Sore ini, lagi tidur-tiduran setelah bikin tugas buat ujian, tiba-tiba aku dikagetkan ama bunyi HP yang kebetulan saat itu deket banget dari kupingku. Kulihat nama di layar, sebut saja Rain (bukan nama sebenarnya).
“Death!” Terdengar suara Rain dari ujung sana.
“Ya?” Entah bilang ‘death‘ atau ‘Ded’ kujawab aja suara lemah itu.
[Hening... sesekali terdengar isak tangis...]
“Aku… ingin mati…”
“Hah!?” Aku langsung ngelonjak dari posisi tiduran ke posisi duduk.
“Aku cape… aku bosen hidup… aku pengen suicide…”
“Eh wait wait… Rain, kamu kenapa?” Tak ada jawaban… “Hey… kamu kenapa sih?” Aku coba ngulang pertanyaan seolah tadi dia ngga denger. Masih tak ada jawaban. “Huuff *hembusin nafas* Aku bingung… apa sih yang bisa bikin orang seperti kamu pengen bunuh diri? Ayo cerita…”
“Cowokku Ded…” Aha! Masalah cinta rupanya! “Dia bener-bener bikin aku kecewa… dia yang aku harepin untuk bisa ngertiin aku… tapi nyatanya ngga…”
Aku cuma diem….
“Tadi aku bertengkar hebat ama dia. Mungkin semuanya akan berakhir…” Lanjutnya. Lalu dia mulai cerita tentang masalahnya. “Bla bla bla bla bla…. Aku ingin mati. MATI!!! ” katanya di akhir cerita.
“Rain… kamu itu cantik, pintar pula… apa-apa juga uda tersedia. Coba deh pikir dengan tenang, apa ngga terlalu bodoh untuk mengakhiri semua itu dengan kematian?” Aku coba nenangin dia…
“Apa arti semua itu klo aku ngga pernah ngerasain bahagia. Hidupku ngga pernah bahagia! Aku selalu menderita, Ded!”
Dalam hati aku berfikir, wajah cantik, pintar, dari keluarga berkecukupan… tapi masih bilang ngga pernah bahagia?! Ugh… manusia memang ngga pernah merasa puas. Manusia sering kali ngga bisa mensyukuri apa yang dia punya. Sedangkan bagi orang lain, keadaan seperti itu cuma mimpi!
“Yah tapi itulah hidup Rain, hidup itu memang derita…”
“Makanya aku pingin mati!”
“Kamu yakin klo mati adalah jalan keluarnya? Kamu percaya reinkarnasi? Surga Neraka? Bisa saja setelah mati kamu akan lahir kembali dalam keadaan yang jauh lebih menderita dari sekarang. Tak ada lagi wajah cantik… tak lagi berkecukupan… atau bisa saja kamu lahir di Neraka dan kamu akan menghabiskan hari-harimu di sana…!”
“TAPI AKU TERTEKAN!!!” Dia mulai menjerit mpe bikin kupingku sakit. Lalu dia mulai nangis lagi…
[hening sejenak]
“Lalu apa yang kamu inginkan?…hmm… selain mati tentunya…”
“Aku mau dia berubah…” Nada suaranya mulai turun… “Aku mau dia bisa ngertiin aku…”
“Rain… disaat seseorang mengharapkan orang lain untuk berubah, disitulah sebenernya dia membuat penderitaan bagi dirinya sendiri. Kita ngga bisa ngerubah orang lain. Yang bisa kita rubah adalah diri kita sendiri…” Kataku (sok) bijak. “Apa sih yang kamu harapkan dengan bunuh diri? Melarikan diri dari masalah? PENGECUT! Membuat dia merasa berdosa karena telah membuatmu tertekan? Membuatku merasa bersalah karena sebagai orang terakhir yang bicara ama kamu, aku ngga bisa mencegah kamu untuk bunuh diri? NGGA AKAN Rain! Aku ngga akan merasa bersalah klo pada akhirnya kamu bunuh diri. Setidaknya aku sudah nyoba ngasi tau sebisaku. Dan aku juga akan meyakinkan cowomu klo itu juga bukan kesalahannya. Semua perbuatan, diri sendirilah yang harus bertanggung jawab.”
Rain cuma diam… terisak…
“Orang mungkin akan berkomentar, ‘Bodoh sekali Rain, cantik, pinter, kaya tapi bunuh diri karena masalah cinta’ Lalu perlahan orang akan melupakanmu…Kehidupan orang lain akan berjalan apa adanya Rain… yang tersisa cuma penyesalanmu. Kamu sendiri Rain. BUKAN orang lain!”
Rain masih terdiam…
“Satu lagi Rain, klo kamu mati aku pastikan aku ngga akan dateng ke pemakamanmu. Aku ngga suka orang yang ngga bisa menghargai hidup. Rain, klo ibarat kucing…manusia punya 9 nyawa, aku sudah kehilangan 6 nyawa! Dan aku bersyukur masih hidup sampai sekarang. Hidup itu terlalu berharga untuk diakhiri dengan bunuh diri…”
Setelah itu kedengerannya sih dia mulai tenang. Huff… setidaknya aku sudah katakan apa yang aku ingin katakan. Masalah besok Rain mati karena suicide. I DON’T CARE! REALLY !!!
Weker Inside
Waktu SMU, aku punya kebiasaan susah bangun pagi. Biar kata uda pasang 2-3 weker tetep aja susah. Klo wekernya deket, tinggal geplok langsung mati alarmnya. Klo jauh… suaranya ngga cukup buat bikin bangun. Ha ha ha… Untungnya uda akrab ama pak satpam, tapi seru juga kucing-kucingan ama mr. Headmaster (Sorry ye pak Tumbuh). Papaku pernah ngasi nasehat, “Sebenernya klo kita uda bertekad buat bangun pagi, ngga pake weker pun kita bisa bangun pagi”. Waktu itu sih ngga terbukti, apa karena tekadku buat bangun pagi kurang kuat ye? Tauk de…
Berbeda sewaktu dua bulan di bagian Pediatri, terutama pas stase di ruang Neonatus (Bayi). Bayangin aja… jam 4 pagi uda musti di RS buat follow up pasien. Untungnya kebiasaan susah bangun pagi uda lama hilang. Kebiasaan bangun uda standar gitu… pasang weker… bunyi… bangun aja.
Kebiasaan bangun pagi selama di situ ternyata berlanjut ke 1 minggu setelahnya. Yah… meski di bagian Radiologi masukknya jam 7.30 pagi aku bangunnya jam 3 pagi! WTF! Dan cetet, TANPA WEKER. Uda kayak otomatis gitu… mungkin klo ngaca uda ada label “Weker Inside” di jidatku.
Tapi yah, seperti kataku… cuma bertahan 1 minggu. Tadi pagi pas bangun, mulet-mulet bentar… nyaman banget rasanya… pas liat jam, *JREEENGGG* 7.15 !!! Whoaaaaaaaa… Gedebak gedebuk dah!
Hufff… pagi yang yang melelahkan…