Citra Dokter Indonesia di Mata Blogger

Pada postingan saya yang berjudul “Dokter, Tolong Baca Blog Saya“, Adel sempat bertanya kenapa hanya kesan negatif tentang Dokter saja yang ditampilkan? Bukanlah suatu kebetulan jika saya hanya menampilkan kesan negatif tentang Dokter di postingan tersebut, namun kenyataannya saya belum menemukan blogger yang menulis kesan positif tentang Dokter. Bahkan tak lama berselang saya juga menemukan tulisan pak Agung pada blognya yang berjudul “Dokter Indonesia, Belajarlah Mental dari Dokter Australia“. Meski saya, dr. Ady Wirawan dan beberapa rekan lain sempat memberi masukan dari perspektif yang berbeda, namun saya jadi berfikir, seburuk itukah citra Dokter Indonesia di mata blogger?

Lalu kemarin saya mendapat komentar dari seorang pengunjung blog berinisial LP di postingan saya “Dokter Dua Ribu“. Beberapa point yang ingin disampaikan olehnya adalah sebagai berikut:

  1. Biaya Pendidikan Kedokteran yang mahal menjadi salah satu faktor dominan, dokter-dokter Indonesia hilang akal, hilang kendali, hilang nurani dan menjadi dokter matre ( baca “kecenderungan”), istilahnya buru-buru untuk balik modal.
  2. Saya mewakili para masyarakat awam melihat bahwa dokter-dokter sekarang ini matre. Kenapa ? Karena dari biaya konsultasi yang mahal tapi tidak diimbangi dengan kewajiban yang harusnya dijalankan dalam profesinya. Memberikan pelayanan yang baik, pasien dihargai, pasien didengar keluhannya, pasien dijelaskan + dan – mengenai pengobatan yang diambil, tidak adanya second opinion, pasien diberi kesempatan untuk bertanya, pasien diperlakukan secara manusiawi bukan seolah-olah bagaikan mesin yang tidak punya perasaan.
  3. Dari beberapa artikel kesehatan, diberitakan bahwa banyak pasien yang hijrah ke luar negeri untuk berobat karena mereka merasa terpuaskan oleh pelayanan dokter disana, pasien di indonesia takut mallpraktik.
  4. Apakah memang seperti itu kondisi dunia kedokteran Indonesia?
    Saya menduga, 90% adalah benar bahwa poin 1-3 diatas menjadi faktor yang melandasi keterpurukan dunia kesehatan Indonesia…

Terimakasih kepada pak LP atas komentarnya. Nah, melalui postingan ini dipersilakan bagi mereka yang ingin meluapkan uneg-uneg atau memberikan kesan-kesan tentang Dokter di Indonesia. Saya percaya tentunya tidak semua blogger memiliki pengalaman buruk tentang Dokter. Namun kenyataan masih susahnya menemukan tulisan positif tentang pengalaman ke Dokter merupakan PR tersendiri bagi kalangan kesehatan. Toh semua kesan negatif itu bisa diambil hikmahnya untuk lebih memacu kalangan kesehatan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada masyarakat.

Pendapat saya?
Pertama, saya ingin menyampaikan agar jangan menggeneralisasikan segala sesuatu, termasuk juga di dalam menarik sebuah kesimpulan tentang sesuatu tanpa adanya data-data yang mendasarinya. Meski itu sebuah “kecenderungan”.

Saya ingin berkomentar sedikit mengenai mahalnya tarif konsultasi atau pelayanan Dokter. “Mahal” itu relatif. Jika mengambil rata-rata jasa dokter umum antara Rp 20.000,- s/d Rp 30.000, apakah itu nilai yang besar? Mungkin tidak untuk sebagian orang. Apalagi bagi mereka yang perokok, yang dalam sehari bisa habis 4 bungkus. Tapi bayangkan bagi anak-anak jalanan yang tiap hari harus mengemis atau ngamen di pinggir jalan dan lampu merah. Bagi mereka uang segitu cukup untuk bertahan hidup 3-7 hari.

Dokter dan tenaga medis lainnya adalah sebuah pekerjaan yang besar resikonya. Menjaga “nyawa” orang lain adalah sebuah tanggung jawab moral yang luar biasa, bukan hanyak kepada sesama manusia dan hukum, tapi juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bukankah semua perbuatan kita di dunia ini harus kita pertanggungjawabkan kelak?

Resiko besar tersebut juga tidak terlepas dari nyawa dokter dan tenaga medis itu sendiri. HIV/AIDS, Flu burung, hepatitis dan masih banyak lagi deretan penyakit lain yang kiranya siap menghantui para Dokter ketika menjalankan tugasnya. Iya, kami tahu itu memang resiko yang sudah seharusnya kami tanggung didalam menjalankan profesi. Tapi pernahkah terpikir oleh anda? Coba bandingkan dengan resiko yang harus ditanggung oleh seorang tukang cukur di salon yang tarif potong rambutnya juga tak jauh beda dengan tarif dokter umum (bahkan lebih tinggi?).

Ada Begitu Banyak Pilihan!
Hingga April 2006, terdapat 52 Fakultas Kedokteran di Indonesia baik negeri maupun swasta. Bila dalam setahun masing-masing fakultas kedokteran melulusan 100 orang dokter baru (bahkan ada yang sampai 300 orang), dalam setahun Indonesia memiliki 5200 orang dokter baru! Dilihat dari sudut Pasien, maka sesungguhnya ada begitu banyak pilihan bagi Pasien dalam memilih dokternya. Sekedar contoh, kembali ke tukang cukur di atas, bila saat ini saya tidak puas terhadap layanan atau potongan dari tukang cukur A, maka berikutnya ketika hendak potong rambut, saya tentunya tidak memilih untuk datang ke tukang cukur A lagi. Bisa saja saya datang ke tukang cukur B, C, D bahkan Z (tentu saja saya tidak bermaksud menyamakan “kesehatan” dengan “rambut”, ini hanya perumpamaan semata). Dilihat dari sudut Dokter, tentunya hal ini seharusnya lebih memacu para Dokter untuk memberikan pelayanan yang lebih dan lebih baik lagi kepada Pasiennya bila ingin tetap menjadi pilihan bagi Pasien-pasiennya.

Memandang setiap manusia sebagai manusia menurut saya adalah suatu hal yang memang seharusnya dilakukan oleh semua orang. Bukan hanya oleh dokter kepada pasiennya, tapi begitu juga sebaliknya. Bukan hanya oleh Presiden kepada rakyatnya, tapi begitu juga sebaliknya. Bukan hanya oleh saya kepada tentangga saya, tapi begitu juga sebaliknya. Dokter dan dunia kesehatan selalu dituntut untuk sempurna, padahal Dokter juga manusia… makhluk yang penuh ketidaksempurnaan. Mudah-mudahan dengan saling menghargai satu sama lain tentunya hubungan antara dokter-pasien dapat menjadi lebih harmonis.

Be Positive, Be Healthy, Be Happy! :)

This entry was posted in Blog and tagged , , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

49 Comments

  1. Posted August 6, 2008 at 11:58 am | Permalink

    pertamax dulu,

    tapi kalau yang mall praktek gmana om, (praktek sambil blogging) **hehe**

    • Posted August 6, 2008 at 12:13 pm | Permalink

      Klo saya sih ngga mungkin praktek sambil blogging, berhubung di tempat saya praktek ngga ada internet. Maklum di pedalaman… ;)

      • Posted August 7, 2008 at 11:32 pm | Permalink

        mang lagi praktik dimana ded? btw winda baru balik dari mane neh? wah bener2 gak up to date nih beritanya :D

        • Posted August 8, 2008 at 11:17 am | Permalink

          di pupuan. winda baru balik dari Palembang. Tinggal tunggu wisuda dia…

  2. Posted August 6, 2008 at 1:31 pm | Permalink

    ya kembali lagi hukum relativitas berlaku… memang benar kita tidak boleh menyamakan semua dokter… pintar2 kita juga milih dokter, kecuali mungkin pada saat gawat darurat, kan tidak mungkin kita milih2 dokter di UGD, hehehehe

    • Posted August 7, 2008 at 2:37 pm | Permalink

      Kecuali waktu perjalanan ke UGD sudah janjian dulu dengan dokternya. Hehe…

  3. Posted August 6, 2008 at 6:01 pm | Permalink

    memang benar mas andaka.., disinilah kredibilitas seorang dokter di pertaruhkan dimata para pasien nya…, tapi kalo dokter cinta gimana mas :P

  4. Posted August 6, 2008 at 6:44 pm | Permalink

    Kita tidak bisa seperti itu, banyak kok dokter yang baik, yang dermawan, yang memberi pelayanan. Yang seperti ituaiknya kita sebut saja “Oknum” Kasihan dokter yag ada di pedalaman, daerah terpencil, daerah terisolir

    • Posted August 7, 2008 at 2:40 pm | Permalink

      Yah, mungkin sama ketika kita mendengar kata “Politisi”. Maka yang terbayang adalah orang-orang korup dan menghalalkan segala cara. Padahal ngga semua politisi kayak gitu kan?

  5. Wiryo
    Posted August 6, 2008 at 6:46 pm | Permalink

    Dokter Cinta?
    Rekomendasi obat yang diminum apa dong ? Aneh2 aja ….

    Kembali ke topik, fenomena dokter-pasien memang dilematis, dan masing-masing memiliki perspektif yang berbeda dan masing-masing juga memiliki alasan yang cukup masuk akal, tapi kembali ke dasar pemikiran bahwa “transaksi” ini adalah BISNIS KESEHATAN, artinya apa ? Ketika ada transaksi jual beli, dimana seorang dokter sebagai penjual dan pasien adalah pembeli, maka seorang penjual harus benar2 mampu menyediakan produk jasanya yang bermutu dan mampu memuaskan si pembeli, jika tidak demikian jangan pernah berharap produk yang dijualnya akan dilirik oleh pembeli.

    Jika ada yang bilang, dokter juga manusia, itu tidak salah dan 100% benar, kecuali dokter di era tahun 3000, mungkin dokter udah digantikan oleh robot … dan dokter sekarang udah beralih profesi menjadi pasien juga …. :) . Artinya apa: Alasan dokter juga manusia itu tidak bisa jadi alasan ketika si dokter udah berani membuka praktek atau menjual jasanya. Itu juga tidak bisa jadi alasan untuk menepis keterpurukan penilaian pasien terhadap dokter …

    Tapi saya ingin menempatkan pendapat saya dan berharap semua saja yang ingin berpendapat disini dalam koridor netral, artinya tidak saling menyalahkan, tapi yuk mari cari apa akar masalahnya, kita introspeksi masing-masing dan kita coba benahi dari diri sendiri dengan kemampuan kita masing2 …. tidak akan ada habisnya bukan kalo kita hanya nunggu orang lain bergerak dan menyalahkan orang lain. Pasti dunia akan indah dan biru, bila semua dalam porsinya … damai …..

    BTW dok andaka, sebenernya di dalam dunia pendidikan kedokteran, sejauhmana sih etika kedokteran itu dipelajari, dikupas tuntas … misal konsili kedokteran indonesia …. bagaimana implementasinya dan apa saja yang perlu dipahami oleh para dokter yunior dalam menjalankan misi mulianya …. jadi sebelum terjun tuh, semua calon dokter itu punya perlengkapan perang, skill komunikasi yang baik, kemampuan berempati yang baik, bukan hanya berbekal jubah putih aja.

    Begitu menurut saya, terima kasih.

    Wiryo Saputro
    Praktisi Komunikasi dan Pengamat Dunia Kesehatan.

    • Posted August 7, 2008 at 2:55 pm | Permalink

      Yang dijual oleh dokter adalah “jasa”. Dan saya setuju kalau “jasa” yang dijual itu haruslah yang bagus dan bermutu. Dan rasanya memang seharusnya begitu kan?

      Mengenai etika kedokteran, itu juga sudah menjadi mata kuliah ketika menjalani pendidikan pre-klinik. Kalau di FK Udayana Bali, masalah komunikasi pun diberikan diberikan ketika menjalani masa Pre Graduate Course (PGC). Apalagi masalah klinis, rasanya 6 tahun bukanlah waktu yang singkat. Nah, bila senjata sudah diberikan, namun yang menggunakan tidak mau. Siapa yang bisa disalahkan?

      Menurut saya, masalah seperti ini bukan berakar pada PROFESI. Tapi lebih ke PRIBADI seseorang. Idealnya sih semua dokter musti baik, ramah, empati… dan kalau boleh diperluas, bukan cuma dokter yang harus seperti itu. Bukankah jika semua orang begitu dunia akan jadi lebih baik?

      Mendapatkan suatu pelayanan yang baik adalah hak pasien. Karena itu, menurut saya adalah hak pasien untuk bertanya. Dan kewajiban dokter untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien. Rasanya saat ini tidak ada kok larangan pasien untuk bertanya. Malah saya sempat melihat di tembok praktek dokter dan apotek sebuah papan berisi tulisan “JIKA ADA YANG BERLUM DIMENGETI MENGENAI PENYAKIT ATAU PENGGUNAAN OBAT ANDA. SILAKAN TANYAKAN SAMPAI JELAS KE DOKTER ATAU PETUGAS APOTEK”. So, jangan takut bertanya kalau pergi ke dokter ;)

  6. Posted August 6, 2008 at 8:06 pm | Permalink

    memang mau g mau profesi ini rentan ma yg namanya malpraktek.karena berhubungan lgsg dng nyawa orang…bkn kambing!
    semakin besar resiko,semakin besar pula profitnya.itu kata org ekonomi..
    tapi d dunia dokter, semakin besar resiko, semakin besar pula penghargaan n pahala yg qta dpt..
    pasien akan sgt mudah berterimakasih kalo nyawanya selamat..
    dan
    pasien akan mudah pula untuk menuntut jika nyawanya terancam mati
    inilah variabel2 yg selalu melingkupi dokter..
    harder we try,harder we fall
    cuma 2 yg bs gw harap sekarang:
    payung hukum yg bs melindungi qta dr upaya kriminalisasi kedokteran
    dan
    profesionalisme kerja kita selaku dokter harus terus ditingkatkan..

    • Posted August 7, 2008 at 2:57 pm | Permalink

      Setuju dok, dan sebagai dokter… tentunya selalu mengusahakan yang terbaik kan? Itulah uniknya profesi dokter :)

  7. Posted August 6, 2008 at 8:35 pm | Permalink

    Tentang tarif dokter yang tinggi mungkin itu tergantung praktek dimana dan kembali kepada individu masing2 karena kebetulan dekat rumah saya ada seorang dokter perempuan yang setiap pagi dan sore jam prakteknya dibanjiri oleh pasien karena pengobatannya manjur dan biayanya yang relatif murah hanya 15,000 rupiah per satu pasien bahkan dibebaskan untuk yang tidak mampu.
    Tentang malpraktek memang saya pernah mempunyai kawan yang lumpuh akibat malpraktek. Kelumpuhannya akibat salah memberikan obat yang diketahui setelah mendapatkan diagnosa dari dokter di Singapore. Namun kawan saya tadi karena sudah trauma akibat kelumpuhannya tadi tidak mau memperpanjang kasus tersebut karena akan terus mengingatkan dia akan kelumpuhannya tersebut. Padahal pada saat masih sehat kawan saya ini adalah orang yang super sibuk. Namun beliau berhasil meneruskan karirnya dibidang pengajaran hingga mendapatkan gelar professorshipnya

    • Posted August 7, 2008 at 3:00 pm | Permalink

      Salut kepada kawan mas Jimmy yang tetap berjuang meski memiliki keterbatasan. Salam…

  8. Posted August 6, 2008 at 11:29 pm | Permalink

    pemberi layanan dg pelayanan yg baik = wajib dan wajar krn memang seharusnya demikian

    jika berobat ke dokter trus ngga sembuh, dokternya kena sumpah serapah
    kl berobat ke dukun ngga sembuh, ya risiko ..tp kok lbh bs diterima dibanding ‘ketidakmampuan’ dokter?
    ..pengharapan yg berlebih pd dokter? harapan dan janji dokter pada pasien berlebihan?

    • Posted August 7, 2008 at 3:03 pm | Permalink

      Mengharapkan kesempurnaan dari yang tidak sempurna dok. Oiya, mengenai janji dokter pada pasien, di film or novel gitu kok sering banget ya diceritain kalau dokter men-judge umur pasien tinggal sekian bulan atau tahun… :lol: Rasanya lucu aja. Jadi inget ada seorang pasien yang bertanya, “Dok, umur ibu saya tinggal berapa bulan lagi?”. Duh… Dalam hati *saya dokter, bukan peramal* :roll:

  9. Posted August 6, 2008 at 11:38 pm | Permalink

    menurut saya seorang dokter boleh saja memasang tarif tinggi asal kualitas layanannya juga sebanding.

    • Posted August 7, 2008 at 3:04 pm | Permalink

      banyak hal yang bisa dijadikan pertimbangan dokter mengenai tarif. Dan memang masalah “jasa” ini paling susah diukur…

  10. Posted August 6, 2008 at 11:46 pm | Permalink

    kualitas dokter memang sangat dipertaruhkan disini. terlepas dari biaya berobat yang mahal. seharusnya perguruan tinggi yang membuka fakultas kedokteran benar² selektif dalam memilih dan menyaring calon dokter. karena itu saya sangat tidak setuju dengan program ekstensi yang diberlakukan dibeberapa perguruan tinggi. asal bisa bayar mahal dan sedikit kemampuan bisa lolos. kasus malpraktek walaupun sering terjadi tapi saya rasa lebih banyak orang yang sembuh sakitnya karena berobat kedokter. ketika pasien sembuh ya sudah itu memang kewajiban dokter, tapi kalau tidak sembuh atau malah lebih parah, dokter dituntut habis²an. bingung juga :D

    nenek saya juga korban malpraktek salah minum obat resep dari dokter akhirnya meninggal. tapi saya tidak alergi pada dokter, malah kedua anak saya sekarang punya dokter anak pribadi yang sama padahal dokter anak ini sendiri belum punya anak. tapi karena kualitasnya, pasiennya banyak :D

    sukses buat dokter andaka, terus maju dan selalu tingkatkan kualitas diri. cayooo :)

    • Posted August 7, 2008 at 3:15 pm | Permalink

      Sudah biaya masuk mahal, kuliahnya lama, lulus kuliah bingung mau ngapain. Mau sekolah lagi perlu modal, kerja di klinik gaji ga cukup untuk hidup, kerjanya penuh tekanan… kok mau ya orang jadi dokter? :grin:

      Memang tak salah ada orang yang bilang milih dokter itu juga jodoh-jodohan…

  11. Posted August 7, 2008 at 8:32 am | Permalink

    di bandung ada lho dokter yang terkenal karena amalnya. biaya berobatnya murah, obat2nya murah juga, mau dari anak kecil sampai orang tua bisa dia sembuhkan, dan dia memang dokter saya dari saya masih kecil.. tempat prakteknya selalu penuh. sosok dokter yang sudah jarang ditemui di kota besar

    • Posted August 7, 2008 at 3:16 pm | Permalink

      Semoga makin banyak dokter-dokter yang seperti itu ya… mudah-mudahan saya bisa seperti itu. Hehe…

  12. LB
    Posted August 7, 2008 at 8:44 am | Permalink

    Saudara/i ….

    Ini sedikit referensi dari beberapa sumber yang saya koleksi ….
    1). Adanya kejadian-kejadian malpraktek : data Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) DKI Jakarta, terdapat 99 kasus pengaduan terhadap profesi dokter dari tahun 1998-2006 (8 tahun) (Sudiyatmo, 2007).
    2). Fenomena peningkatan wisatawan medis atau medical tourist yang berobat ke Singapura mencapai 200.000 orang per tahun dimana 50% pasien internasional yang berobat ke Singapura adalah warga Indonesia. (Sudiyatmo, 2007).

    Ada nga pendapat tentang ini ?

    LB

    • Posted August 7, 2008 at 3:23 pm | Permalink

      Terima kasih atas sumber-sumbernya pak Wiryo. Mudah2an kejadian-kejadian malpraktek tidak semakin bertambah. Mengenai banyaknya yang berobat ke luar negeri, menurut saya banyak faktor penyebabnya. Setiap orang berhak untuk memilih kemana dia berobat, apakah itu ke dukun, bidan, dokter, spesialis, atau ke luar negeri. Teknologi peralatan, penelitian obat-obatan… mungkin itu beberapa kelebihan di luar. Tapi itu juga tidak menjamin apa-apa yang dari luar negeri 100% benar lho… saya ada beberapa cerita mengenai hal ini. Oiya, tentu saja… perbedaan “harga” dokter luar dan dokter Indonesia juga beda ;)

    • Posted August 7, 2008 at 3:24 pm | Permalink

      Oiya, satu lagi… klo bisa mendapatkan data malpraktek di luar negeri mungkin akan bagus untuk dibandingkan. Hehe…

  13. LB
    Posted August 7, 2008 at 8:49 am | Permalink

    Kalo menurut pandangan saja bahwa :
    Pokok sengketa atau fenomena hubungan dokter-pasien adalah kelemahan komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah sakit dengan pasien
    1). Pasien merasa tetap tidak mengerti keadaannya karena dokter tidak menjelaskan mengenai penyakitnya, seberapa parah dan bagaimana antisipasinya.
    2). Pasien merasa bahwa dokter tidak memberikan kesempatan pasien untuk berbicara, menceritakan kondisi pasien, menjelaskan hal-hal yang dirasakan dan yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan kesembuhan.
    3). Pasien merasa tidak dipahami dan diperlakukan semata-mata sebagai objek dan bukan sebagai subjek yang memiliki organ tubuh yang sedang sakit.

    Semoga meramaikan wacana ini …

    LB Wiryo

    • Posted August 7, 2008 at 3:43 pm | Permalink

      Saya setuju kalau komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam hubungan dokter-pasien. Bahkan, salah satu “senjata” utama dokter adalah anamnesis, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dokter kepada pasiennya. Pertanyaan itu tentu saja ada yang bersifat terbuka dan tertutup. Dengan pertanyaan terbuka maka seorang dokter memberikan kesempatan kepada pasiennya untuk menceritakan tentang keluhan-keluhannya. Ada kalanya dokter harus mengajukan pertanyaan tertutup agar tidak terlalu melebar. Bahkan, dari anamnesis ini, 70% dari diagnosis dapat diarahkan.

      Sebelum memberikan pengobatan, dokter harus memberikan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) kepada pasiennya. Tujuannya untuk memberi tahu pasien tentang penyakit, pengobatan, atau hal-hal lain yang mungkin berhubungan. Di rumah sakit sering kita lihat seorang pasien atau keluarganya harus memberikan tanda tangan persetujuan tindakan. Tentu saja pasien boleh menolak atas rencana pengobatan yang akan diberikan, dan harus tanda tangan juga untuk penolakan tindakan.

      Kalau pasien belum mengerti tentang penjelasan dokter, salusinya ya… bertanya. Dokter bukan peramal yang bisa membaca wajah orang apakah dia mengerti atau tidak.

  14. Posted August 7, 2008 at 8:57 am | Permalink

    Heuheu…pada serius semua komentarnya :roll: Saya sih masih percaya, pasien yang dapat sembuh karena bantuan dokter lebih banyak daripada pasien yang celaka karena dokter. Saya lebih baik berbaik sangka kalau si dokter telah berusaha sebaik mungkin. Kalau hasilnya kurang memuaskan, saya lebih enak berfikir “mungkin belum jodo atau belum waktunya sembuh”. Dan mungkin berfikir untuk ganti dokter.

    Saya tidak bisa membayangkan kalau misalnya dalam sehari….saja semua dokter yang ada di Indonesia mogok kerja :shock:

    • Posted August 7, 2008 at 3:46 pm | Permalink

      Pernah kejadian tuh di India, yang mogok kerja mahasiswa kedokteran yang bertugas di rumah sakit. Dan itu ternyata cukup merepotkan pihak rumah sakit lho… btw, India juga termasuk luar negeri kan? ;)

  15. Posted August 7, 2008 at 9:53 am | Permalink

    yach istilahnya dokter juga manusia, selayaknya ahli komputer, kalo disuruh perbaiki kerusakan komputer yang berat, pasti segala cara dilakukan .. kalo gak berhasil ya rusak, kalo berhasil ya sembuh, kalo dah rusak beli alat baru, kalo udah bener2 parah ya gak bisa diapa2in :)

    • Posted August 7, 2008 at 3:48 pm | Permalink

      Setuju mas, kenyataannya dokter masih manusia dan belum digantikan oleh robot. Sayangnya, kalau yang rusak itu “nyawa” manusia, ngga bisa dibeli baru…

  16. Posted August 7, 2008 at 10:39 am | Permalink

    Di mata saya sih dokter itu antara hitam dan putih jadi abu-abu ajah deh… ada dokter yang memegang teguh sumpah dan jabatannya sebagai seorang dokter dan niat melayani sedangkan ada juga yang hanya mementingkan duit.. apalagi kalo jabatannya dah tinggi… mudah2an Mas Deddy masuk yang golongan Putih yah… hehehe

  17. Posted August 7, 2008 at 2:24 pm | Permalink

    Habis gimana ya, memang tdk semua dokter mau menyedikan lbh banyak waktu utk menenangkan pasien, mendengarkan keluhan, memberikan empati.

    Wkt saya hamil, kebetulan dr.spognya sabar, biarpun sy bolak balik nanya itu2 aja, dia tetep tenang. Sampe ada istilah yg sy tdk mengerti, saya tanya jg dia coba menerangkan dgn bahasa yg bs dimengerti org awam. Nah, temen sy justru dpt SpOg yang jutek. Wkt nanya2 seputar kehamilan istrinya, malah dokternya bilang “kan bisa baca-2 aja pak…”

    Dokter yg menenangkan jg ada tuh di Medan, udah senior bgd, dia guru besar USU, dr.amar singh. Sy inget bgd wkt pagi2 keleyengan berat krn pusing, sy datang k prakteknya yg sekaligus rumahnya & terkulai lemas di kursi panjangnya saking g tahannya. Si DOkter pas keluar baru turun dr lt.2 lgsg menyapa sy dgn lembut, lalu mempersilahkan saya masuk dulu utk tiduran, sementara dia mempesiapkan diri. Serasa berkurang 50% sakitnya langsung. Dr ini jg ga memaksa klo ada pasiennya yg g sanggup bayar. Sy lihat sendiri tuh ada pasien nenek2 yg cuma memberi dia beberapa ribu rupiah saja, pdhl obat2an dikasih lengkap.

    • Posted August 7, 2008 at 4:00 pm | Permalink

      Dari komentar di atas, terlihat kalau dualisme itu selalu ada ya…
      Lalu, apakah kita harus menyalahkan sistem atas “dualisme” ini?

      Sekarang pilihan ada di tangan masing2.

      Sebagai dokter, mau menjadi dokter yang dikenang baik di hati pasien atau menjadi dokter yang dikenang galak dan jutek?

      Sebagai pasien, mau berobat ke dokter yang baik atau ke yang galak?

      Sungguh banyak pertimbangan, bahkan “dualisme” bukan kata yang tepat. Mungkin lebih cocok ke “Multifaktor”.

      Ada yang bilang:
      - Ngga papa mahal, yang penting sembuh.
      - Dokternya ngga banyak omong, tapi dikasi obat langsung sembuh.
      - Kalau saya sih yang penting murah…
      - Saya bela-belain jauh-jauh dari kota ke sini karena sudah cocok dengan dokternya.

      Sekali lagi menurut saya, semua ini bukan berakar pada “PROFESI”, tapi kepada “PRIBADI”.

  18. Posted August 7, 2008 at 2:39 pm | Permalink

    tarifnya jangan mahal2 nanti kasian yang ga bisa bayar ….

    :wink:

  19. Posted August 7, 2008 at 11:01 pm | Permalink

    Kalo baca judulnya sich “citra dokter indonesia di mata blogger”, mustinya para dokter ngikutin jejaknya Dr. Andaka nich (baca= ngblog). Jadi title nya jadi dobol…Dr. Br. Andaka….. :smile: , bacanya Dokter Blogger….Salut..

    • Posted August 8, 2008 at 11:19 am | Permalink

      Banyak kok mas dokter-dokter yang ngeblog. Dari mahasiswa, dokter umum, spesialis, sampe profesor juga ngeblog… :razz:

  20. Posted August 8, 2008 at 9:57 pm | Permalink

    mari kita perbaiki bersama jika ada yang buruk dan salah dalam profesi apapun dengan kritik dan solusinya di tengah carut marut segala hal di Indonesia

  21. Posted August 10, 2008 at 7:26 pm | Permalink

    semoga komentar -komentar di atas mewakili semua lapsan masyarakat dalam emamndang dokter sebagai profesi yg profesional…..seperti bidang- bidang lainnya………

  22. Posted August 16, 2008 at 9:23 am | Permalink

    pak saya setuju bahwa kita ga bisa menggeneralisasi keadaan di indonesia.
    tapi ngusul agar dokter2 dan RS di indonesia selain hi-tech ditingkatkan juga tolong ditingkatkan juga hi-touch dengan pasien :grin:

    maju terus kedokteran indonesia

  23. Posted August 16, 2008 at 2:03 pm | Permalink

    sebelumnya dok, ditunggu nasehatnya ya biar jadi dokter yg baik,….

    hehehe.. dokter adalah sebuah profesi yang tidak menjanjikan utk kaya… mungkin dokter sudah merasakannnya, sudah biaya kuliah mahal, masuk susah, keluar juga susah, kerja penuh resiko (temen2 di klinik sudah kena hepatitis) dan lain sebagainya, itulah mengapa ayah saya selalu menasehati bhwa dokter itu susah dan menyuruh saya meluruskan niat.

    ok kembali ke maslah citra sebnernya saya setuju utk tidak mengeneralisir semua dokter adalah seperti itu, dengan adanya berbagai kurikulum baru dalam dunia pendidikan kedokteran indonesia sekarang ini saya kira kualitas dokter Indonesia akan lebih baik.

    tantangan ke depan bagi dokter adalah bagaimana mengedepankan kualitas dan pelayanan yg optimal bagi pasiennya. apalagi dengan meningkatnya kualitas pembiayaan kesehatan ke arah asuransi, itu akan membuat sistem pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

    oya satu lagi di luar sana, di klinik, rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan umum sudah bersiap orang2(provokator) yang siap mencarri-cari kesalahan dokter sekecil apapun utk dijadikan kasus mal praktek oleh sebab itu selain dengan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, dokter masa sekarang juga dituntut untuk mendalami masalah hukum. walopun setahu saya dokter tidak bisa menuntut balik jika terbukti tidak bersalah… oh dokter… riwayatmu kini…. (adilkah bagi dokter)

    oya utk berobat luar negeri kalo mau diteliti orang indonesia yang berobat ke luar negeri presentasinya akan lebih tinggi berobat keluar negeri karena mengejar gengsi (masyarakat indonesia konsumtif dan cenderung hedonisme) daripada yg memang tidak ada fasilitas kesehatannya di indonesia

    kemudian juga kualitas pasien di luar negeri juga beda om ma kualitas pasien di Indonesia, jadi ya sama-samalah… tidak usah menjelekkan kualitas dokter indonesia… hehehe

  24. Posted October 4, 2008 at 11:05 pm | Permalink

    Sekadar mengingat arti dari berita (news). Anjing menggigit orang bukan berita tetapi sebaliknya akan menjadi berita. Dokter baik bukan berita karena begitulah seharusnya tetapi sebaliknya berita. Saya pribadi pernah mengalami ketika di beberapa koran dan TV saya mengatakan bahwa sang dokter ybs melakukan malpraktek. Saya diundang menjadi narasumber di Metro TV. Ketika pada kasus itu saya mengatakan bahwa sayapun akan melakukan yang dikerjakan oleh dokter ybs dan karena itu tidak ada malpraktek undangan menjadi narasumber lenyap di semua TV.

  25. Posted October 24, 2008 at 9:21 am | Permalink

    :razz: Selamat hari Dokter Indonesia 24 Oktober 2008. Semoga menjadi dokter yang memiliki sikap profesionalisme cukup indonesia banget. artinya tidak harus memandang setiap keapal pasien adalah uang, Sekali lagi selamat hari Dokter Nasional ya…..:razz:

  26. edenia
    Posted April 24, 2009 at 5:57 pm | Permalink

    saya teringat dengan tokoh dokter sartika di sinetron era 80-an yg dibintangi oleh dewi yull. pesan dan citra pengabdiannya sebagai dokter kental banget. apa masih ada ya, yang begitu? (tentu, meskipun bisa dihitung mungkin..)

    rasanya semua memang berpulang pada visi pribadi dari masing-masing dokter (calon dokter). di dua rumah sakit swasta di jakarta : satu di bilangan pasar rebo, satu di cawang, saya dan keluarga justru punya pengalaman buruk terhadap para dokternya waktu menangani ayah saya yang terserang stroke. hampir tidak saya temui dokter dengan karakter yang kuat yang membuat saya & kel nyaman dan percaya bahwa ayah saya akan baik-baik saja di tangan mereka.

    tapi UNTUNGNYA, kekecewaan saya sedikit terkikis karena ada satu dokter di antara sekian dokter, yang saya anggap sebagai dokter yang “bener-bener dokter” dan mumpuni. beliau–satu diantara sekian ini– punya visi pribadi yang bagus (saya sempat berbincang2 secara pribadi dgn dokter mumpuni ini), bahkan beliau juga punya sisi/sentuhan spiritualitas yang kuat yg membuat saya berpikir, “pantes saja pelayanan/pekerjaannya sbg dokter diberkati.” :) bahkan dokter ini tidak bersedia dibayar, kecuali kami hanya perlu membayar biaya operasinya saja. wah…

    untuk dapatin dokter terbaik, rasanya memang perlu doa-doa dulu..
    kidding (!) but itz true (!) :D

  27. sastro
    Posted September 5, 2009 at 2:56 pm | Permalink

    setuju!!!! hargai usaha dokter!! jangan cuma mengkritik, tp hargai juga usaha orang lain… kadang kita hanya bisa bercuap melihat sisi negatif dari sesuatu tanpa melihat sisi positif lain yang dihasilkan yang jauh lebih besar… cobalah berpikir, tanpa dokter, berjuta-juta orang sudah mati saat ini juga…

One Trackback

  1. By Dokter yang Baik, Seperti Apa? « assalamualaikum on February 11, 2010 at 10:40 pm

    [...] dari tulisan-tulisan saya tentang “Dokter, Tolong Baca Blog Saya“, “Dokter Dua Ribu” dan “Citra Dokter Indonesia di Mata Blogger” adalah pada sebuah pertanyaan, “Seperti apakah Dokter yang baik itu?“. Mungkin mudah saja [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting