Weker Inside

Waktu SMU, aku punya kebiasaan susah bangun pagi. Biar kata uda pasang 2-3 weker tetep aja susah. Klo wekernya deket, tinggal geplok langsung mati alarmnya. Klo jauh… suaranya ngga cukup buat bikin bangun. Ha ha ha… Untungnya uda akrab ama pak satpam, tapi seru juga kucing-kucingan ama mr. Headmaster (Sorry ye pak Tumbuh). Papaku pernah ngasi nasehat, “Sebenernya klo kita uda bertekad buat bangun pagi, ngga pake weker pun kita bisa bangun pagi”. Waktu itu sih ngga terbukti, apa karena tekadku buat bangun pagi kurang kuat ye? Tauk de…

Berbeda sewaktu dua bulan di bagian Pediatri, terutama pas stase di ruang Neonatus (Bayi). Bayangin aja… jam 4 pagi uda musti di RS buat follow up pasien. Untungnya kebiasaan susah bangun pagi uda lama hilang. Kebiasaan bangun uda standar gitu… pasang weker… bunyi… bangun aja.

Kebiasaan bangun pagi selama di situ ternyata berlanjut ke 1 minggu setelahnya. Yah… meski di bagian Radiologi masukknya jam 7.30 pagi aku bangunnya jam 3 pagi! WTF! Dan cetet, TANPA WEKER. Uda kayak otomatis gitu… mungkin klo ngaca uda ada label “Weker Inside” di jidatku.

Tapi yah, seperti kataku… cuma bertahan 1 minggu. Tadi pagi pas bangun, mulet-mulet bentar… nyaman banget rasanya… pas liat jam, *JREEENGGG* 7.15 !!! Whoaaaaaaaa… Gedebak gedebuk dah!

Hufff… pagi yang yang melelahkan…

Posted in Personal Life | Tagged | 5 Comments

Andaka Returns

Kalau blog seperti film, entah kali ini uda sekuel yang keberapa :) Yupe, hari ini aku ngeblog lagi. Uda lama juga ngga ngeblog. Klo ngga salah posting terakhir tentang minta izin buat hiatus ya? Ternyata jadi hiatus beneran. He he…

Banyak hal dalam beberapa bulan terakhir ini yang bikin nafsu ngeblogku jadi turun banget. Peringkat pertama tentu saja karena (sok) sibuk. Dua bulan terakhir di bagian Pediatri (Anak – red) RSU Sanglah bener-bener menyita waktuku. Jaga malam tiap 3 hari sekali dan pulang ke rumah cuma buat tidur… tapi untunglah 2 bulan perjuangan banting tulang ngga sia-sia. Sekarang lagi di bagian Radiologi (27 Nov – 23 Des 2006). Lumayan nyante nih, ngga ada jaga malem. So… yah… punya banyak waktu buat kembali ke rutinitas “normal”ku. NGEBLOG! :D

Lalu kemana nih postingan-postinganku sebelumnya? Nah itu dia jadi alasan berikutnya. Tempat hostingnya sempet down “Kronis”. Kronis karena ini bukan sekedar down… data-data sampe hilang. Dan parahnya aku ngga pernah bikin back up untuk postingan blog. Tapi bagus juga… space jadi kosong… jadi serasa di rumah baru nih. Klo ngga ada kayak gini aku rada bingung juga delete-delete files yang ngga perlu.

[Kadang kita ngga punya keberanian buat ngapus memori tentang hidup. Thanks for the "server down"]

Begitulah… atas desakan salah seorang penggemar *lirik Guido* akhirnya blog ini dibuka kembali saudara-saudara… Welcome to my life!

Posted in Blog | Tagged | 9 Comments

Dina’s Wedding

Waktu bisa terasa begitu lambat,
… atau begitu c e p a t …

Kupejamkan mataku. Kubiarkan diriku meresap dalam waktu; memutar balik arlojinya Chronos, sampai ketika kamu masih seorang gadis kecil.

Masih kuingat ketika kita bermain-main di bukit belakang rumah, memanjat pohon jambu agar bisa melihat rumah-rumah penduduk dari ketinggian…

Masih kuingat ketika kita ikut-ikutan menanam jagung dengan sebisa mungkin ngga memperlihatkan gigi-gigi kita yang ompong karena percaya ntar jagungnya bisa ikut-ikutan ompong (dan akhirnya jagungnya ompong beneran!)

Dan masih kuingat ketika kita bakar ubi (sampai gosong), namun kita masih bisa tertawa dan menyantapnya dengan lahap…

[dan waktu terus berjalan]

Tanpa terasa gadis kecil itu semakin dewasa. Dan masih banyak kisah yang terlintas di kepalaku.

Tawa… tangis…
marah… pertengkaran…
kesediahan… bahagia…
dan semua rasa yang ada…

Wah! Tanpa kusadari mungkin aku ada di separuh lebih waktu hidupmu.

Kepompong tak selamanya menjadi kepompong. Dia kan mengalami metamorfosis untuk akhirnya menjadi kupu-kupu yang cantik. Begitu juga dia – dan waktu terasa jadi begitu singkat. Puluhan tahun hanya seperti sekejap mata.

Kini si kupu-kupu telah menemukan rumah untuk berteduh “Selamat menempuh hidup baru buat my sister, Dina” Moga bahagia n awet mpe kakek nenek. Kasiin aku ponakan yang lucu-lucu ye… :)

Posted in Personal Life | Tagged , | Leave a comment

Perubahan

Not like I really care with what people said, but I think 6 years make people changes. And not having boy friend is not the parameter. And why is in this world people think that having those kind relationship is the most important things in life? Where that shallow thinking comes from?Astri Prima Devi

Lalu salah ngga ketika kita bertemu orang trus kita berkomentar, “Wah, ternyata kmu ngga berubah ya!” – aku pun termasuk orang yang berkomentar begitu setalah hampir 3-4 tahun ngga ketemu kamu As. Bukannya ngga melihat yang berubah dari kamu. Tapi ternyata masih banyak yang ngga berubah. Misalnya ehmm… kamu masih aja tinggi. Ha ha ha  (emang bisa tambah pendek ya?). Mau gimana lagi, jangan bosen deh denger komentar orang kalau kamu itu tinggi, kan kenyataan :D

Parameter perubahan, apa sih yang bisa dinilai orang ketika setelah sekian lama ngga ketemu? Pertama sih fisik. Karena itu yang paling awal tertangkap oleh mata kita. So, klo dulunya kurus n sekarang tetep aja kurus- meski pola pikirmu uda berubah jauh, jangan salahkan orang menilai kamu ngga berubah. Itukan hanya statement awal aja.

Hidup itu adalah perubahan. Tidak berlebihan bila dikatakan tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri.

Siap ngga siap, mau ngga mau, perubahan itu pasti kan terjadi. Akan menjadi masalah kalo kita ngga siap untuk menerima perubahan. Lahir-hidup-mati, adalah perubahan yang PASTI. Namun sering kita masih ngga siap untuk menerima semua itu…

Posted in Renungan | Tagged | Leave a comment

Mengejar Ujung Pelangi

Be Happy

Aku lagi baca buku berjudul “Be Happy” karya Sri Dhammananda, sebuah buku bersampul hitam dengan gambar mr.smile di covernya. Pada sampul belakangnya, tertulis kata-kata berikut:

Bagi kebanyakan orang, takut dan cemas tampaknya sudah menjadi bingkisan dari kehidupan manusia. Langkah penting untuk mengatasi takut dan cemas adalah memahami bahwa mereka adalah buatan kita sendiri. Mereka muncul karena ketidakmampuan untuk memahami diri sendiri sepenuhnya dan melihat sesuatu dalam cara pandang yang benar. Jika cemas dan takut adalah buatan kita sendiri, tentunya kita sendiri akan mampu mengatasinya.

Menarik, sering kali kita terjebak oleh rasa takut dan cemas yang sesungguhnya kita buat sendiri. Jika sudah demikian, maka kita sibuk mencari yang namanya KEBAHAGIAN (pake huruf gede neh, tebel pula!).

Ada sebuah iklan minuman, diceritakan seorang cewe lagi curhat ke temennya setelah dia ngelihat cowonya lagi jalan ama cewe lain. Tapi begitu dia minum minuman yang lagi di bawa ama temennya itu, tiba-tiba semua dibawa enjoy aja. Keadaan yang pada mulanya bikin dia sedih, tiba-tiba hilang begitu saja karena minuman! Memang rada lucu, aneh, dan menggelitik. Iklan itu bikin aku berfikir. Apa sih sebenernya yang ditawarkan iklan itu? Yah KEBAHAGIAN (huruf gede lagi).

Janganlah mengejar kebahagiaan seperti mengejar ujung pelangi. Karena tak akan kau temukan di luar, apa yang sesungguhnya ada di dalam. Semakin menginginkan dan mengejar kebahagiaan, sesungguhnya kita semakin menjauh darinya. Pelangi akan terasa indah jika kau pandangi dari jauh. Ketika mencoba untuk menggenggamnya, sesungguhnya pelangi bukanlah apa-apa. Dia tak bisa digenggam dan dijadikan “milik-KU”, tapi terimalah pelangi itu sebagai sebuah pelangi…

Posted in Book, Renungan | Tagged , , | Leave a comment

Suicide (Sebuah Percakapan dengan Hujan)

Sore ini, lagi tidur-tiduran setelah bikin tugas buat ujian, tiba-tiba aku dikagetkan ama bunyi HP yang kebetulan saat itu deket banget dari kupingku. Kulihat nama di layar, sebut saja Rain (bukan nama sebenarnya).

Death!” Terdengar suara Rain dari ujung sana.

“Ya?” Entah bilang ‘death‘ atau ‘Ded’ kujawab aja suara lemah itu.

[Hening... sesekali terdengar isak tangis...]
“Aku… ingin mati…”

“Hah!?” Aku langsung ngelonjak dari posisi tiduran ke posisi duduk.

“Aku cape… aku bosen hidup… aku pengen suicide…”

“Eh wait wait… Rain, kamu kenapa?” Tak ada jawaban… “Hey… kamu kenapa sih?” Aku coba ngulang pertanyaan seolah tadi dia ngga denger. Masih tak ada jawaban. “Huuff *hembusin nafas* Aku bingung… apa sih yang bisa bikin orang seperti kamu pengen bunuh diri? Ayo cerita…”

“Cowokku Ded…” Aha! Masalah cinta rupanya! “Dia bener-bener bikin aku kecewa… dia yang aku harepin untuk bisa ngertiin aku… tapi nyatanya ngga…”

Aku cuma diem….

“Tadi aku bertengkar hebat ama dia. Mungkin semuanya akan berakhir…” Lanjutnya. Lalu dia mulai cerita tentang masalahnya. “Bla bla bla bla bla…. Aku ingin mati. MATI!!! ” katanya di akhir cerita.

“Rain… kamu itu cantik, pintar pula… apa-apa juga uda tersedia. Coba deh pikir dengan tenang, apa ngga terlalu bodoh untuk mengakhiri semua itu dengan kematian?” Aku coba nenangin dia…

“Apa arti semua itu klo aku ngga pernah ngerasain bahagia. Hidupku ngga pernah bahagia! Aku selalu menderita, Ded!”

Dalam hati aku berfikir, wajah cantik, pintar, dari keluarga berkecukupan… tapi masih bilang ngga pernah bahagia?! Ugh… manusia memang ngga pernah merasa puas. Manusia sering kali ngga bisa mensyukuri apa yang dia punya. Sedangkan bagi orang lain, keadaan seperti itu cuma mimpi!

“Yah tapi itulah hidup Rain, hidup itu memang derita…”

“Makanya aku pingin mati!”

“Kamu yakin klo mati adalah jalan keluarnya? Kamu percaya reinkarnasi? Surga Neraka? Bisa saja setelah mati kamu akan lahir kembali dalam keadaan yang jauh lebih menderita dari sekarang. Tak ada lagi wajah cantik… tak lagi berkecukupan… atau bisa saja kamu lahir di Neraka dan kamu akan menghabiskan hari-harimu di sana…!”

TAPI AKU TERTEKAN!!!” Dia mulai menjerit mpe bikin kupingku sakit. Lalu dia mulai nangis lagi…

[hening sejenak]

“Lalu apa yang kamu inginkan?…hmm… selain mati tentunya…”

“Aku mau dia berubah…” Nada suaranya mulai turun… “Aku mau dia bisa ngertiin aku…”

“Rain… disaat seseorang mengharapkan orang lain untuk berubah, disitulah sebenernya dia membuat penderitaan bagi dirinya sendiri. Kita ngga bisa ngerubah orang lain. Yang bisa kita rubah adalah diri kita sendiri…” Kataku (sok) bijak. “Apa sih yang kamu harapkan dengan bunuh diri? Melarikan diri dari masalah? PENGECUT! Membuat dia merasa berdosa karena telah membuatmu tertekan? Membuatku merasa bersalah karena sebagai orang terakhir yang bicara ama kamu, aku ngga bisa mencegah kamu untuk bunuh diri? NGGA AKAN Rain! Aku ngga akan merasa bersalah klo pada akhirnya kamu bunuh diri. Setidaknya aku sudah nyoba ngasi tau sebisaku. Dan aku juga akan meyakinkan cowomu klo itu juga bukan kesalahannya. Semua perbuatan, diri sendirilah yang harus bertanggung jawab.”

Rain cuma diam… terisak…

“Orang mungkin akan berkomentar, ‘Bodoh sekali Rain, cantik, pinter, kaya tapi bunuh diri karena masalah cinta’ Lalu perlahan orang akan melupakanmu…Kehidupan orang lain akan berjalan apa adanya Rain… yang tersisa cuma penyesalanmu. Kamu sendiri Rain. BUKAN orang lain!”

Rain masih terdiam…

“Satu lagi Rain, klo kamu mati aku pastikan aku ngga akan dateng ke pemakamanmu. Aku ngga suka orang yang ngga bisa menghargai hidup. Rain, klo ibarat kucing…manusia punya 9 nyawa, aku sudah kehilangan 6 nyawa! Dan aku bersyukur masih hidup sampai sekarang. Hidup itu terlalu berharga untuk diakhiri dengan bunuh diri…”

Setelah itu kedengerannya sih dia mulai tenang. Huff… setidaknya aku sudah katakan apa yang aku ingin katakan. Masalah besok Rain mati karena suicide. I DON’T CARE! REALLY !!!

Posted in Renungan | Tagged , , | 1 Comment

Bengkala: Deaf Village part III

Bengkala: Deaf Village :

  1. Bengkala: Deaf Village part I
  2. Bengkala: Deaf Village part II
  3. Bengkala: Deaf Village part III

Maksud dari tulisan ini: Manusia sering kali tak pernah puas terhadap diri mereka. Selalu saja ingin lebih dan lebih. Dan sering kali manusia ngga bisa menggunakan apa yang mereka miliki dengan sebagai mana mestinya. Ada orang yang sangat kesal (sampai bunuh diri) gara-gara ngga dibeliin sepatu oleh orang tua mereka. Dia lupa… kalau di luar sana ada orang yang malah ngga punya kaki untuk dipasangi sepatu.

Bengkala Kids

Sudah seberapa sering kita menggunakan mulut kita tidak dengan semestinya. Seberapa sering kita menggunakan mulut ini untuk membicakan hal-hal yang ngga baik tentang orang lain… Cobalah ingat, bahwa ada orang-orang di luar sana yang ingin sekedar berkata “Terimakasih” saja ngga bisa…Begitu juga dengan telingat, mata, tangan, badan… dan hati…

Janganlah selalu mendongakkan kepala ke atas! Sekali-sekali lihatlah ke bawah… maka kita akan bisa belajar untuk mensyukuri apa yang ada pada diri kita…

Posted in Health, Renungan | Tagged , , , | Leave a comment

Bengkala: Deaf Village part II

Bengkala: Deaf Village :

  1. Bengkala: Deaf Village part I
  2. Bengkala: Deaf Village part II
  3. Bengkala: Deaf Village part III

Tahun 1980an dilakukan pemetaan gondok di daerah Bali. Oleh beberapa orang peneliti, ditemukan sesuatu yang janggal dimana banyak penduduk Desa Bengkala yang tuli bisu. Saat itu Desa Bengkala merupakan daerah yang terisolir yang sulit untuk bersosialisasi dengan daerah sekitarnya. Menurut catatan sejarah yang ada di perpustakaan Kota Singaraja (Singaraja = Buleleng -red), hal ini sudah terjadi sejak 200 tahun yang lalu!

Menurut Friedman et al (1995):

Two percent of the residents of Bengkala, Bali, have profound, congenital, neurosensory, nonsyndromal deafness due to an autosomal recessive mutation at the DFNB3 locus. We have employed a direct genome-wide disequilibrium search strategy, allele-frequency-dependent homozygosity mapping (AHM), and an analysis of historical recombinants to map DFNB3 and position the locus relative to flanking markers. DFNB3 maps to chromosome 17, closest to D17S261, pRM7-GT and D17S805. In individuals homozygous for DFNB3, historical recombinant genotypes for the flanking markers, D17S122 and D17S783, place DFNB3 in a 5.3 cM interval of the pericentromeric region of chromosome 17 on a refined linkage map of 17p-17q12. Based on conserved synteny, the murine sh2 gene may be the homologue of DFNB3.

Dengan kata lain, telah terjadi mutasi genetik yang bersifat resesif dan dapat diturunkan. Bahkan tadi pun aku masih menemukan bayi yang mengalami kelainan ini. Sekilas dari luar tak nampak kelainan. Liat deh… gemesin banget ya? Tapi jika kita mencoba memberi rangsangan bunyi-bunyian, maka bayi ini ngga memberi reaksi terhadap bunyi-bunyian itu. Catatan: Kedua orang tua dan 3 kakak si bayi juga mempunyai kelainan yang sama.

Bengkala Baby

Tumbuh dalam suatu komunitas kolok, mereka mempunyai cara berkomunikasi tersendiri. Mereka mempunyai language sign yang khas dan tentu saja berbeda dengan language sign international. Tadi aku sempet belajar sedikit language sign mereka n sempet “bercakap-cakap” dengan seorang bapak yang mempunyai kelainan ini. Setidaknya dari percakapan itu aku bisa nangkep klo bapak itu seorang petani dan mempunyai 3 ekor sapi, 2 jantan 1 betina :D

Bengkala Man

Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Dari sisi biomolekuler, dapat dilakukan perbaikan terhadap rantai mitokondria yang mengalami kelainan. Hal ini memang tidak dapat menyembuhkan si penderita. Setidaknya diharapkan tidak menurun terhadap anak-anak mereka. Namun tentu saja hal ini bukan hal mudah. Perlu BIAYA (read: money money money) yang sangat besar. Yep, emang ujung-ujungnya duit. Yah… tapi memang begitulah…

Selain itu, karena ini bersifat resesif (akan menurun bila bertemu dengan genetik yang sama) , maka diusahakan tidak terjadi perkawinan antar penderita kelainan ini. [Mengingat dulu Bengkala merupakan daerah yang terisolir, maka perkawinan ini tak dapat dihindarkan]. Maka usaha-usaha yang telah dilakukan adalah membuka akses daerah ini ke dunia luar sehingga akan terjadi pembauran dengan masyarakat luar. Dan tentu saja masyarakat di sekitarnya diberi pengertian klo ini bukanlah merupakan penyakit menular. Dan pas yankes tadi, aku amati masyarakat sekitar bisa membaur dengan sangat baik dengan komunitas ini.

Posted in Health | Tagged , , , | Leave a comment