Hidup Senang, Mati Tenang

by Deddy Andaka on March 4, 2009

Ajahn Brahm di Bali : Hidup Senang Mati TenangKemarin saya menghadiri sebuah acara Dhamma Talk yang dibawakan oleh Ajahn Brahm di Sanur Pradise Plaza Hotel, Bali. Acara ini sekaligus sebagai penutup dari ceramah Tour de Indonesia 2009 beliau, setelah berkeliling di beberapa kota di Indonesia, yaitu: Palembang, Sukabumi, Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar.

Acara ini juga bersamaan dengan dilaunchingya sebuah buku berjudul “Hidup Senang, Mati Tenang” terbitan ehiPassiko Foundation yang merupakan kumpulan ceramah dan artikel Ajahn Brahm dalam beberapa tahun terakhir. Sungguh sebuah kerja keras yang putut diacungi jempol bagi pak Handaka Vijjananda; pendiri ehiPassiko Foundation beserta team.

Yang menarik dari ceramahnya Ajahn Brahm, atau yang sering disebut “Bhikkhu Bule“, adalah beliau membawakannya dengan fun dan sering kali membuka pikiran kita pada gagasan-gagasan baru. Seperti misalnya ketika ditanya pendapat beliau tentang penggunaan nama Buddha untuk sebuah bar, Ajahn Brahm menceritakan pengalamannya ketika diwawancarai oleh seorang wartawan. Wartawan itu bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan bila mendapatkan seseorang membuang kitab suci Agama Anda ke dalam toilet?“. Mau tau jawabannya?

Beliau menjawab, “Hmm… Yang pasti saya akan menghubungi tukang ledeng:mrgreen: Terbayang kan apa jadinya bila Tripitaka yang kalau dibukukan bisa sebanyak 3 keranjang itu dimasukkan ke dalam toilet? Iya, segala sesuatu tidak selalu harus ditanggapi dengan kemarahan. Disaat pikiran kita tenang dan sadar, maka akan muncul persepsi-persepsi lain yang lebih baik ๐Ÿ˜‰

Be Healthy, Be Happy!

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)

{ 40 comments… read them below or add one }

Anonymous January 1, 1970 at 8:00 am
tipis March 4, 2009 at 5:18 pm

wah humoris juga ya dok ๐Ÿ™‚ cuman kadang tiap orang kan berda dalam menerimanya. ada yg senang, biasa saja, malah ada yang tersinggung atau sebagainya. apalagi masalah agama kan asngat sensitif ๐Ÿ™‚

Reply

Deddy Andaka, dr March 4, 2009 at 5:25 pm

Klo gitu, masalahnya ada di mana ya? ๐Ÿ˜‰

Reply

Sirno Hilang Kerthaning Bhumi March 6, 2009 at 5:00 pm

Bisa dibayangkan hebatnya pengalaman hidup Ajahn Brahm. Seorang Master Fisika Theori mendalami Buddhisme dan meditasi beliau sudah advance…dahsyat Man !

Reply

Deddy Andaka, dr March 8, 2009 at 6:03 am

Jadi inget kata-katanya Albert Einstein : “If there is any religion that would cope with modern scientific needs it would be Buddhism”

Reply

Martha March 4, 2009 at 5:30 pm

Hhhmmm… Bener2 meng-inspirasi tuh acara kemaren ๐Ÿ˜†
Moga2 Ajahn Brahm mau dateng lagi ke Bali untuk berbagi kisah indah tentang kehidupan ini ๐Ÿ™‚

Reply

Deddy Andaka, dr March 4, 2009 at 9:26 pm

Iya, dan semoga kita masih mendapat kesempatan untuk mendengarkan “cerita2” beliau…

Reply

wira March 4, 2009 at 5:37 pm

wah… salute deh dengan orang yang bisa seperti itu..

Reply

Deddy Andaka, dr March 4, 2009 at 9:28 pm

jawaban-jawaban yang diberikan memang sering kali mengejutkan…

Reply

HeLL-dA March 4, 2009 at 7:34 pm

Jawabannya mantep, Dok!
๐Ÿ˜€

Semoga saya juga bisa “hidup senang, mati tenang”.

Reply

Deddy Andaka, dr March 4, 2009 at 9:30 pm

Semua orang bisa kok. Asalkan mau berusaha…

Reply

Sarimin March 5, 2009 at 1:47 am

Mmmm…No Comment! ๐Ÿ™‚

Reply

Permana Jayanta March 5, 2009 at 2:21 am

๐Ÿ˜€ Hehehe, pinter juga jawabannya …

Reply

Yulia Siskawati March 4, 2009 at 9:31 pm

gawat donk, kalo buang air nga bs di fluss??? Bauuuuuu!!!!

Reply

Hariyasa Sanjaya March 5, 2009 at 12:06 am

Dalam hal Tripitaka, Weda yg dibuang ke toilet: saya sepaham dengan Gus Dur. Bahwa TUHAN tak perlu dibela. Tuhan tidak mesti selalu dibesar-besarkan. Mengapa kita tidak pernah mengecilkan tuhan yg mampu menjadi lebih kecil dari apapun yang terkecil. TUHAN dan tuhan tak akan terBESARkan dan terkecilkan hanya oleh kata PUJIAN dan kata makian kita.

Reply

Arya Santosa March 5, 2009 at 1:39 am

Ya Ded, yang penting adalah tetap sadar. Orang mampu melakukan apapun, tetapi kita juga mampu mengendalikan reaksi kita. Kita kan penguasa atas diri kita, kalo kita sadar…

Reply

ceppy68 March 5, 2009 at 12:13 pm

Kepinginnya sih kaya gitu

Reply

snydez March 5, 2009 at 12:33 pm

Beliau menjawab, โ€œHmmโ€ฆ Yang pasti saya akan menghubungi tukang ledengโ€

sebuah jawaban yang “open minded (euh grammar? :P)” dan juga “out of the box” dan “smart” ๐Ÿ™‚

Reply

Deddy Andaka, dr March 5, 2009 at 6:16 pm

Seringkali kita malah memerlukan jawaban-jawaban yang seperti itu…

Reply

Tony wijaya September 28, 2010 at 8:07 pm

jawaban “bhante bule” itu sangat pas dan langsung pada sasarannya & solusinya ya toilet khan jadi buntu bro… truzzzzzzzz….ya manggil tukang ledeng …wkwkwkwkwkwk

Reply

Blogpreneur March 5, 2009 at 6:19 pm

bagaimana pun harus ada pengertian… seengaknya boleh lah dia make merknya itu, tapi jangan di INdonesia…ini kandang kita !!!

Reply

Robin Hendra Wibowo March 5, 2009 at 9:18 pm

Very good speech by Ajahn Bramn

Reply

ipanks March 6, 2009 at 10:40 am

hehehe santai banget yap jawabnya.

Reply

Sukma March 6, 2009 at 12:25 pm

Sesungguhnya ada “marah” yang semestinya dibutuhkan (proporsional) sebagai bentuk ungkapan dari rasa cinta dan memiliki ataupun menjadi bagian dari sesuatu.

Logika sederhananya begini…

Saat orang yang kita cintai (dalam hal ini istri atau anggota keluarga lainnya) dilecehkan atau bahkan -maaf- diperkosa oleh orang lain, apakah kita tetap memilih diam tanpa “marah” dan tenang tanpa pembelaan? ๐Ÿ™„

Reply

Deddy Andaka, dr March 8, 2009 at 5:57 am

Saya ingin mengutip sebuah komentar yang muncul ketika tulisan ini saya publish di Facebook Notes :

Dalam hal Tripitaka, Weda yg dibuang ke toilet: saya sepaham dengan Gus Dur. Bahwa TUHAN tak perlu dibela. Tuhan tidak mesti selalu dibesar-besarkan. Mengapa kita tidak pernah mengecilkan tuhan yg mampu menjadi lebih kecil dari apapun yang terkecil. TUHAN dan tuhan tak akan terBESARkan dan terkecilkan hanya oleh kata PUJIAN dan kata makian kita.

Proporsional…! ๐Ÿ˜‰

Reply

balita March 6, 2009 at 1:23 pm

Hidup Senang, Mati Tenang? Mau dongz… hehehe… ๐Ÿ™‚

Reply

Deddy Andaka March 6, 2009 at 5:28 am

@Yulia : iya kan… gawat… :)@dr. Hariyasa : Setuju dok, anima dan mahima…

Reply

Deddy Andaka March 6, 2009 at 5:29 am

@Arya : Orang yang sabar adalah orang yang sadar :D@Robin : Dateng waktu ke Sby, Bin?

Reply

Angels March 6, 2009 at 4:07 pm

icic..jaman sekarang kayaknya memang ga boleh emosian. kalo bales emosi, malah tambah kacau yah. harus diselesaikan dengan kepala dingin dlu ๐Ÿ˜€ tp kadang2 aku masih suka kelepasan sih. ga bisa ngontrol diri ๐Ÿ˜› hihi ๐Ÿ˜ณ

deddy, aku kan baca blog mu dari rss google reader, pas aku klik link ke web mu, kok malah site mu di block yah. di block ma google. katanya suspicious activity. pas aku masuk lewat andaka.com sih baik2 aja.
ga tau slah dimananya :mrgreen:

Reply

Deddy Andaka, dr March 8, 2009 at 5:59 am

Kita semua masih belajar Njel.

Suspicious activity? Wah, kenapa tuh? Ga tau ada yang kayak gitu. Hmm… ada yang bisa bantu?

Reply

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 March 6, 2009 at 5:37 pm

betul tuh

Reply

yudi March 6, 2009 at 6:49 pm

dari jawabannya bisa dibayangkan kadar bijaksana dan kedalaman ilmunya. sip ๐Ÿ˜€

Reply

winda March 6, 2009 at 9:29 pm

Full of compassion, easy going and wise … ๐Ÿ™‚

Reply

Deddy Andaka, dr March 8, 2009 at 7:03 am

tepat banget nih gambarannya tentang Ajahn Brahm ๐Ÿ˜›

Reply

yudhi March 11, 2009 at 12:03 pm

wah..wah kalau memang demikian memang kita akan hidup senang dan mati tenga ne… :mrgreen:

Reply

che_3z March 15, 2009 at 6:20 pm

hidup senang dan mati tanang????
mau bangat..:)

Reply

Dina Andaka March 15, 2009 at 12:52 pm

Memang Dhammatalk Ajahn Brahm oke banget…sangat logis..Oya ini foto besoknya pas Bodhi dana makan siang ke Ajahm yang give nama ' Bodhi' sejak dalam kandungan.. Thanks Ajahn!!

Reply

Yudhi Gejali March 17, 2009 at 9:21 am

Hidup Senang.
Mati Tenang.
Tenang itu subjektif. Demikian pula dengan Senang, itu subjektif.

Kalau ternyata seseorang pada waktu akan matinya, menjadi tidak tenang,
darimana kita tau?
seseorang yang mengatakan dia akan mati tenang, tau dari mana kita bahwa dia ternyata tidak tenang di persekian detik terakhir?

Haha…

Setuju dengan 1 hal:

GOD, HE is GOD.
Pembelaan kita tidak akan menambahiNYA.
Penghujatan kita tidak akan mengurangiNYA.

Reply

Rendy BlogHeboh March 19, 2009 at 10:37 pm

Postingnya menarik baget ni, saya suka banget, mudah2an bermanfaat..

Salam kenal ya.
Silahkan berkunjung ke BLOG HEBOH dan berkomentar ria ya, soalnya BLOG HEBOH make sistem Dofollow

Oh iyah satu lagi gabung jadi pengikut saya yah..
Di tunggu yah kedatangannya,.

Reply

faris vio January 16, 2010 at 7:57 pm

wahh klo saya tergantuk misinya.. dan kebutuhannn hehe

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: