Dokter yang Baik, Seperti Apa?

by Deddy Andaka on September 5, 2008

Muara dari tulisan-tulisan saya tentang “Dokter, Tolong Baca Blog Saya“, “Dokter Dua Ribu” dan “Citra Dokter Indonesia di Mata Blogger” adalah pada sebuah pertanyaan, “Seperti apakah Dokter yang baik itu?“. Mungkin mudah saja untuk mendefinisikan dengan beberapa kata seperti apa pengacara, arsitek atau penulis yang hebat dengan melihat keberhasilannya memenangkan kasus sulit, membangun gedung-gedung dengan kontruksi terbaik atau yang selalu dapat menulis buku bestseller. Dan sebaliknya, sungguh sulit untuk mendefinisikan seperti apa Dokter yang baik. Apakah Dokter yang pintar? Rasa empati yang tinggi? Dokter yang ramah? Tarif yang murah? Tempat praktek yang bagus?

Dokter yang baik bukanlah seseorang yang dapat menyembuhkan paling banyak karena pada beberapa specialties, kesembuhan bukanlah outcome (hasil) yang sering. Bukan seseorang yang dapat membuat diagnosis terbaik karena pada beberapa kasus yang dapat sembuh sendiri (self limited) atau kelainan yang belum dapat diobati, diagnosis tidak memberikan hasil yang berbeda bagi pasien. Bukan pula seseorang yang mengetahui lebih banyak fakta-fakta ilmiah karena dalam ilmu kedokteran; ketidaktahuan masih merajalela pada beberapa penyakit. Dokter yang baik juga bukan seseorang yang lembut, berbelas asih dan jujur kepada pasiennya karena kualitas ini sering kali tidak cukup untuk tindakan medis yang efektif. Bukan pula seseorang yang menemukan fakta atau pengobatan baru karena dewasa ini informasi baru hanyalah sebuah pecahan kecil dari ilmu pengetahuan untuk dimasukkan ke dalam teka-teki penelitian biomedis yang mahabesar.

Profesi lain dapat dinilai dari hasil akhir mereka, tapi seorang dokter dapat dinilai baik ketika dia memiliki sebanyak mungkin atribut di atas.

Carlos A Rizo, Alejandro R Jadad dan Murray Enkin dari Centre for Global eHealth Innovation, University Health Network, Toronto, Canada seperti yang dimuat pada BMJ (Britis Medical Journal) Vol 325, 2002, mencoba mencari tahu Dokter seperti apa yang diinginkan orang-orang. Dari jawaban-jawaban yang didapatkan, dibuatlah beberapa point yang sering muncul sebagai berikut:

Kita semua menginginkan dokter yang dapat:

  1. Menghargai orang, sehat atau sakit, tanpa melihat siapa diri mereka.
  2. Mendukung pasien serta keluarganya kapan pun dan di mana pun mereka butuhkan.
  3. Mempromosikan kesehatan seperti halnya mengobati penyakit.
  4. Menjangkau kekuatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pasien dengan informasi terbaik yang tersedia, sambil tak lupa menghormati nilai-nilai setiap individu.
  5. Selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, membiarkan pasien berbicara, serta mendengarkan mereka dengan seksama.
  6. Memberikan saran yang jelas, membiarkan pasien berpartisipasi secara aktif dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kesehatannya, menilai setiap situasi dengan hati-hati, serta membantu apapun situasinya.
  7. Menggunakan bukti klinik sebagai alat, bukan sebagai faktor penentu pelayanan, dengan rendah hati menerima kematian sebagai bagian yang penting dari kehidupan, serta menolong pasien menyusun perencanaan yang terbaik jika kematian sudah dekat.
  8. Bekerjasama dengan anggota lain dari tim pelayanan kesehatan.
  9. Menjadi seorang pendukung yang baik bagi pasien-pasiennya, pembimbing bagi profesi-profesi kesehatan lainnya, dan siap sedia belajar dari orang lain tanpa memandang usia mereka, peran, ataupun status.
  10. Akhirnya, kita menginginkan Dokter yang memiliki kehidupan yang seimbang serta melayani dirinya sendiri dan keluarganya sebagaimana orang lain.

Secara ringkas, kita menginkan Dokter yang bahagia dan sehat, penuh perhatian dan kompeten, serta teman seperjalanan yang baik bagi orang-orang dalam petualangan yang kita sebut “kehidupan”.

~o0o~

Nah, seperti gambar di atas, bayangkan bila anda mendapatkan sebuah lampu ajaib yang dapat mengabulkan permohonan, lalu anda meminta untuk diberi Dokter yang baik, maka ini adalah sebuah pertanyaan terbuka: Menurut anda, seperti apakah Dokter yang baik itu?

Be Healthy, Be Happy!

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 9.5/10 (4 votes cast)
Dokter yang Baik, Seperti Apa?, 9.5 out of 10 based on 4 ratings

{ 11 comments… read them below or add one }

rusdi April 29, 2009 at 12:43 am

saya mau kasih masukkan (terutama utk dokter bedah/pasiennya):
1. menolong pasien tdk mampu(miskin) bukanlah “kebaikan” kita, tapi itu hanya sekedar membayar “UTANG” INGAT waktu sekolah/residen yang mau ditolong {Praktek} itukan hanya orang tdk mampu/miskin.

2. utk calon2 pasien2 selalulah menggunanaakan 2nd Opinion ke dr.Bedah lain (sebaiknya ke RS Pemerintah, biasanya dr2 nya lebih idealis/berpandangan akademis -maksudnya unsur “setorannya” kurang) . .Dr.Bedah yg baik/bagus bukanlah dokter bedah yang menyembuhkan dengan Pembedahan tapi yg baik itu Sem buh tanpa Pembedahan(misalnya hanya dengan obat2an, atau prosedur yg minimal (misalnya dengan pembiusan lokal, (tapi hati2 bukan spt dukun sembuh tanpa pembedahan.
3. selalu minta resep obat generik, karena semua obat sama yg beda harganya.
4. masih banyak tip2 lain (mungkin ada yg mau menambahkan) ngetiknya cape lain kali disambung

Reply

dr fajar September 3, 2009 at 6:15 pm

Ass. :
Cari dokter yang baek susah. Jaman sekarang yang dipikir hanya materi. Jarang yang memikirkan sebuah nilai. Yuk kita mempebaiki diri. Met menunaikan ibadah puasa.
Wass.

Reply

NN March 16, 2010 at 1:15 pm

saya seorang calon mahasiswa kedokteran,, apakah nanti di ajarkan cara menangani paisen yang sulit diatur agar kita tetap sabar menghadapai pasien tersebut ??

Reply

Imam Ciptarjo April 28, 2010 at 12:13 pm

setubuh eh setuju….

Reply

Lisa May 2, 2011 at 12:59 am

Baru baca posting ini dan “citra dokter indonesia di mata blogger”,
Menurut saya, dokter yang baik adalah :

1. Dokter yang jujur
— kalau tidak mengerti / tidak mengetahui apa penyakit/sebab penyakit pasien, dengan jujur menyampaikannya kepada pasien. cerita dari teman2, seringkali, dokter seakan2 “tahu” sakit pasien itu apa dan bagaimana cara pengobatannya, tapi ternyata semua itu salah. saya tidak mengatakan bahwa dokter itu harus selalu benar. tapi seringkali, kejadiannya itu äsal diagnosa’, lalu bisa dapat ”ongkos” dari pengobatan atau operasi yang dilakukan, padahal tidak perlu. Dokter tidak perlu malu untuk mengakui kalau dia tidak tahu (tapi setelah itu, cari tahu lah).
Mungkiiin juga, dokter itu sebenarnya jujur. Dia gak tahu kalau sebab/penyakitnya adalah A, dia dengan jujur mengira itu B. Kalau ini masalahnya, saya kira merunut ke point saya yang ke-2.

2. Dokter yang kompeten
— Aktif meningkatkan kemampuan dirinya. Terutama di bidang kesehatan/kedokteran, mau meng-update ilmu-nya dengan terus mengikuti perkembangan teknologi kedokteran yang terus menerus bergulir sekarang ini, dan tidak hanya berada dalam “comfort zone”. Cari tahu-lah metode-metode terakhir, pengobatan2 terakhir, yang dapat membantu pasien. Jangan berkilah bahwa alat teknologi-nya tidak ada dsb. Jika tidak mampu (atau fasilitas kesehatan Indonesia tidak mampu), ya paling tidak, si dokter sudah tahu bahwa ada alternatif / metode yang lebih tepat bagi si pasien. Balik ke point 1, jujurlah kepada pasien, bahwa ada metode lain yang dapat membantunya, walaupun tidak dapat dilakukan oleh sang dokter. Berikanlah pasien pilihan dan informasi yang sebenarnya, sehingga pasien dapat memikirkannya dan dapat mengambil keputusan yang sebenarnya. Jangan pikirkan dulu bahwa si pasien ini mampu atau tidak, tapi sang dokter mempunyai kewajiban untuk berterus terang kepada pasiennya.
Begitu juga terhadap jenis pengobatan (obat2an) yang diberikan. Di Indonesia ini, beberapa dokter (saya berusaha utk tidak men-generalisasi), masih memberikan obat ke pasien yang di tingkat internasional sudah tidak aman lagi untuk digunakan. Mungkin, ini ketidaktahu-an saya, bahwa mungkin tingkat / standar tingkat aman Indonesia berbeda. Namun, hal ini seringkali membuat dokter2 di luar negeri yang menerima pasien indonesia yang sudah terlanjur salah minum obat, jadi berkerut-kerut dahinya. Kok masih dikasih sih???

Ada kisah dari keluarga, di mana di Bali, untuk mengambil biopsi saja, katanya harus dioperasi. Tidak ada cara lain. Padahal, di luar negeri, untuk biopsi seperti itu, hanya perlu dengan menusukkan jarum seperti mengambil darah. pasien tidak perlu dioperasi (dibedah), hasil bisa segera diketahui. Ya mungkin ini kembali lagi ke tingkat kemampuan fasilitas di negeri ini. Tapi ya ini maksud saya, cari tahulah. tingkatkanlah kemampuan / pengetahuan dokter. Si dokter tsb ketika ditanyakan apa hanya ini caranya, kan setahu kami bisa dengan cara lain, mengatakan ya hanya begini caranya. Padahal, apabila si dokter meningkatkan pengetahuannya sehingga tahu bahwa ada cara2 baru, pada saat memberitahu pasien, bisa mengatakan, “sebenarnya bisa dengan cara A, tapi berhubung di sini kami tidak memiliki fasilitasnya, maka hanya bisa dilakukan dengan cara B”. Nah, pasien walaupun pertamanya mgkn cemberut2, tapi setelah berpikir dengan jernih, bisa kemudian mengambil keputusan dengan lebih lapang dada.

3. Dokter yang mempunyai profesionalisme yang tinggi
— Sadar akan tugasnya sebagai dokter untuk membantu sesama yang lain, dengan terus mengedepankan profesionalismenya dalam menangani / membantu pasien.

4. Dokter yang tidak over-charge pasien
— Ini bukan berarti semua dokter harus men-charge 2 ribu saja ke pasiennya, tapi sewajarnya-lah. Realistis, dokter juga perlu makan. Menurut saya, dokter baik itu bukan hanya dokter yang men-charge murah untuk pasiennya. Tapi sewajarnya-lah. Saya tahu, ada dokter yang masih menerima bahan pangan / kebun sebagai imbalan dari pasiennya. Tapi tidak harus seperti itu melulu, baru menjadi dokter yang baik. Kalau cuman bayar 2 ribu atau terima pisang, tapi lalu diagnosa salah, obat yang dikasih salah, menurut saya itu lebih mengenaskan.

5. Dokter yang bisa diajak berdiskusi
— Maulah untuk berdiskusi dengan pasien mengenai kondisinya, penyakitnya, cara penanganan dan pengobatannya.

Masalah dokter berbasa-basi dengan pasien, ramah, senyum melulu, itu adalah extra dan pemanis menurut saya. Tentu saja, pasien akan lebih senang dengan dokter yang ramah dan tidak ‘sangar’. Siapa yang menolak? Tapi saya yakin, pasien akan lebih berterima kasih apabila dokter itu mempunyai 5 point di atas. Terutama sekali, apabila dokter itu kompeten.

Tingkatkan kemampuan dokter2 di Indonesia, sehingga “citra dokter indonesia” dapat diperbaiki. Lebih bagus lagi, apabila ini dibarengi dengan peningkatan fasilitas medis di Indonesia. Alat2 teknologi kedokteran sudah begitu canggih di luar sana, tapi di sini kita masih yang itu-itu saja, atau malah alatnya sudah lama, hasilnya tidak jelas (yang ini mgkn saja membuat dokter jadi salah diagnosa, karena hasil gambar — semisal X-ray– tidak jelas. Yang keliatan hitam2 di x-ray film, dikira penyakit, padahal bisa karena alatnya sudah tidak bekerja dengan baik, atau penyinaran-nya yang kurang benar).

Reply

http://Armorgames.com/user/zqkirishkdvznbu February 17, 2014 at 10:58 pm

Adoring the information on this site, you have done an incredible job on the
blogs.

Reply

Best Acne Products March 29, 2014 at 10:46 pm

I actually love the theme on your web site, I run a
site, and i would enjoy to utilize this theme.

Reply

ely April 4, 2014 at 12:52 am

dokter saya maw tanyak??
cara cepat menghilangkan panu dipipi wajah yg cukup besar tetapi sekarang panunya berwarna merah kecoklatan akibat diobati dgn ditempelkan serbuk (LAOS) terasa kulit saya terbakar dan sejak itu saya berhenti gk pkek lagy.
dan sudah saya kasih salep terasa gatal.

tpy gk ilang2.,, gimana dokk 😉

Reply

garcinia cambogia tea reviews May 20, 2014 at 2:34 am

I don’t even know how I ended up here, but I thought this post was great.

I do not know who you are but certainly you’re going to a famous blogger if
you aren’t already 😉 Cheers!

Reply

a June 20, 2014 at 6:15 am

Pretty nice post. I simply stumbled upon your blog and wished to mention that I’ve
really loved browsing your blog posts. In any case I’ll be subscribing in your feed and I’m hoping
you write again soon!

Reply

erection pills August 14, 2014 at 10:52 pm

When some one searches for his necessary thing, therefore he/she needs to be available that in detail, so that thing is maintained
over here.

Reply

Leave a Comment

Previous post:

Next post: