Dokter yang Baik, Seperti Apa?

Muara dari tulisan-tulisan saya tentang “Dokter, Tolong Baca Blog Saya“, “Dokter Dua Ribu” dan “Citra Dokter Indonesia di Mata Blogger” adalah pada sebuah pertanyaan, “Seperti apakah Dokter yang baik itu?“. Mungkin mudah saja untuk mendefinisikan dengan beberapa kata seperti apa pengacara, arsitek atau penulis yang hebat dengan melihat keberhasilannya memenangkan kasus sulit, membangun gedung-gedung dengan kontruksi terbaik atau yang selalu dapat menulis buku bestseller. Dan sebaliknya, sungguh sulit untuk mendefinisikan seperti apa Dokter yang baik. Apakah Dokter yang pintar? Rasa empati yang tinggi? Dokter yang ramah? Tarif yang murah? Tempat praktek yang bagus?

Dokter yang baik bukanlah seseorang yang dapat menyembuhkan paling banyak karena pada beberapa specialties, kesembuhan bukanlah outcome (hasil) yang sering. Bukan seseorang yang dapat membuat diagnosis terbaik karena pada beberapa kasus yang dapat sembuh sendiri (self limited) atau kelainan yang belum dapat diobati, diagnosis tidak memberikan hasil yang berbeda bagi pasien. Bukan pula seseorang yang mengetahui lebih banyak fakta-fakta ilmiah karena dalam ilmu kedokteran; ketidaktahuan masih merajalela pada beberapa penyakit. Dokter yang baik juga bukan seseorang yang lembut, berbelas asih dan jujur kepada pasiennya karena kualitas ini sering kali tidak cukup untuk tindakan medis yang efektif. Bukan pula seseorang yang menemukan fakta atau pengobatan baru karena dewasa ini informasi baru hanyalah sebuah pecahan kecil dari ilmu pengetahuan untuk dimasukkan ke dalam teka-teki penelitian biomedis yang mahabesar.

Profesi lain dapat dinilai dari hasil akhir mereka, tapi seorang dokter dapat dinilai baik ketika dia memiliki sebanyak mungkin atribut di atas.

Carlos A Rizo, Alejandro R Jadad dan Murray Enkin dari Centre for Global eHealth Innovation, University Health Network, Toronto, Canada seperti yang dimuat pada BMJ (Britis Medical Journal) Vol 325, 2002, mencoba mencari tahu Dokter seperti apa yang diinginkan orang-orang. Dari jawaban-jawaban yang didapatkan, dibuatlah beberapa point yang sering muncul sebagai berikut:

Kita semua menginginkan dokter yang dapat:

  1. Menghargai orang, sehat atau sakit, tanpa melihat siapa diri mereka.
  2. Mendukung pasien serta keluarganya kapan pun dan di mana pun mereka butuhkan.
  3. Mempromosikan kesehatan seperti halnya mengobati penyakit.
  4. Menjangkau kekuatan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung pasien dengan informasi terbaik yang tersedia, sambil tak lupa menghormati nilai-nilai setiap individu.
  5. Selalu menanyakan pertanyaan-pertanyaan terbuka, membiarkan pasien berbicara, serta mendengarkan mereka dengan seksama.
  6. Memberikan saran yang jelas, membiarkan pasien berpartisipasi secara aktif dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kesehatannya, menilai setiap situasi dengan hati-hati, serta membantu apapun situasinya.
  7. Menggunakan bukti klinik sebagai alat, bukan sebagai faktor penentu pelayanan, dengan rendah hati menerima kematian sebagai bagian yang penting dari kehidupan, serta menolong pasien menyusun perencanaan yang terbaik jika kematian sudah dekat.
  8. Bekerjasama dengan anggota lain dari tim pelayanan kesehatan.
  9. Menjadi seorang pendukung yang baik bagi pasien-pasiennya, pembimbing bagi profesi-profesi kesehatan lainnya, dan siap sedia belajar dari orang lain tanpa memandang usia mereka, peran, ataupun status.
  10. Akhirnya, kita menginginkan Dokter yang memiliki kehidupan yang seimbang serta melayani dirinya sendiri dan keluarganya sebagaimana orang lain.

Secara ringkas, kita menginkan Dokter yang bahagia dan sehat, penuh perhatian dan kompeten, serta teman seperjalanan yang baik bagi orang-orang dalam petualangan yang kita sebut “kehidupan”.

~o0o~

Nah, seperti gambar di atas, bayangkan bila anda mendapatkan sebuah lampu ajaib yang dapat mengabulkan permohonan, lalu anda meminta untuk diberi Dokter yang baik, maka ini adalah sebuah pertanyaan terbuka: Menurut anda, seperti apakah Dokter yang baik itu?

Be Healthy, Be Happy!

This entry was posted in Health and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

53 Comments

  1. rusdi
    Posted April 29, 2009 at 12:43 am | Permalink

    saya mau kasih masukkan (terutama utk dokter bedah/pasiennya):
    1. menolong pasien tdk mampu(miskin) bukanlah “kebaikan” kita, tapi itu hanya sekedar membayar “UTANG” INGAT waktu sekolah/residen yang mau ditolong {Praktek} itukan hanya orang tdk mampu/miskin.

    2. utk calon2 pasien2 selalulah menggunanaakan 2nd Opinion ke dr.Bedah lain (sebaiknya ke RS Pemerintah, biasanya dr2 nya lebih idealis/berpandangan akademis -maksudnya unsur “setorannya” kurang) . .Dr.Bedah yg baik/bagus bukanlah dokter bedah yang menyembuhkan dengan Pembedahan tapi yg baik itu Sem buh tanpa Pembedahan(misalnya hanya dengan obat2an, atau prosedur yg minimal (misalnya dengan pembiusan lokal, (tapi hati2 bukan spt dukun sembuh tanpa pembedahan.
    3. selalu minta resep obat generik, karena semua obat sama yg beda harganya.
    4. masih banyak tip2 lain (mungkin ada yg mau menambahkan) ngetiknya cape lain kali disambung

  2. dr fajar
    Posted September 3, 2009 at 6:15 pm | Permalink

    Ass. :
    Cari dokter yang baek susah. Jaman sekarang yang dipikir hanya materi. Jarang yang memikirkan sebuah nilai. Yuk kita mempebaiki diri. Met menunaikan ibadah puasa.
    Wass.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting