjelaskan kronologis keluhan tersebut sejak pertama kali dirasakan sampai saat ini dan bagaimana perkembangannya.
  6. Faktor Modifikasi (Modifying factors)
    Adalah keadaan yang dapat memperingan atau memperberat keluhan. Jawaban pertanyaan ini dapat menjelaskan jenis penyebabnya. Misalnya sesak saat aktivitas berat dan berkurang apabila istirahat, mencerminkan penyebabnya berhubungan dengan jantung.
  7. Keluhan Penyerta (Assocciated Symptoms)
    Sering sekali setiap penyakit mempunyai banyak gejala. Yang dirasakan paling keras merupakan keluhan utama, sedangkan keluhan lainnya merupakan keluhan penyerta. Keluhan penyerta in pun hendaknya dijabarkan dengan Sacred Seven.

Nah, dengan mengetahui 7 hal sakral yang akan digali oleh dokter, maka dalam surat konsultasi online haruslah dapat menjawab atau menggambarkan ketujuh hal di atas. Dengan demikian, konsultasi online diharapkan dapat lebih efektif. Stop! Tarik nafas sejenak, berikutnya kita akan menuju pada pilar terakhir, Fantastik Fundamental Four! 🙂

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
Pilar Konsultasi Dokter Online (3), 1.0 out of 10 based on 1 rating

{ 18 comments… read them below or add one }

dani March 4, 2008 at 4:23 pm

jdlah pasien yg cerdas.. 🙂
pasien cerdas..pekerjaan dokter jd lbh mudah 🙂

masi ngebayangin form pertanyaan yg mesti diisi pasien..lanjuut..

Reply

Deddy March 4, 2008 at 4:38 pm

Setuju Dok 🙂 Di edisi berikutnya cuma tentang Fundamental Four, nothing special for a doctor…

Reply

Ketut Widarta March 5, 2008 at 3:38 am

kekeke..
pasien cerdas ngak perlu ke dokter dunk :))

Reply

Deddy March 5, 2008 at 6:44 am

Pasien cerdas malah tau kapan harus ke dokter dar. Kalau dia tau kena usus buntu tapi tetep aja ngotot di rumah ya ga cerdas dunk 😉

Reply

Shenita March 4, 2008 at 5:28 pm

kali ini mudah dimengerti kok ded.. aku salut sama grafis2 yg ditampilin blog ini. kamu bener2 dokter yach?

Reply

Deddy March 4, 2008 at 10:22 pm

Syukurlah… Hmm, klo bukan dokter sebut saja blogger 😉

Reply

dani March 4, 2008 at 7:38 pm

walaupun ngga diterapin sendiri, tp siapa tau ada yg mo make formatnya..
via mail jg gpp, via contact form-nya wp ini jg bs..pokoknya lanjut aja tulisannya..mantap..

Reply

Deddy March 4, 2008 at 10:25 pm

Makasih, yang lebih penting sebenernya biar maksudnya bisa ditangkep ama yang baca. Itu aja kok… Hehehe…

Reply

Wiellyam March 4, 2008 at 10:28 pm

ini lebih bisa dimengerti 😛
atau mungkin karena keadaan ku hari ini lagi fit ya jadi bacanya bisa enak :mrgreen:

Reply

Deddy March 4, 2008 at 10:46 pm

Wah lega deh… mudah2an fit terus dah klo gitu 🙂

Reply

jimmy March 5, 2008 at 12:57 am

sama kayak Wiellyam, sekarang saya mengerti.. 😀

Reply

Deddy March 5, 2008 at 6:45 am

Wah seneng aku klo semua lagi fit 😆

Reply

bina (gombez) March 5, 2008 at 11:56 pm

kalo cuma masuk angin masak harus je dokter juga. Padahal buat makan mie rebus panas2 sama dipotongin cabe udah sembuh, kalo berkeringat. (apa hubungannya..)

Reply

Deddy March 6, 2008 at 4:25 pm

Haha… ya ga musti ke dokter mas klo uda bisa diatasin sendiri 🙂 Tulisan ini bukan anjuran untuk selalu pergi ke dokter lho… tapi bagaimana mengefektifkan konsultasi online…

Reply

Asta Qauliyah March 6, 2008 at 1:37 pm

Ada polemik memang ketika kita berbicara tentang kemungkinan ‘konsultasi’ secara online. Padahal, secara proses anamnesis mestinya dilakukan secara ‘face to face’, karena pada beberapa hal, ekspresi wajah dan ‘performance’ seseorang sudah bisa memberi masukan yang sangat berarti untuk penegakan diagnosis penyakit. Kelemahan online adalah karena pasien dengan dokter tidak secara langsung terlibat komunikasi aktif, sehingga peluang untuk terjadinya ‘mis-anamnesis’ bahkan hingga ‘mis-diagnosis’ menjadi sangat besar.
Konsultasi online, hemat saya, tetap tidak bisa menggantikan peran dokter secara ‘real’, meskipun kita juga tetap tidak bisa menafikkan efektifitas dan efisiensi penggunaan layanan modern IT saat ini untuk menunjang proses pengobatan. Masih ada beberapa hal yang mesti dikaji lagi secara seksama.

Salam kenal,
😛

Reply

Deddy March 6, 2008 at 4:30 pm

Setuju mas. Memang konsultasi online tidak akan bisa menggantikan posisi dokter secara “real”. Tulisan ini ditujukan untuk mengefektifkan konsultasi online yang sudah ada. Dan hendaknya, dalam konsultasi online dokter tidak terjebak dalam menjudge atau mendiagnosis pasien. Karena sesuai Konsep Asuhan Medik ada faktor lain yang musti ditelusuri. Yang bisa dilakukan oleh dokter dalam konsultasi online hanya memberikan kemungkinan2 diagnosis serta saran/nasehat2 saja.

Salam kenal juga…

Reply

jessy June 29, 2010 at 12:36 am

wow……. mbantu bgt nih bwt ngrjain tugas,,,,,,,,,,,,,, btq refrensinya dr mn nih????
TQ

Reply

conservatory extension March 16, 2015 at 10:24 am

This paragraph will assist the internnet visitors for
settin up new website or evedn a weblog from start to
end.

Reply

Leave a Comment

{ 2 trackbacks }

Previous post:

Next post: