Dokter Dua Ribu

Pada postingan kali ini saya ingin mengutip sebuah surat pembaca yang dimuat di Bali Post hari Kamis tanggal 19 Juni 2008. Surat ditulis ulang apa adanya tanpa mengalami perubahan apa pun, kecuali alamat si pengirim yang hanya mencantumkan kotanya saja. Berikut isi suratnya :

Tersentuh dengan “Dokter Dua Ribu”

Beberapa hari yang lalu saya menonton suatu acara di televisi yang sangat mengesankan dan menggugah perhatian saya dan barangkali banyak masyarakat lainnya. Dalam acara tersebut ditayangkan kiprah seorang dokter yang bertugas di daerah Papua.

Tidak ada yang spesial dari sang dokter dari segi penampilan, sama seperti para dokter lain pada umumnya. Namun ada yang membuat si dokter ini spesial dan berbeda dari para dokter lainnya yaitu tarif yang ditarik. Setiap pasien yang berobat dikenakan biaya Rp 2.000. Kalau nominal itu tidak bisa dijangkau, pasien pun kemudian dibebaskan dari pembiayaan, alias gratis.

Sungguh sesosok paramedis yang sangat langka pada zaman ini. Ketika orang-orang dijejali dengan ambisi untuk bisa hidup mapan dengan ukuran perolehan meteri sebanyak-banyaknya, masih ada sesosok pelayan masyarakat yang memiliki perilaku yang sangat elegan. Saya merasakan beban dan penderitaan seperti inilah sejatinya yang diperlukan oleh masyarakat ketika seseorang harus menjalankan tugas dan fungsi di masyarakat. Uniknya, karena tarif yang ditarik tidak lebih dari dua ribu rupiah maka sang dokter kemudian lebih dikenal dengan sebutan Dokter Dua Ribu.

Yang membuat hati saya bertanya sekarang, adakah sosok dokter seperti ini yang mengabdi di tanah Bali atau di daerah lainnya? Kita tentu merindukan dan mengharapkan kehadiran lebih banyak lagi Dokter Dua Ribu. Di tengah himpitan ekonomi yang dialami oleh masyarakat saat ini sudah selayaknya para politisi, guru bangsa, birokrat, pemimpin untuk tidak melulu memikirkan jabatanyang hanya bersifat duniawi. Namun sebaliknya, justru diperlukan langkah nyata untuk meringankan beban masyarakat yang kian hari semakin memberatkan, seolah-olah tak bisa dipikul lagi.

Hadirnya dokter seperti ini tentu sangat diharapkan oleh masyarakat luas yang masih sangat minim mendapatkan pelayanan kesehatan yang bisa dijangkau. Apalagi sekarang ini pembiayaan kesehatan meskipun di rumah sakit pemerintah sudah tidak terjangkau oleh masyarakat miskin.

I Wayan Sutarsa
Badung

-~oOo~-

Nah, bagaimana pendapat anda setelah membaca artikel ini?

This entry was posted in Health and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

34 Comments

  1. Posted July 13, 2008 at 11:56 pm | Permalink

    wah benar² langka nih pak dokter yang beginian :) . sama seperti kisahnya suster apung di acara kick andy. saya benar² salut abis deh. hidupnya penuh pengabdian. sebenarnya masih banyak manusia langka begini tapi gak terexpose aja. terutama para pekerja sosial yang wira wiri kalo ada bencana. trus para guru dipedalaman, dokter juga. benar² istimewaaaa :)

    • Posted July 13, 2008 at 11:58 pm | Permalink

      widih pertamax gue, senengnya. secara hari gini pertamax udah mahal bgt hahaha

    • Posted July 15, 2008 at 3:38 pm | Permalink

      Mudah-mudahan setiap orang menyisipkan rasa pengabdian untuk sesama di setiap bidang yang mereka geluti masing2 ya… Dunia pun akan mejadi tempat yang lebih baik lagi… Semoga…

  2. Posted July 14, 2008 at 2:22 am | Permalink

    luar biasa pengabdian dokter itu, sesuatu yang hampir tidak mungkin kita lihat di kota, tapi kalau di pedalaman, mungkin seorang dokter yang di kota besar merupakan dokter “matre” pun akan tersentuh hatinya dan memberikan pelayanan seperti dokter di atas..

    • Posted July 15, 2008 at 3:41 pm | Permalink

      Btw, ada kok daerah kabupaten di Bali yang masyarakatnya “gratis” kalau berobat. Meski ke dokter swasta sekalipun…

  3. Posted July 14, 2008 at 3:05 am | Permalink

    semoga Deddy bisa menjadi dokter kebanggaan Bali…. hihihihihih…. aku tersentuh bacanya, Ded… jadi ga mampu berkata-kata lagih…

  4. Posted July 14, 2008 at 9:47 am | Permalink

    Mungkin penulis surat pembaca belum pernah jalan jalan di dunia maya, mungkin beliau akan terkejut juga melihat banyak dokter yang rela memberikan konsultasi dan menulis untuk membantu menyebarkan informasi kesehatan tanpa meminta bayaran sepeserpun.

    Ditengah banyaknya orang yang rakus, masih banyak juga koq orang yang baik di negeri ini.

    • Posted July 15, 2008 at 3:44 pm | Permalink

      Setuju dok. Mudah-mudahan niat baik itu selalu menyebar melebihi derasnya penyebaran niat buruk :D

  5. Posted July 14, 2008 at 1:47 pm | Permalink

    #imcw
    ya, salah satunya pak cock
    *kabur

    *balik lagi
    btw, ada nggak ya semacam standarisasi untuk tarif ke dokter gitu?

    • Posted July 15, 2008 at 4:38 pm | Permalink

      Klo dokter tersebut masuk dalam suatu sistem misalnya dalam rumah sakit atau asuransi, tentunya ada aturan untuk mengatur standarisasi tarif dokter. Tapi klo praktek swasta, tidak ada standarisasinya…

  6. Posted July 14, 2008 at 3:29 pm | Permalink

    Nampaknya di jaman seperti ini orang2 istimewa seperti ini menjadi spesies langka. Hebat ya, saya jadi ingin tahu apa yang mendasari atau apa yang membuat dokter ini mau melakukan ini semua. Apakah pengaruh keluarganya, lingkungan atau apa. Hal inilah yang lebih menarik untuk dicermati menurut saya.

    • Posted July 15, 2008 at 4:40 pm | Permalink

      Saya juga tertarik bagaimana beliau menyeimbangkan antara pengeluaran untuk penyediaan obat-obatan dengan kebutuhan hidupnya. Sayang saya belum tahu identitas dokter tersebut. Mungkin kalau tahu, bisa saya wawancarai sedikit… :)

  7. Posted July 14, 2008 at 4:35 pm | Permalink

    masih banyak orang baik di dunia ini…

    • Posted July 15, 2008 at 4:41 pm | Permalink

      dan semoga surat sederhana di atas bisa menginspirasi orang-orang untuk menjadi lebih baik lagi…

  8. Posted July 15, 2008 at 10:23 am | Permalink

    titip salam buat pak dokter… semoga ketulusannya akan digantikan pahala oleh Yang Maha Kuasa.

    • Posted July 15, 2008 at 5:34 pm | Permalink

      Tunggu sampai saya bisa menghubungi si dokter, nanti salamnya pasti saya sampaikan ;)

  9. Posted July 15, 2008 at 1:59 pm | Permalink

    nggak nyangka ada juga dokter berhati mulia. jujur, saya sebenernya trauma sama dokter dan segala hal yang berhubungan dengan dunia medis sejak SMP. :sad:
    tapi membaca kenyataan bahwa ada juga dokter berhati cahaya seperti yang diceritakan dalam artikel, minimal mengubah sedikit cara pandang saya terhadap para dokter. sebelumnya maaf buat para tenaga medis atas comment saya ini..he9.. :wink:

    • Posted July 15, 2008 at 5:53 pm | Permalink

      Intinya sih jangan digenaralisasikan saja. Ada Guru yang galak, ada yang baik. Ada Jaksa yang ‘nakal’, tentu juga ada Jaksa yang ‘lurus’. Semua kan kembali ke pribadi masing-masing… Baguslah kalau cara pandangnya jadi sedikit berubah ;)

  10. Posted July 15, 2008 at 3:03 pm | Permalink

    Berminat menambah deretan ‘Dokter Dua Ribu” mas…?
    Biar ini hidup menjadi lebih indah. Tanpa pertengkaran. Satu sama lain saling bergandengan.

  11. Posted July 15, 2008 at 3:33 pm | Permalink

    dokter itu dibayar jasanya ato servicenya.?
    terlepas dari arti seorang dokter itu adalah…. :grin:

    • Posted July 15, 2008 at 5:55 pm | Permalink

      Menurut saya sih jasanya. Tapi jaman seperti sekarang service kan tidak bisa terlepas dari jasa kan?

  12. Posted July 16, 2008 at 11:22 am | Permalink

    Namanya kok sama ya? Akhirnya aku tahu kenapa kemarin kamu bertanya apakah aku pernah nulis di surat pembaca Ded…. :oops:
    Mungkin ini hanya sebagian kecil yang terekspose ke permukaan Ded, sepertinya memang harus terus disuarakan, supaya bisa menjadi inspirasi sekaligus bahan refleksi bersama. Sepakat dengan Pak Jimmy, memang perlu dicari tahu alasan yang mendasari tindakannya…

    • Posted July 20, 2008 at 6:21 pm | Permalink

      Iya, Su… tak pikir kamu. Hehe…
      Gimana ya caranya menemukan sang dokter dua ribu?

  13. Posted July 16, 2008 at 1:25 pm | Permalink

    mohon maap sebelumnya pak dokter…
    sekarang ini kuliah kedokteran kan biaya mahal.. apalagi setelah PTN diwajibkan memakai BH yang berujung pada semakin mahalnya biaya pendidikan di PTN tersebut. tak heran sekarang banyak kelas khusus nan maha mahal…
    lha kalau sekolahnya dah habis banyak uang apa masih ada yang rela PTT atau ditugaskan di daerah terpencil?….
    masih adakah yang rela bertugas di rsud dibandingkan di rs swasta atau praktek pribadi?…
    saya yakin tidak semua dokter akan hilang idealismenya….
    paling gak dengan menjadi blogger, dokter tersebut akan lebih peka terhadap lingkungannya…
    semoga…

    :D
    BTW pak dokter nerima konsultasi SEO gak? ****ngumpet****

    • Posted July 20, 2008 at 6:23 pm | Permalink

      Masalah pendidikan yang mahal saya no comment deh. Denger2 sekarang sih memang mahal… duh, besyukur banget klo saya masuknya uda dulu. Hehe…

      Wah, konsultasi SEO? Masih banyak pakar SEO yang jago-jago mas. Saya hanya dokter yang ngeblog… ;)

  14. Posted July 28, 2008 at 1:50 pm | Permalink

    Wah klw setau saya di Denpasar yg paling murah 20ribu termasuk suntik obat dll dll….. Malah kadang di kasi gratis klw g punya uang.

    Klw tmn saya di Jember lain lagi, dianya perawat, malah penduduk lebih byk make dia daripada dokter. Untuk bayaran kadang dibawain beras, ikan, dll dll :D

    Mudah2an lebih banyak lg muncul orang2 spt itu…..

  15. sigit
    Posted July 30, 2008 at 11:23 am | Permalink

    mas andaka tidak meniru :smile: mau gak dibayar 2 rb??
    hehe :razz:

  16. LB
    Posted August 5, 2008 at 5:08 pm | Permalink

    Para Dokter yang budiman. :mrgreen:

    Saya melihat ini menjadi suatu petanda baik, mengapa ?
    1. karena dari beberapa respon teman2 sekalian, kok menjadi suatu pembenaran bahwa Biaya Pendidikan Kedokteran yang mahal menjadi salah satu faktor dominan, dokter-dokter indonesia hilang akal, hilang kendali, hilang nurani dan menjadi dokter matre ( baca “kecenderungan”), istilahnya buru2 untuk balik modal ….
    2. saya mewakili para masyarakat awam bahwa melihat bahwa dokter-dokter sekarang ini matre. Kenapa ? karena dari biaya konsultasi yang mahal tapi tidak diimbangi dengan kewajiban yang harusnya dijalankan dalam profesinya :
    ~> Memberikan pelayanan yang baik: pasien dihargai, pasien didengar keluhannya, pasien dijelaskan + dan – mengenai pengobatan yang diambil, tidak adanya second opinion, pasien diberi kesempatan untuk bertanya, pasien diperlakukan secara manusiawi bukan seolah-olah bagaikan mesin yang tidak punya perasaan ….
    3. dari beberapa artikel kesehatan, diberitakan bahwa banyak pasien yang hijrah ke luar negeri untuk berobat karena mereka merasa bahwa mereka (pasien) terpuaskan oleh pelayanan dokter disana, pasien di indonesia takut mallpraktik ….

    Apakah memang seperti itu kondisi dunia kedokteran indonesia ?

    Saya menduga, 90% adalah benar bahwa poin 1-3 diatas menjadi faktor yang melandasi keterpurukan dunia kesehatan indonesia ….

    Bagaimana pendapat dari Para Dokter dalam forum ini ?

    Nga uash takut, malu ….. yuk kita mulai bercermin, belajar bersama ….
    Saya ingin melihat respon dari blogger disini semoga aja para dokter semua ( kecuali saya ), jika berkenan tampil dalam forum ini …. silahkan …. sumonggo …. ayooo bli …..

    Ato kalo takut, malu … kirim aja ke sini … lombok_brintik@yahoo.co.id
    Saya mewakili rakyat awam merasa bahagia bisa berdiskusi tentang kedokteran indonesia dengan para dewa sehat yaitu dokter-dokter yang budiman.

    Demikian, mohon maaf bila ada salah kata dan tidak ada unsur2 untuk memojokkan siapapun, ini hanya forum diskusi ….

    Terima kasih.
    LB

  17. ayu
    Posted August 5, 2008 at 9:23 pm | Permalink

    aku mau dong punya suami kaya anda,……susah dicari !! :oops:

  18. Kafi Shadeslayer
    Posted November 26, 2009 at 8:20 pm | Permalink

    Tunggu aja 10 taun lagi.
    ada namanya dr.Kafi yang jadi kebanggaan Bandung.

  19. Posted December 4, 2009 at 8:33 pm | Permalink

    @ ayu… beneran mau? hehehe
    @ all
    Menurut saya sih memang benar bhw tugas profesi dokter tuh tugas mulia. Ada almarhum dosen di fakultas kedokteran saya (saya sdr blm pernah ketemu beliau. Tapi tau dari cerita2 dosen2 yg lain, dan bahkan satu ruangan pertemuan di rumah sakit kami dinamakan dg nama beliau), dia menarik fee dg murah. Bahkan kadang tdk membayar malah dikasi ongkos pulang. Terharus sekali mendengar kisah ini. Hal ini dipertegas oleh seorang profesor spesialis bedah yg membimbing saya waktu koas. Beliau mengatakan : “Jangan membuat orang sakit tambah sakit! Profesi Dokter bukan untuk bisnis. Ini tugas mulia. Jangan kalian kira cari uang hanya dari bidang ini. Msh ada bidang lain yg bisa untuk menyokong hidupmu. Kalian bisa hidup dari sana. Dan profesi dokter untuk menolong orang lain yg membutuhkan”.

    Berhubung saya masih mahasiswa, jadi msh byk idealisme. Menurut dokter Andaka, apakah mungkin hal itu dilakukan? thx

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting