Minggu lalu, ketika saya ke Makassar saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan salah seorang blogger Makassar, daeng Achmad Sulfikar di Kafe Bloggers. Meski baru pertama kali bertemu langsung, tapi rasanya sudah kenal lama. Maklum, saya sudah terbiasa membaca tulisan-tulisan blognya dan sempat beberapa kali kontak via Facebook.
Obrolan dimulai dari seputar pekerjaan, keluarga sampai tentang idealisme dan meterialisme blog. Hal ini terkait dengan tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Menipu Pengunjung dengan Auto Content“.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa ada sebuah garis imajiner yang membatasi antara idealisme dan materialisme. Di satu sisi, untuk dapat memoneytize blog, kita dituntut untuk dapat mendatangkan traffic sebanyak-banyaknya, pagerank setinggi-tingginya, atau alexa rank serendah-rendahnya. Tentu saja hal tersebut tidaklah mudah. Dan akan menjadi sebuah “godaan yang menggiurkan” ketika didalam kesulitan tersebut ada tawaran solusi yang instant. Sebuah shortcut. Jalan pintas yang dapat memudahkan jalan-jalan terjal menuju puncak. Meski harus mengorbankan sisi idealisme kita sebagai seorang blogger.
Didi Suprapta pernah menulis, “Idealisme kadang mengesampingkan materialisme.” Benar, dan perlu ditambahkan: Materialisme juga dapat mengesampingkan idealisme.
Auto Content bisa jadi “cara instant” untuk mendatangkan traffic ke blog Anda. Tapi bukan pengunjung. Mungkin materialisme saya masih terbalut sedikit idealisme. Ketika saya mencoba sesuatu, yang meski menguntungkan saya, namun merugikan orang lain, saya tidak akan melanjutkannya.
Sebuah dilema yang kontras antara idealisme dan materialisme ada pada profesi dokter. Di satu sisi, dokter memberi pertolongan kepada orang lain, berusaha menyembuhkan orang yang sakit. Namun di sisi lain ada sebuah “biaya” atas jasa yang dokter berikan. Bisa tidak membayangkan bagaimana rasanya menarik bayaran dari orang sakit? Untuk yang satu ini saya sepakat dengan apa yang pernah disampaikan dr. Hariyasa Sanjaya, Sp.OG dimana dokter hendaknya memberikan yang terbaik, maka “biaya jasa” tersebut akan menjadi hak yang sepatutnya diterima dokter. Pasien tidak dipandang sebagai obyek yang mendatangkan materi, namun lebih penting adalah sebuah kewajiban untuk memberikan pelayanan yang terbaik yang harus dijalankan.
Ada kewajiban, ada hak.
Dari hal tersebut saya menarik kesimpulan, sebenarnya idealisme dan materialisme bisa kok hidup berdampingan, termasuk dalam dunia blog. Berikan yang terbaik untuk pengunjung, tulisan yang memang menyediakan apa yang ada menjadi ada (bukan yang tidak ada seolah-olah ada), maka nanti hasil yang Anda dapat dari memoneytize blog Anda akan menjadi hak yang sepatutnya Anda terima.
Saya dokter, sekaligus blogger. Bisa membayangkan dilema saya?





{ 32 comments… read them below or add one }
Mungkin sebuah idealisme-pun sebenarnya sebentuk materialisme tersendiri…
pertemuan dua wali blogger bali dan makassar tentu amat asyik di pesantren kafe lagi, saya berharap dipertemukan dengan anda dokter Andaka dengan secangkir kopi bali yang khas. Idealnya dengan begini kita sudah ketemuan cuma perlu (atau tidak perlu) pembuktian materialnya, kedua hal ini tidak harus dipilih satu, jika dipilih semuanya tinggal prioritas mana yang didahulukan, bungkus mana isi tinggal dipasangkan sesuai bingkai. Padanan soft atau hardware apakah sesuai dg bandingan idealisme dan materialisme/pragmatisme
warisan kebaikan pendahulu yg kita terima sekarang begitu banyak yang terabaikan, maka perlu orang – orang yang meng-ageni atau sub-agen waris itu, anda satu diantara mereka kita harus akui yang begini ini dalam pendapat saya adalah idealisme, jangan takut merana hanya karena memilih ini
Obrolan saya waktu itu juga ditemani oleh
Mudah2an suatu saat bisa ngobrol2 juga dengan anda.
secangkirsegelas kopi. “Coffee and blog” memang pasangan yang serasiMemang saat ini warisan kebaikan pendahulu begitu banyak yang terabaikan. Padahal banyak mengandung nilai-nilai etika yang masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini.
Iya, saya tidak takut ketika cenderung harus berjalan di sisi idealisme. Dan ketika saya ingin berpaling, tolong diingatkan ya…
Mungkin jalan keluarnya: Cari sponsorship buat andaka.com Ded? Hiehehehhe.
Kalau dari segi dokter, kalau kamu memang wiraswasta… kira2 gimana?Extorting duit dari orang sakit memang agak sentimentil, tapi yaa…. mau bagaimana lagi. Kalau memang gak tegaan, memang lebih cocok jadi dokter sukarelawan saja sih ya?
Lagi lagi… sponsorship
Untuk andaka.com sudah ada sponsorship-nya kok. Lumayan pula…
Malah di andaka.com aku ingin menunjukkan kalau idealisme dan materialisme bisa berjalan berdampingan
Seorang Dokter & Seorang Blogger…
wah… parpaduan yg luar biasa kang… , pasiennya di ajak ngeblog juga donk pak…
Sekarang sudah tidak asing lagi kita menemukan “Dokter sekaligus Blogger”, mas
Ngajakin pasien untuk ngeblog? Wah, menurut saya itikad ngeblog musti muncul dari diri sendiri.
Ehmm menjadi dilema bagi yg mementingkan “money” juga..
suka banget dengan perkataan pak dokter ” kewajiban memberikan pelayanan sebaik2nya..”… krn kalo pelayanan sudah baik pasti pendapatan juga akan membaik
serve first and money comes…
salam kenal pak dokter
Salam kenal juga,
Iya, saya pikir itu bisa menjadi “jalan tengah” yang menghubungkan antara idealisme dan materialisme. Memang tidak semua hal bisa diselesaikan dengan materi, namun nyatanya masih banyak hal yang bisa diselesaikan dengan materi
Dalam dunia blog, saya bukan idealis tapi juga ndak materialis. Tapi saya setuju dengan alenia terakhir sebelum kalimat penutup tulisan ini. Bahkan yang dianggap berbeda banget pun bisa saling mendukung kalau bisa diselaraskan. Nah, menyelaraskannya itulah yang paling susah. Hehe..
Kalau suatu saat ada posisi itu berarti sudah tahu solusinya ya bli?
Saya kurang paham maksudnya dilema di sini antara menjadi dokter dengan blogger. Karena itu dua profesi yang berbeda core-nya mustinya tidak ada istilah materialisme mengenyampingkan idealisme. Kecuali bila kita menulis ttg hal yg berhub dgn profesi kita dan kemudian mendapatkan sedikiy “tanda terima kasih” itu wajar saja. Jd idealisme tetap jalan seiring materi
.
Uhmm… maksudnya blogger dan dokter bisa sama2 berada dalam ancaman “materialisme mengenyampingkan idealisme”
iya juga ya, selama ini gak pernah terpikir kalo dokter itu selalu berada dalam dilema, mau menolong tapi ada ‘pamrih’ nya.
sebenarnya hal ini juga sudah dibahas pada KODEKI (Kode Etik Kedokteran) :
jadi kalau pada awalnya memang untuk “making money” boleh mengesampingkan idealisme ya? hmm…
Mungkin diselaraskan aja antara making money ama idealismenya,
Hmm…, sepertinya komentar saya sebelumnya tertangkap spam ya…? Ha ha… tapi saya ngomongin apa ya kemarin
Yah…, kembalikan pada masing-masing individu saja
Barusan saya cek, beneran masuk spam. Kok bisa ya?
Nah, sekarang sudah ditandai “not spam”.
Luar biasa bahasannya dok, terkadang dilema seperti demikian pun muncul di dunia nyata. Bisa kita lihat bagaimana peran “kemitraan” antara dokter dengan pihak farmasi, bagaikan buah simalakama bukan? Kita ngeresepin obat yang memang pasien butuhkan, tapi di pihak lain kita dikira “sengaja” mengambil keuntungan dari itu, padahal itu hanya sekedar implikasi saja (menurut saya, toh win-win solution), tapi orang di luar lingkaran itu, who cares?
Bagi saya, yang penting lakukan saja apa yang memang kita mesti lakukan sesuai kode etik profesi dan nurani, jika bersamaan dengan itu kita bisa dapat lebih, mengapa harus kita tolak? bukankah Tuhan akan memberi rezeki lebih buat hamba-Nya yang selalu berjalan sesuai rel-Nya?
halah…malah ceramah plus curhat…heehehe…
Sebenarx ada hal yg perlu diperjelas disini. Apa sih materialisme itu? Kita kadang tdk memahami tindakan org apakah di motivasi oleh sifat materialisme atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sy pikir jalan idealnya adalah tdk masalah apakah kita “matre” atau tdk tetapi apakah kt merugikan org lain atau tdk.
Keduanya memang tidak mungkin dipisahkan, saling mengisi. Dengan Idealisme mengisi blog, jika artikel blognya bagus, pengunjung ramai dan layak dijadikan kebun kecil, dari hasil ini bisa untuk memberi makan blog (bayar hosting dll ).
tujuan akhir dr blog itu kan biar rame kan
Akhirnya lagi2 money bukan? Hehe
akhirnya masalah duit lg kan?hehe
menurutkuw semua kembali ke diri pribadi pemilik blog, mas
ada apa dibalik semua itu karena semua ada tujuan, apakah berorientasi pd uang atau idealisme….
yg penting dinikmati ajah kebersamaan dan persahabatan yg ada serta manfaat yg kita rasakan dari kegiatan blog itu…..hehehe
yah semua punya dua sisi, paling baik berjalan bersamaan
tergantung dari pribadi bloggernya
Blogger Kolumnis, sebutan saya untuk blogger idealis, sepertinya tidak banyak di dunia maya. Kalaupun ada yang bilang banyak, rasanya tetap tidak sebanyak blogger yang memang ngeblog untuk materi, Mas. Atau, tetap tak sebanyak blogger yang berdiri di tengah-tengahnya, memadukan idealisme dengan materialisme seperti yang Mas Deddy bilang.
Dan Mas Deddy di blog ini adalah salah satu contoh dari sekian blogger yang nggak banyak tersebut. He…He…..
Dilema dokter dan blogger ternyata hampir sama, hehe. Saya setuju dengan anda dok, berikan yang terbaik dulu, maka hasil terbaik akan datang pada kita. Dan kewajiban selalu didahulukan setelah itu kita boleh mendapatkan hak.
Can any one let know me that is there any on the internet classes for SEO, because I want to learn more regarding Search engine optimization.