Pelajaran Terakhir dari Ibu

MamaMinggu, 4 Oktober 2009 pukul 13.30 WITA, ibu yang saya cintai telah menutup mata untuk selama-lamanya. Perjuangannya melawan kanker payudara yang telah dideritanya sejak 11 tahun yang lalu sudah berakhir. Tidak ada lagi rasa sakit yang harus ia tahan. Tidak ada lagi keluh kesah yang harus ia sembunyikan agar kami tidak khawatir.

Saya teringat akan postingan “Renungan Tentang Kematian” yang saya tulis bulan Juli lalu. Di sana saya mengutip sebuah kata-kata dari Ajahn Chah dalam bukunya “No Ajahn Chah“, sebagai berikut:

Kelahiran dan kematian kita adalah satu hal. Anda tidak bisa mendapatkan yang satu tanpa yang lainnya. Terlihat agak lucu; bagaimana pada saat ada kematian, orang-orang menangis dan sedih; sedangkan pada saat ada kelahiran, orang-orang gembira dan senang. Itu hanyalah khayalan. Saya rasa jika Anda benar-benar ingin menangis, lebih baik melakukannya pada saat seseorang dilahirkan. Menangislah pada awalnya, karena bila tidak ada kelahiran, maka tidak akan ada kematian. Apakah Anda bisa mengerti hal ini?

Nyatanya, air mata ini tetap saja menetes. Rasa sedih masih saja hinggap meski saya mencoba untuk menyadari bahwa ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Ternyata… saya memang belum mengerti tentang kelahiran, kehidupan dan kematian.

Di saat doa bersama yang dipimpin oleh Bhante Sucirano, beliau mengatakan:

Kita tidak dapat menghindari usia tua, kita tidak dapat menghindari penyakit, kita tidak dapat menghindari kematian. Jangankan kematian orang-orang yang kita cintai, bahkan kematian diri kita sendiri pun tak akan dapat kita hentikan.

Lalu, sudah siapkah kita bila kematian datang menjemput?

Saya merasa ibu sudah sangat siap. Sebelum dikremasi pada tanggal 7 Oktober, banyak orang-orang yang datang untuk ikut mendoakan ibu. Dari mereka, saya banyak mendengar kisah-kisah baik tentang ibu. Bagaimana ibu begitu peduli terhadap orang lain dan selalu mencoba berbuat kebaikan ketika ada kesempatan. Banyak yang merasa kehilangan dengan kepergian ibu. Malam itu, saya dan kedua kakak saya baru menyadari bahwa selama ini ibu bukan hanya ibu bagi kami anak-anaknya, namun ibu telah menjadi ibu bagi banyak orang.

Ada pepatah yang mengatakan “Daripada hidup 100 tahun namun disia-siakan, lebih baik hidup sehari namun dimaknai dengan baik”. Alangkah indahnya jika kita dapat memaknai hidup kita dengan baik disepanjang sisa hidup kita (bukan hanya sehari!).

Sudah sering saya dengar bahwa kemelekatan akan menimbulkan penderitaan. Karena cepat atau lambat kita akan berpisah dari yang kita sayangi dan kita cintai. Bukan kematian yang menyebabkan penderitaan, namun rasa “milikku” (kemelekatan) itulah yang membuatnya menjadi derita. Saya merasa, inilah pelajaran terakhir dari ibu.

Terima kasih Tuhan, telah diberikan kesempatan untuk lahir dari seorang ibu yang begitu hebat. Semoga dengan timbunan perbuatan baik yang telah ibu lakukan semasa hidupnya, ibu dapat terlahir di alam-alam yang menyenangkan.

Sabbe satta bhavantu sukhittata,
Semoga semua makhluk berbahagia…

I love you, mom!

This entry was posted in Blog, Personal Life, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

29 Comments

  1. Posted January 1, 1970 at 8:00 am | Permalink
  2. Posted October 9, 2009 at 5:47 pm | Permalink

    Turut berduka dr, semoga ibunda tenang di sisi Nya. Amin.

  3. Posted October 9, 2009 at 6:10 pm | Permalink

    Turut berduka cita ya, Ded.

  4. Posted October 9, 2009 at 7:43 pm | Permalink

    teurut berbela sungkawa

  5. Posted October 9, 2009 at 8:02 pm | Permalink

    ikut berbela sungkawa ya Ded..

  6. Posted October 9, 2009 at 9:47 pm | Permalink

    saya terhanyut dengan postingan ini..
    Turut berduka dok… semoga segala kebaikan Ibunda dapat diteruskan oleh anak dan cucu beliau..

  7. Posted October 9, 2009 at 10:46 pm | Permalink

    turut berduka cita dok.. sang Ibunda sekarang sudah tenang di atas sana, saya doakan agar semua amal ibadahnya dapat diterima oleh Nya, dan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan..

  8. Posted October 9, 2009 at 11:58 pm | Permalink

    semoga amal ibadah ibunya bang Deddy diterma di sisi Tuhan YME.
    Klo saya, tempo hr ditinggalkan Ayah …syukur sy msh punya Ibu…sy pengen membahagiakan Ibu saya…
    Kehidupan terus berjalan…sabar bang, karena semua itu ada hikmahnya :|

  9. Posted October 10, 2009 at 3:08 am | Permalink

    Turut berduka cita, ibunda Anda pasti berbahagia di sisi-Nya. Amin.

  10. Posted October 9, 2009 at 8:21 pm | Permalink

    yang tegar ya ded….

  11. Posted October 9, 2009 at 8:26 pm | Permalink

    may she rest in peace…

  12. Posted October 9, 2009 at 9:01 pm | Permalink

    tetep semangat ya dok!!

  13. Posted October 9, 2009 at 9:20 pm | Permalink

    be strong…

  14. Posted October 9, 2009 at 10:01 pm | Permalink

    Tetep semangat yah Ded…

  15. Posted October 9, 2009 at 11:00 pm | Permalink

    turut berduka cita y, Ded.be strong…

  16. Posted October 9, 2009 at 11:12 pm | Permalink

    "Bukan kematian yang menyebabkan penderitaan, namun rasa “milikku” (kemelekatan) itulah yang membuatnya menjadi derita."I think this is very true. Letting go of a loved one could be one of the hardest experience anyone can go through.But let us be strong, as our tears only set off her candles. And let us be happy, because I believe that's all she ever wanted us to be.*hugs*

  17. Posted October 10, 2009 at 12:00 am | Permalink

    turut berduka cita y, Ded.be strong…

  18. Posted October 10, 2009 at 12:00 am | Permalink

    turut berduka cita y, Ded.be strong…

  19. Posted October 10, 2009 at 12:12 am | Permalink

    "Bukan kematian yang menyebabkan penderitaan, namun rasa “milikku” (kemelekatan) itulah yang membuatnya menjadi derita."I think this is very true. Letting go of a loved one could be one of the hardest experience anyone can go through.But let us be strong, as our tears only set off her candles. And let us be happy, because I believe that's all she ever wanted us to be.*hugs*

  20. Posted October 10, 2009 at 5:10 pm | Permalink

    Turut berduka cita… tetap tegar & semangat …

  21. Posted October 10, 2009 at 7:08 pm | Permalink

    Thanks all…

  22. Posted October 11, 2009 at 1:48 pm | Permalink

    turut bela sungkawa ya bang, ibu nya pasti bahagia di atas sana. amien..

  23. Posted October 11, 2009 at 10:16 pm | Permalink

    Wah, saya baru baca, tapi semoga belum terlambat untuk ucapkan ikut belasungkawa atas meninggalnya sang ibu, semoga arwahnya diterima di tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarganya diberikan berjuta ketabahan dan semangat setegar semangat sang ibu untuk meretas kehidupan yang lebih baik di masa depan. Sabar ya dok…

  24. Posted October 11, 2009 at 10:57 pm | Permalink

    Turut berduka dok, semoga Ibu bahagia di alam yang lebih indah dari dunia, dan dr. Deddy sekeluarga ditabahkan….

  25. Posted October 11, 2009 at 7:11 pm | Permalink

    tetap tegar Ded! mari kita senantiasa melakukan hal2 terbaik..krn kita tak tau sampai kapan kehidupan ini kita jalani… anggaplah setiap hari adalah hari terakhir dalam hidup kita…

  26. friend
    Posted October 12, 2009 at 2:25 pm | Permalink

    turut berduka cita ded, dina, winda, semoga ibunda diterima di sisi-Nya dan sekeluarga diberikan ketabahan.

  27. Posted October 12, 2009 at 4:13 pm | Permalink

    Meski agak terlambat, Turut Ber belasungkawa Mas Ded. Semoga segala kebaikannya selama hidup akan kekal melalui semua keturunannya.

  28. Posted October 13, 2009 at 3:25 am | Permalink

    Turut berduka dr, semoga ibunda tenang di sisi Nya. Amin. semoga arwahnya diterima di tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarganya diberikan berjuta ketabahan dan semangat setegar semangat sang ibu untuk meretas kehidupan yang lebih baik di masa depan

  29. Posted October 22, 2009 at 6:55 am | Permalink

    dokter deddy, maaf terlambat, saya ikut berduka cita :sad:

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting