Hidup Senang, Mati Tenang

Ajahn Brahm di Bali : Hidup Senang Mati TenangKemarin saya menghadiri sebuah acara Dhamma Talk yang dibawakan oleh Ajahn Brahm di Sanur Pradise Plaza Hotel, Bali. Acara ini sekaligus sebagai penutup dari ceramah Tour de Indonesia 2009 beliau, setelah berkeliling di beberapa kota di Indonesia, yaitu: Palembang, Sukabumi, Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar.

Acara ini juga bersamaan dengan dilaunchingya sebuah buku berjudul “Hidup Senang, Mati Tenang” terbitan ehiPassiko Foundation yang merupakan kumpulan ceramah dan artikel Ajahn Brahm dalam beberapa tahun terakhir. Sungguh sebuah kerja keras yang putut diacungi jempol bagi pak Handaka Vijjananda; pendiri ehiPassiko Foundation beserta team.

Yang menarik dari ceramahnya Ajahn Brahm, atau yang sering disebut “Bhikkhu Bule“, adalah beliau membawakannya dengan fun dan sering kali membuka pikiran kita pada gagasan-gagasan baru. Seperti misalnya ketika ditanya pendapat beliau tentang penggunaan nama Buddha untuk sebuah bar, Ajahn Brahm menceritakan pengalamannya ketika diwawancarai oleh seorang wartawan. Wartawan itu bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan bila mendapatkan seseorang membuang kitab suci Agama Anda ke dalam toilet?“. Mau tau jawabannya?

Beliau menjawab, “Hmm… Yang pasti saya akan menghubungi tukang ledeng:mrgreen: Terbayang kan apa jadinya bila Tripitaka yang kalau dibukukan bisa sebanyak 3 keranjang itu dimasukkan ke dalam toilet? Iya, segala sesuatu tidak selalu harus ditanggapi dengan kemarahan. Disaat pikiran kita tenang dan sadar, maka akan muncul persepsi-persepsi lain yang lebih baik ;)

Be Healthy, Be Happy!

This entry was posted in Book and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

39 Comments

  1. Posted January 1, 1970 at 8:00 am | Permalink
  2. Posted March 4, 2009 at 5:18 pm | Permalink

    wah humoris juga ya dok :) cuman kadang tiap orang kan berda dalam menerimanya. ada yg senang, biasa saja, malah ada yang tersinggung atau sebagainya. apalagi masalah agama kan asngat sensitif :)

    • Posted March 4, 2009 at 5:25 pm | Permalink

      Klo gitu, masalahnya ada di mana ya? ;)

    • Sirno Hilang Kerthaning Bhumi
      Posted March 6, 2009 at 5:00 pm | Permalink

      Bisa dibayangkan hebatnya pengalaman hidup Ajahn Brahm. Seorang Master Fisika Theori mendalami Buddhisme dan meditasi beliau sudah advance…dahsyat Man !

      • Posted March 8, 2009 at 6:03 am | Permalink

        Jadi inget kata-katanya Albert Einstein : “If there is any religion that would cope with modern scientific needs it would be Buddhism”

  3. Posted March 4, 2009 at 5:30 pm | Permalink

    Hhhmmm… Bener2 meng-inspirasi tuh acara kemaren :lol:
    Moga2 Ajahn Brahm mau dateng lagi ke Bali untuk berbagi kisah indah tentang kehidupan ini :smile:

    • Posted March 4, 2009 at 9:26 pm | Permalink

      Iya, dan semoga kita masih mendapat kesempatan untuk mendengarkan “cerita2″ beliau…

  4. Posted March 4, 2009 at 5:37 pm | Permalink

    wah… salute deh dengan orang yang bisa seperti itu..

  5. Posted March 4, 2009 at 7:34 pm | Permalink

    Jawabannya mantep, Dok!
    :D

    Semoga saya juga bisa “hidup senang, mati tenang”.

  6. Posted March 5, 2009 at 1:47 am | Permalink

    Mmmm…No Comment! :)

  7. Posted March 5, 2009 at 2:21 am | Permalink

    :D Hehehe, pinter juga jawabannya …

  8. Posted March 4, 2009 at 9:31 pm | Permalink

    gawat donk, kalo buang air nga bs di fluss??? Bauuuuuu!!!!

  9. Posted March 5, 2009 at 12:06 am | Permalink

    Dalam hal Tripitaka, Weda yg dibuang ke toilet: saya sepaham dengan Gus Dur. Bahwa TUHAN tak perlu dibela. Tuhan tidak mesti selalu dibesar-besarkan. Mengapa kita tidak pernah mengecilkan tuhan yg mampu menjadi lebih kecil dari apapun yang terkecil. TUHAN dan tuhan tak akan terBESARkan dan terkecilkan hanya oleh kata PUJIAN dan kata makian kita.

  10. Posted March 5, 2009 at 1:39 am | Permalink

    Ya Ded, yang penting adalah tetap sadar. Orang mampu melakukan apapun, tetapi kita juga mampu mengendalikan reaksi kita. Kita kan penguasa atas diri kita, kalo kita sadar…

  11. Posted March 5, 2009 at 12:13 pm | Permalink

    Kepinginnya sih kaya gitu

  12. Posted March 5, 2009 at 12:33 pm | Permalink

    Beliau menjawab, “Hmm… Yang pasti saya akan menghubungi tukang ledeng”

    sebuah jawaban yang “open minded (euh grammar? :P )” dan juga “out of the box” dan “smart” :)

  13. Posted March 5, 2009 at 6:19 pm | Permalink

    bagaimana pun harus ada pengertian… seengaknya boleh lah dia make merknya itu, tapi jangan di INdonesia…ini kandang kita !!!

  14. Posted March 5, 2009 at 9:18 pm | Permalink

    Very good speech by Ajahn Bramn

  15. Posted March 6, 2009 at 10:40 am | Permalink

    hehehe santai banget yap jawabnya.

  16. Sukma
    Posted March 6, 2009 at 12:25 pm | Permalink

    Sesungguhnya ada “marah” yang semestinya dibutuhkan (proporsional) sebagai bentuk ungkapan dari rasa cinta dan memiliki ataupun menjadi bagian dari sesuatu.

    Logika sederhananya begini…

    Saat orang yang kita cintai (dalam hal ini istri atau anggota keluarga lainnya) dilecehkan atau bahkan -maaf- diperkosa oleh orang lain, apakah kita tetap memilih diam tanpa “marah” dan tenang tanpa pembelaan? :roll:

    • Posted March 8, 2009 at 5:57 am | Permalink

      Saya ingin mengutip sebuah komentar yang muncul ketika tulisan ini saya publish di Facebook Notes :

      Dalam hal Tripitaka, Weda yg dibuang ke toilet: saya sepaham dengan Gus Dur. Bahwa TUHAN tak perlu dibela. Tuhan tidak mesti selalu dibesar-besarkan. Mengapa kita tidak pernah mengecilkan tuhan yg mampu menjadi lebih kecil dari apapun yang terkecil. TUHAN dan tuhan tak akan terBESARkan dan terkecilkan hanya oleh kata PUJIAN dan kata makian kita.

      Proporsional…! :wink:

  17. Posted March 6, 2009 at 1:23 pm | Permalink

    Hidup Senang, Mati Tenang? Mau dongz… hehehe… :smile:

  18. Posted March 6, 2009 at 5:28 am | Permalink

    @Yulia : iya kan… gawat… :) @dr. Hariyasa : Setuju dok, anima dan mahima…

  19. Posted March 6, 2009 at 5:29 am | Permalink

    @Arya : Orang yang sabar adalah orang yang sadar :D @Robin : Dateng waktu ke Sby, Bin?

  20. Posted March 6, 2009 at 4:07 pm | Permalink

    icic..jaman sekarang kayaknya memang ga boleh emosian. kalo bales emosi, malah tambah kacau yah. harus diselesaikan dengan kepala dingin dlu :D tp kadang2 aku masih suka kelepasan sih. ga bisa ngontrol diri :P hihi :oops:

    deddy, aku kan baca blog mu dari rss google reader, pas aku klik link ke web mu, kok malah site mu di block yah. di block ma google. katanya suspicious activity. pas aku masuk lewat andaka.com sih baik2 aja.
    ga tau slah dimananya :mrgreen:

    • Posted March 8, 2009 at 5:59 am | Permalink

      Kita semua masih belajar Njel.

      Suspicious activity? Wah, kenapa tuh? Ga tau ada yang kayak gitu. Hmm… ada yang bisa bantu?

  21. Posted March 6, 2009 at 5:37 pm | Permalink

    betul tuh

  22. Posted March 6, 2009 at 6:49 pm | Permalink

    dari jawabannya bisa dibayangkan kadar bijaksana dan kedalaman ilmunya. sip :grin:

  23. winda
    Posted March 6, 2009 at 9:29 pm | Permalink

    Full of compassion, easy going and wise … :smile:

  24. yudhi
    Posted March 11, 2009 at 12:03 pm | Permalink

    wah..wah kalau memang demikian memang kita akan hidup senang dan mati tenga ne… :mrgreen:

  25. Posted March 15, 2009 at 6:20 pm | Permalink

    hidup senang dan mati tanang????
    mau bangat..:)

  26. Posted March 15, 2009 at 12:52 pm | Permalink

    Memang Dhammatalk Ajahn Brahm oke banget…sangat logis..Oya ini foto besoknya pas Bodhi dana makan siang ke Ajahm yang give nama ' Bodhi' sejak dalam kandungan.. Thanks Ajahn!!

  27. Posted March 17, 2009 at 9:21 am | Permalink

    Hidup Senang.
    Mati Tenang.
    Tenang itu subjektif. Demikian pula dengan Senang, itu subjektif.

    Kalau ternyata seseorang pada waktu akan matinya, menjadi tidak tenang,
    darimana kita tau?
    seseorang yang mengatakan dia akan mati tenang, tau dari mana kita bahwa dia ternyata tidak tenang di persekian detik terakhir?

    Haha…

    Setuju dengan 1 hal:

    GOD, HE is GOD.
    Pembelaan kita tidak akan menambahiNYA.
    Penghujatan kita tidak akan mengurangiNYA.

  28. Posted March 19, 2009 at 10:37 pm | Permalink

    Postingnya menarik baget ni, saya suka banget, mudah2an bermanfaat..

    Salam kenal ya.
    Silahkan berkunjung ke BLOG HEBOH dan berkomentar ria ya, soalnya BLOG HEBOH make sistem Dofollow

    Oh iyah satu lagi gabung jadi pengikut saya yah..
    Di tunggu yah kedatangannya,.

  29. Posted January 16, 2010 at 7:57 pm | Permalink

    wahh klo saya tergantuk misinya.. dan kebutuhannn hehe

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting