Anda tentu pernah mendengar tentang kisah David dan Goliath. Bagaimana seorang David yang bertubuh kecil dan tidak berbaju besi mampu menaklukkan Goliath, sosok tinggi besar berbaju besi lengkap dengan tombak, pedang dan perisainya. Iya, raksasa perang itu pun tumbang di tangan David yang hanya bersenjatakan umban dan batu. Sesungguhnya Goliath telah kalah sebelum batu umban David menghantamnya, yaitu saat ia lengah dan meremehkan lawannya. Malcolm Gladwell, dalam artikelnya yang berjudul “How David Beats Goliath“ menyebutkan “When underdogs choose not to play by Goliath’s rules, they win!“. Itulah salah satu kunci rahasia keberhasilan David.

Di era modern ini, banyak hal yang mencerminkan kisah David dan Goliath. Yang satu memiliki kuasa, yang satu tertindas. Media menyukainya, maka pemberitaan pun bergulir. Rasa keadilan masyarakat terusik, maka muncullah reaksi People Power, lalu David pun menang. Inilah yang saya maksud dengan “David vs Goliath Syndrome”.
Contoh paling nyata yang bisa kita lihat di Indonesia adalah ketika terjadi kontroversi goyang ngebor-nya Inul Daratista yang diprotes oleh si Raja Dangdut Rhoma Irama. Kecaman-kecaman dan larangan manggung ditujukan kepada Inul yang dalam hal ini berada pada posisi yang tertindas. Namun yang terjadi justru sebaliknya, panggilan manggung dan honor Inul pun semakin meningkat tajam dan hasilnya… kini dapat kita lihat Inul Vista tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, bukan Rhoma Vista!
Di tulisan saya sebelumnya yang berjudul “New Wave: The New Era of People Power“, menggambarkan masyarakat yang kini mudah sekali untuk mengekspresikan diri dan sikapnya. Bahkan kecenderungan untuk membela yang tertindas semakin besar tanpa mengetahui duduk persoalannya terlebih dahulu. Menurut saya ini adalah sisi negatif dari era New Wave.
Ini tentu berbahaya.
Akan bertambah bahaya bila hal ini lantas dimanfaatkan oleh Goliath untuk menempatkan dirinya di posisi David sehingga masyarakat terpancing untuk membelanya. Goliath memberikan dirinya seolah-olah ditindas terlebih dahulu karena tahu pada nantinya akan mendapatkan pembelaan dari masyarakat.
Mudah-mudahan ini tidak benar.
Mudah-mudahan masyarakat akan semakin jernih untuk melihat yang mana David dan yang mana Goliath… Semoga The New Era of People Power mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.
*Gambar di atas adalah sebuah lithograph karya Osmar Schindler (1869-1927): David und Goliath, 1888.





{ 15 comments… read them below or add one }
goliath yang mencintrakan dirinya sebagai david..?hmmm… jasa public relations bakalan kebanjiran order nih
salam
Teknologi yang ada memudahkan munculnya David David yang baru. Tapi ya itu… kita musti waspada jangan sampai terperangkap oleh Goliath yang mencitrakan diri sebagai David…
duh kalo goliath jadi di posisi david ya bahaya deh
Dunia politik memang sarat intrik, semua pelaku so pasti berlomba cari selamat. Susah membedakan mana yg benar-benar David or Goliath, apalagi spt kata Yoseps, kalau dia punya PR yang mahal bayarannya
.
di situlah kontrol dari masyarakat berperan. tidak serta merta men-judge seseorang, tapi paling tidak melihat situasinya dulu. tp boleh optimis sedikit, pendidikan politik masyarakat Indonesia sepertinya bagus ya…
perlu diingat juga bahwa media ikut berperan. dengan menonton/mendengar berita tertentu maka opini (baik itu benar atau salah) bisa terbentuk dan kemungkinan dianggap benar
sayangnya sekarang banyak media2 yang tidak obyektif lagi ya. lihat saja siapa yang punya media2 TV maupun suratkabar di Indonesia…
hmmm, menarik sekali.. kayaknya tidak sedikit contoh goliath yang menyamar jadi david, entah dengan apa alasannya.
politik emang sadis, yang salah bisa benar yang udah benar bisa disalahin
Reverse Psychology
.
Kalo udah punya mass communication team atau PR team yang keren maka bisa aja reverse psychology tersebut berhasil diterapkan
.
Wah bener… “Reverse Psychology”… Goliath jadi David, David seolah-olah jadi Goliath. Yang penting masyarakat tidak terpancing…
Posting keren dok….
pendek tapi padat…
Sebenarnya saya merasa masyarakat terlalu heboh akhir-akhir ini.
Padahal belum tentu permasalahannya simple seperti yang mereka pikir.
Ini salah itu benar atau Ini kasihan itu jahat.
Kalau menurutku sih, media yang sangat berperan disini,
Tidak transparannya sesuatu, bisa ditransparankan oleh media. tapi tidak dibumbui efek sinetron (dramatizing) dan tidak dipotong dan hanya diekspos pada hal-hal yang menarik saja untuk membuat efek yang diharapkan supaya rating naik.
Kalau efek ini dimanfaatkan goliath untuk menyamar jadi si kasihan, mereka tidak akan tahu dan ikut heboh karena imbas dari efek sebelumnya.
Memang perlu ada gerakan dari masyarakat, tapi bukan untuk sesuatu yang salah.
Iya Put. Seperti nonton sinetron ya… Hehe…
Btw, ada yang lucu dari sikap “curiga-mencurigai” antara Presiden SBY dengan pendemo anti-Korupsi. Menurut saya sih mereka sama-sama saling mencurigai… tapi sama2 ga ngaku. Hehe…
yah apapun nantinya, masy kini mudah digiring oleh media ….
dan media banyak memainkan peran dalam membentuk opini ….
so, medialah yg berperan dalam membentuk people power
Blog dan Facebook adalah media yang ngga boleh dianggap remeh. Dan setiap orang dengan mudah membuat blog atau mengambil peran di facebook. So… people power benar-benar memang milik masyarakat.
{ 3 trackbacks }