Setiap melintas di depan bangunan Wing International RS Sanglah, saya selalu teringat kata-kata Bhante Sri Pannyavaro seperti yang termuat dalam bukunya, Bersahabat dengan Kehidupan :
Saya mendengar suatu perumpamaan, jangan-jangan dunia ini akan menjadi seperti rumah sakit. Di rumah-rumah sakit sekarang ini, apa saja ada. Gedungnya bagus, tamannya indah, ruangannya rapi, mewah, higienis, ada televisi, ada pendingin ruangan, kamar mandinya bagus dan bersih, tapi penghuninya orang sakit semua. Nanti dunia kita, rumah kita akan menjadi begitu. Bagus, mewah, modern. Kendaraan ada, televisi ada, kulkas ada, bersih higienis, tetapi penghuninya sakit semua. Sakit jiwa! Saya khawatir dunia kita sekarang bisa menjadi begitu.
Kalau orang selalu berpikir uang-uang, makan-makan, materi-materi -tetapi tidak pernah memikirkan moral, kesusilaan, cinta kasih, kehangatan, kejujuran, ketulusan -apakah dunia kita ini tidak akan menjadi rumah sakit jiwa yang besar?
Hmm… waktunya merenung sejenak…



52 Comments
iya bener dok, kok ya gk kepikiran ya. orang2 sekarang emang sudah pada sakit atau setidaknya akan menuju sakit. jalan untuk berangkat menuju sakit sangat banyak dan mudah. godaan dunia sangat indah dan tak mampu ditolak. saya juga mungkin sedang sakit nih, berburu dunia terus. untung aja belum sampai menghalalkan segala cara udah baca postingan ini jadi inget. thx ya pak dokter
Mudah2an kita ngga ikutan sakit ya mas Sandi…
wah ulasan yang menarik, jadi ingin ikut merenung juga….dunia ini memang sudah penuh dengan org yang sakit, mudah-mudahan kita bukan salahsatunya…
Atau mungkin kita tidak menyadarinya ya?
Sekarang aja udah banyak yang sakit jiwa. RSJ Bali aja 100% tempat tidurnya terisi, belum lagi yang terjaring lewat poliklinik, pelayanan gratis… Banyaaak bo’
Hehehe… semangat Ar. Pasti rame banget tuh RSJ Bangli. Pengen juga maen2 ke situ lagi. Kapan jaga? Kali aja bisa tak kunjungi ntar…
Ikut merenung, Dok..
*Kena’ banget soalnya.
Uda uda… merenungnya jangan lama-lama. Waktunya menatap realitas…
Sudah saatnya merenung mendalam akan hal ;
->dari mana kita berasal
->untuk apa kita diciptakan
->akan kemanakah kita kembali
dan kita akan melihat bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan mengumpulkan bekal…
Setuju mas. Perbanyak kumpulkan bekal karena kita tak tahu kapan waktu untuk mengumpulkan bekal itu akan habis, sedangkan perjalanan… masih sangat-sangat panjang…
tampakny memang sudah seperti itu..
di pemerintahan saja sudah byk orang-orang sehat yang sejatinya sakit jiwa jika dilihat dari perbuatannya..
semoga kita tetap ‘waras’ selalu..
Sepertinya ungkapan “Mens sana in corpore sano” sudah ngga cocok lagi ya? Banyak yang secara fisik sehat tapi mentalnya belum tentu sehat…
Idenya sama dengan postingan saya.
Tapi saya ndak nyontek lho…sbelum sy datang kesini, postingan itu sudah ada
mari kita gunakan waktu sehat kita dengan hal2 yg manfaat, sebelum datang waktu sakit nanti
Mudah2an ga sampe sakit mas. Mencegah lebih baik dari pada mengobati kan?
Mungkin juga, Dunia yang Seperti Rumah Sakit [JIWA]
tambahan, …. yang besar
ah…dokter ini bisa-bisa aja, jadi malu saya niy. Ya dokter ya filsuf juga
bukan filsuflah… hanya berbagi apa yang saya baca saja kok…
Karena itu, Saya sarankan agar dunia kedokteran mengubah paradigmanya dengan menanamkan persepsi bahwa preventive adalah yg utama, bukan kuratif! Suksema
Iya pram. Mencegah bukan hanya lebih baik dari pada mengobati. Tapi sangat jauh lebih baik!
Renungan yang bagus, dok!
Seandainya beneran jadi rumah sakit jiwa, paling tidak pasiennya nyadar kalo lagi sakit jiwa…
Mungkin gak ya?
haha… mending jangan deh…
Dalam sekali renungannya atau “sindiran”nya pada kita semua…
Serius ngga ada maksud menyindir kok mas. Maaf klo merasa tersindir
setiap melintas di wing Tradisional (kantin sebelah Wing Internasional) hehe.. =p saya lapar dok! ha3..saya mempunyai moral, tak munafik terhadap kesusilaan, senang memberi dan menerima cinta kasih, suka dengan kehangatan dan ingin orang hangat bila dekat dengan saya nantinya, kadang bisa jujur, dan mencoba untuk tulus. Dan saya sedang rawat jalan dari RSJ.. xp
Gawat Ded di situ dokter menjadi orang gila he he he dan orang gila menjadi waras he he he
Ded, Kalau menurut pandangan saya. Kita beruntung hidup dalam dunia yg penuh dengan cobaan spt ini. Dengan cobaan ini kita dapat latihan dan ujian untuk melaluinya, lulus dan memenangkannya. Hidup selalu seimbang dan adil tergantung kepada kita.Salam
mendalam sekali
Jangan dalem-dalem mas. Masih banyak hal yang tak terlihat di permukaan lho…
mungkin saja, ded.. mungkin saja. dan parahnya, kita ga lagi merasakan klo kita sakit, dikarenakan sekeliling kitapun begitu. jadi kesakitan yang wajar, apa dunk namanya?
lo donk?!! Kan bagus, banyak orang sakit dokter makin laku… Hahaha… Jgn2 aku termasuk orang2 gika itu yak!!??
betul tuh..
daleeemm banet dok
idem dengan jawaban sebelumnya
**Komentar dokter Hariyasa selalu bijak ya…..**Kalo menurutku dok, ikutilah acara Bloody Valentine tanggal 15 Februari di lapangan renon, donor darah seikhlasnya. Disana sudah tersedia satu paket :moral, kesusilaan, cinta kasih, kehangatan, kejujuran, ketulusan.:D
**Komentar dokter Hariyasa selalu bijak ya…..**Kalo menurutku dok, ikutilah acara Bloody Valentine tanggal 15 Februari di lapangan renon, donor darah seikhlasnya. Disana sudah tersedia satu paket :moral, kesusilaan, cinta kasih, kehangatan, kejujuran, ketulusan.:D
Kalo lewat depan radiologi jadi teringat kata-kata siapa dok? jowoisme dokter Danun yach?
Orang jadi dokter itu tujuannya hanya dua : menyembuhkan diri sendiri atau menyembuhkan orang lain..kayanya aku yang diri sendiri dulu deh..
Bukan hanya Rumah Sakit dok..
Tapi seperti kayak di film-film..
Nti manusia ini makin sedikit yang “hidup”, kebanyakan akan jadi “zombie”.
Hidup tapi”Gak Hidup/alias zombie”.
Mungkin manusia harus mendefinisi ulang, “apa artinya hidup?”, dan “apa artinya dunia?”.
God bless us,
Be Human, not patient, nor zombie…
Senang sekali saya bisa mampir di blog ini… Salam Kenal….
*ikutan merenung*
ya karena gak pernah tidur, gak pernah libur itulah makanya orang2 kayak kita ini jadi jagggaaa teruuus
Dunia memang mirip rumah sakit elite, nampak banyak fasilitas tapi warganya sakit semua. Memang di RS ada dokter n paramedis yang bisa menolong, tapi apalah artinya kalo pasiennya nggak mau istirahat dan nggak mau berdoa supaya sehat.
Dunia juga begitu. Meskipun banyak kesenangan materi, tapi nggak ada artinya kalo nggak mau ‘istirahat’ dengan sesekali berbuat ikhlas tanpa pamrih dan berdoa. Jika pasien yang nggak berdoa akan semakin terjerumus dalam cacat atau bahkan kematian, maka dunia yang nggak mau berdoa juga tinggal menunggu waktu aja sampai kehancuran..
alo dok…saya nulis soal Ponari dan kisah dokter nyeleneh Patch Adams nih..mohon komentarnya….mudah2 kita dijauhkan dari sakit jiwa deh…!!!
daku hanya bisa tersenyum membaca tulisan Bhante Sri Pannyavaro,dan daku setuju dengan yang dikatakan oleh beliau.dan mudah-mudahan kita tetap diberikan kebaikan yang akan selalu menuntun kita.amien
Wah…kerja di Sanglah ya dok?
Temen sy jg ada yg krj disana lho,gak dokter sich tp bidan
RS nya keren,favorit lg….jadi pingin kerja di Sanglah juga nich….. :d
Salam kenal dok…
Mencegah memang lebih baik mengobati ya dok.. Tapi kalo untuk “sakit jiwa” giman ya cara pencegahannya?
lho, bukannya dunia ini memang ‘rumah sakit’, dimana nantinya yg sudah sembuh akan masuk surga?
Mohon bantuannya untuk menanggapi pertanyaan di http://dokternasir.web.id/mengamati-memori-bayi-dari-bulan-ke-bulan/#comment-620, atas kerjasamanya terimakasih
Resep biar tidak sakit jiwa :
jangan tempatkan “DUNIA” dalam hatimu, tempatkan ia hanya dalam lintasan sesaat fikiranmu
Ada Dr Paul Nieman, tetapi ada ang sanggah, karena Dr. Nieman punya banyak hutang. Dan sudah 5 tahum proyek tetaoi tidak jalan
One Trackback
[...] rupanya dunia memang sedang sakit… Related Posts:Istirahat SejenakDunia yang Seperti Rumah SakitBlog Kedokteran (Pantas [...]